Jakarta, FORTUNE – Krisis pasokan chip memori yang dipicu lonjakan kebutuhan infrastruktur kecerdasan buatan (AI) mulai menekan produsen perangkat elektronik global. Apple, salah satu perusahaan dengan daya tawar terbesar dalam rantai pasok teknologi, juga dilaporkan kesulitan mendapatkan pasokan memori untuk perangkat generasi berikutnya.
Melansir Computerworld, Apple bersama mitra manufakturnya masih berupaya mengamankan pasokan chip memori yang cukup untuk seri iPhone 18 Pro. Perusahaan disebut optimistis dapat memenuhi permintaan awal saat perangkat tersebut diluncurkan. Namun, Apple menghadapi risiko waktu tunggu yang lebih panjang jika persediaan di tingkat ritel cepat habis.
Kendala pasokan itu juga berkaitan dengan proses produksi chip terbaru Apple. Prosesor A20 akan dikemas bersama memori menggunakan proses baru dari Taiwan Semiconductor Manufacturing Co. (TSMC). Kondisi tersebut membuat sejumlah prosesor disebut sudah tersedia, sementara proses pengemasannya masih menunggu ketersediaan chip memori yang memadai.
Masalah pasokan tidak hanya berpotensi menghambat produksi iPhone. Computerworld juga mencatat laporan mengenai keterlambatan pengiriman sejumlah komputer Mac. Bloomberg sebelumnya melaporkan bahwa beberapa pesanan Mac baru bahkan baru dapat diterima pelanggan pada September.
Kesulitan yang dihadapi Apple tersebut menunjukkan tekanan pasokan yang lebih luas di industri perangkat elektronik. Sebagai salah satu pembeli komponen teknologi terbesar, tingginya kebutuhan Apple membuat gangguan pasokan yang dialaminya berpotensi menjadi sinyal bahwa produsen teknologi lainnya juga akan menghadapi tekanan serupa.
Pada Februari 2026, Gartner telah memperingatkan bahwa kenaikan biaya memori dapat menekan pengiriman komputer dan ponsel pintar global. Lembaga riset tersebut memproyeksikan pengiriman komputer turun 10,4 persen dan ponsel pintar merosot 8,4 persen pada 2026.
Ranjit Atwal, Direktur Analis Senior Gartner, saat itu mengatakan kenaikan harga komponen dapat mengubah pola pembelian perangkat.
“Ini merupakan kontraksi pengiriman perangkat paling tajam yang terjadi dalam lebih dari satu dekade. Harga yang lebih tinggi akan mempersempit pilihan perangkat yang tersedia, mendorong konsumen menggunakan perangkat mereka lebih lama, dan pada akhirnya mengubah pola pergantian perangkat secara mendasar," ujar Ranjit
Gartner juga memperkirakan harga gabungan memori dan penyimpanan solid-state dapat melonjak 130 persen hingga akhir 2026, yang kemudian berpotensi mendorong kenaikan harga perangkat.
Data terbaru dari sejumlah lembaga riset seperti IDC, Gartner, Counterpoint, dan Omdia memang menunjukkan penurunan pasar komputer global pada 2026, meski estimasinya berada di kisaran 4 persen. Kondisi tersebut menunjukkan tekanan terhadap industri tidak lagi hanya berasal dari harga, tetapi mulai merambah ketersediaan komponen.
