Jakarta, FORTUNE — Sebanyak 95 persen organisasi di Indonesia mengalami insiden siber berdampak signifikan terhadap operasional bisnis mereka dalam 12 bulan terakhir, di mana lebih dari separuh insiden tersebut melibatkan serangan yang diperkuat kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Hal itu terungkap dalam laporan terbaru Cisco bertajuk Relentless Defense Report yang dirilis pada 14 Oktober 2026. Laporan itu menyebutkan, peningkatan kemampuan serangan berbasis AI belum sepenuhnya diimbangi kesiapan organisasi dalam merespons ancaman. Hambatan tidak hanya berasal dari teknologi, tetapi juga koordinasi antartim, proses persetujuan yang panjang, dan keterbatasan akses terhadap data.
Di Indonesia, skor rata-rata pertahanan siber perusahaan mencapai 72 dari 100. Cisco juga mencatat 29 persen organisasi atau perusahaan di Tanah Air masuk kategori Relentless Defenders, kelompok dengan kinerja pertahanan siber terbaik menurut metodologi laporan tersebut. Angka ini lebih tinggi dibandingkan proporsi global sebesar 8 persen.
Namun, tingginya proporsi organisasi berkinerja terbaik itu tidak serta merta menghilangkan persoalan operasional. Hanya 63 persen organisasi di Indonesia menyatakan tim keamanan siber, jaringan, dan teknologi informasi (TI) telah bekerja sebagai satu kesatuan dengan visibilitas dan perangkat yang sama.
Sementara itu, 38 persen organisasi menghabiskan lebih banyak waktu untuk mengumpulkan dan menghubungkan data dari berbagai sistem ketimbang menangani ancaman. Sebanyak 46 persen responden juga mengaku kehilangan wawasan penting karena data yang dibutuhkan tidak dapat mereka akses.
Kendala tersebut berpotensi memperpanjang waktu respons ketika pelaku serangan menggunakan AI untuk meningkatkan kecepatan dan skala operasi. Dalam demikian, efektivitas pertahanan tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan perangkat keamanan, tetapi juga kemampuan perusahaan mengambil keputusan dan mengoordinasikan tindakan secara cepat.
Managing Director Cisco Indonesia, Cin Cin Go mengatakan, AI secara fundamental telah meningkatkan risiko dalam pertahanan siber. Kecepatan pertahanan didorong oleh kelincahan operasional, tidak hanya teknologi.
“Organisasi yang unggul adalah mereka yang mengintegrasikan keamanan ke dalam operasional dan memperlakukannya lebih dari sekadar formalitas compliance, serta meruntuhkan silo-silo operasional sehingga orang yang tepat dapat mengambil keputusan yang tepat di waktu yang tepat,” katanya dalam keterangan tertulis, Selasa (20/10).
