Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
For
You

Kaspersky: Ancaman Deepfake Kian Meresahkan pada 2026

Seseorang sedang memegang tablet yang menampilkan proses pemindaian wajah untuk mendeteksi deepfake
Ilustrasi teknologi Deepfake dan proses verifikasi keaslian wajah digital. (Sumber: Dok. Pribadi / Generated AI)
Intinya sih...
  • Ancaman deepfake akan terus berkembang.
  • Meningkatnya kualitas deepfake akan kian memudahkan pengguna non-ahli membuat konten.
  • AI mampu menghasilkan email pengelabuan (phishing) yang tersusun sangat rapi.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE - Teknologi kecerdasan buatan (AI) diprediksi akan mengubah ekosistem keamanan siber global pada 2026. Pakar dari Kaspersky memaparkan AI akan menciptakan tantangan baru yang signifikan, terutama melalui penggunaan deepfake yang kian canggih dalam menyasar pengguna individu maupun korporasi.

Ancaman deepfake pada 2026 diperkirakan akan berevolusi menjadi alat serangan yang lebih tertarget. Meski teknologi pertukaran wajah dan suara secara waktu nyata (real-time) masih membutuhkan keterampilan teknis tingkat lanjut, risiko manipulasi dalam skenario tertentu akan meningkat tajam.

“Adopsi secara luas tidak mungkin terjadi, tapi risiko dalam skenario yang ditargetkan akan meningkat. Peningkatan realisme serta kemampuan memanipulasi video melalui kamera virtual membuat serangan semacam ini semakin meyakinkan,” ujar Vladislav Tushkanov, Manajer Grup Pengembangan Riset di Kaspersky, Senin (12/1).

Kemajuan teknologi audio dan kehadiran alat pembuatan konten yang mudah digunakan telah memungkinkan pengguna non-ahli membuat deepfake berkualitas menengah hanya dalam hitungan detik.

Fenomena ini memicu peningkatan kualitas rata-rata konten sintetis di ruang publik sekaligus memperluas akses bagi pelaku kejahatan siber untuk melancarkan aksinya.

Seiring bertambahnya volume konten palsu, tingkat kesadaran organisasi pun mulai meningkat. Banyak perusahaan kini mulai memasukkan risiko konten sintetis ke dalam agenda keamanan sibernya.

Pendekatan yang lebih sistematis, termasuk pelatihan karyawan dan pembentukan kebijakan internal, menjadi kunci utama bagi organisasi mengurangi potensi kerugian.

Salah satu poin paling menentukan bagi dunia bisnis pada 2026 adalah semakin kaburnya batas antara konten AI yang sah dengan konten palsu. Saat ini, AI mampu menghasilkan email pengelabuan (phishing) yang tersusun sangat rapi hingga identitas visual yang meyakinkan.

Di sisi lain, merek-merek besar dunia mulai mengadopsi materi sintetis dalam kampanye periklanannya. Kondisi ini membuat konten berbasis AI terlihat kian familier di mata publik, sehingga menyulitkan manusia maupun sistem deteksi otomatis untuk membedakan antara konten promosi asli dan upaya penipuan.

Menurut Tushkanov, AI berperan sebagai senjata dua arah dalam dunia keamanan.

"Penyerang memanfaatkannya untuk mengotomatiskan serangan dan menciptakan konten palsu yang sangat meyakinkan. Di sisi lain, pihak pertahanan menggunakan AI untuk mendeteksi ancaman serta mengambil keputusan dengan lebih cepat dan cerdas," katanya.

Share
Topics
Editorial Team
Bonardo Maulana
EditorBonardo Maulana
Follow Us

Latest in Tech

See More

Diversifikasi Pendapatan, inDrive Jajaki Iklan dan Pengiriman Groceries

12 Jan 2026, 17:47 WIBTech