Laba Samsung Diprediksi Melonjak Imbas Kenaikan Tajam Harga Cip

- Proyeksi laba operasional pada kuartal IV-2025 naik 160 persen.
- Kenaikan harga cip memori mendorong lonjakan permintaan dan laba.
- Sisi lain, divisi smartphone Samsung menghadapi tekanan margin keuntungan.
Jakarta, FORTUNE - Samsung Electronics diperkirakan akan membukukan kenaikan laba operasional pada kuartal IV-2025 sebesar 160 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Proyeksi ini didorong oleh kekurangan pasokan cip dan lonjakan permintaan untuk perangkat memori akibat ledakan aplikasi teknologi kecerdasan buatan (AI).
Perusahaan kemungkinan akan memperkirakan laba operasional sekitar 16,9 triliun won (sekitar US$11,8 miliar) untuk periode Oktober-Desember, menurut estimasi analis, dilansir dari Reuters.
Angka ini jauh lebih tinggi ketimbang 6,49 triliun won pada periode sama tahun sebelumnya, dan menjadi yang tertinggi sejak kuartal III-2018.
Menurut Korea Herald, Samsung dijadwalkan akan merilis laporan pendapatan sementara untuk periode Oktober hingga Desember 2025 pada minggu ini.
Beberapa analis bahkan memperkirakan laba sebenarnya dapat melampaui 20 triliun won karena kenaikan harga cip yang tidak terduga.
Permintaan tinggi terhadap teknologi kecerdasan buatan telah mempersempit pasokan cip memori tradisional, yang mendorong harga mengalami kenaikan drastis.
Trendforce melaporkan harga cip DDR5 dynamic random-access memory (DRAM) meningkat 314 persen pada kuartal IV tahun lalu dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Sementara itu, harga DRAM konvensional diproyeksi naik 55-60 persen, dan akan memberikan keuntungan bagi Samsung yang memiliki banyak produksi DRAM konvensional.
Sebagai salah satu pembuat cip memori, perusahaan itu mendapat keuntungan lebih besar dibandingkan dengan beberapa pesaingnya karena kapasitas produksinya yang kuat pada segmen tersebut. Hal ini menyebabkan Samsung mendapatkan keuntungan dari siklus kenaikan harga yang sedang berlangsung.
Meski bisnis cip melonjak, divisi smartphone Samsung menghadapi tekanan margin keuntungan karena semakin tingginya biaya komponen.
Menurut Counterpoint Research, Samsung merebut kembali posisi teratas di pasar memori global pada kuartal III-2025 dengan pendapatan memori US$19,4 miliar, didukung oleh permintaan yang kuat untuk DRAM dan NAND konvensional.
Namun, pangsa pendapatan tahunan DRAM Samsung turun dari 40 persen menjadi 33 persen.


















