Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Studi Cisco: Lebih dari 50% Serangan Siber di Indonesia Manfaatkan AI
Cisco perluas fokus bisnis ke platfom infrastruktur AI.
  • Serangan siber yang diperkuat AI menjadi bagian dari lebih separuh insiden berdampak signifikan terhadap organisasi di Indonesia dalam 12 bulan terakhir.

  • Kesiapan pertahanan siber masih terkendala koordinasi antartim, akses data, dan proses persetujuan yang panjang.

  • Organisasi dengan pertahanan terbaik lebih konsisten dalam koordinasi tim, pengendalian agen AI, dan deteksi ancaman.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
12 bulan terakhir

Sebanyak 95 persen organisasi di Indonesia mengalami insiden siber berdampak signifikan terhadap operasional bisnis. Lebih dari separuh insiden tersebut melibatkan serangan yang diperkuat AI.

14 Oktober 2026

Cisco merilis laporan Relentless Defense Report yang memuat kondisi pertahanan siber organisasi di Indonesia dan global.

Selasa (20/10)

Cin Cin Go menyampaikan bahwa AI telah meningkatkan risiko dalam pertahanan siber dan kecepatan pertahanan didorong oleh kelincahan operasional.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Lebih dari separuh insiden siber berdampak signifikan terhadap organisasi di Indonesia melibatkan serangan yang diperkuat AI.
  • Who?
    Organisasi di Indonesia, Cisco, dan Managing Director Cisco Indonesia Cin Cin Go.
  • Where?
    Indonesia, berdasarkan laporan Cisco tentang pertahanan siber organisasi.
  • When?
    Dalam 12 bulan terakhir; laporan Cisco dirilis pada 14 Oktober 2026.
  • Why?
    Peningkatan kemampuan serangan berbasis AI belum sepenuhnya diimbangi kesiapan organisasi dalam merespons ancaman.
  • How?
    Serangan menggunakan AI untuk meningkatkan kecepatan dan skala operasi, sementara respons organisasi terkendala koordinasi, akses data, dan proses persetujuan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Dalam 12 bulan terakhir, banyak organisasi di Indonesia terkena masalah siber. Lebih dari setengah masalah itu memakai bantuan AI. Cisco menemukan hal ini dalam sebuah laporan. Tim keamanan, jaringan, dan TI belum selalu bekerja bersama. Sebagian organisasi sudah memakai AI untuk mendeteksi bahaya, tetapi sebagian lainnya masih khawatir soal data dan sistem.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Laporan Cisco menunjukkan sebagian organisasi di Indonesia telah membangun pertahanan siber yang kuat. Sebanyak 29 persen masuk kategori Relentless Defenders, lebih tinggi daripada proporsi global. Penerapan AI juga membantu meningkatkan kemampuan deteksi dan respons, sementara kelompok berkinerja terbaik mencatat koordinasi serta pengendalian agen AI yang lebih konsisten.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE — Sebanyak 95 persen organisasi di Indonesia mengalami insiden siber berdampak signifikan terhadap operasional bisnis mereka dalam 12 bulan terakhir, di mana lebih dari separuh insiden tersebut melibatkan serangan yang diperkuat kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Hal itu terungkap dalam laporan terbaru Cisco bertajuk Relentless Defense Report yang dirilis pada 14 Oktober 2026. Laporan itu menyebutkan, peningkatan kemampuan serangan berbasis AI belum sepenuhnya diimbangi kesiapan organisasi dalam merespons ancaman. Hambatan tidak hanya berasal dari teknologi, tetapi juga koordinasi antartim, proses persetujuan yang panjang, dan keterbatasan akses terhadap data.

Di Indonesia, skor rata-rata pertahanan siber perusahaan mencapai 72 dari 100. Cisco juga mencatat 29 persen organisasi atau perusahaan di Tanah Air masuk kategori Relentless Defenders, kelompok dengan kinerja pertahanan siber terbaik menurut metodologi laporan tersebut. Angka ini lebih tinggi dibandingkan proporsi global sebesar 8 persen.

Namun, tingginya proporsi organisasi berkinerja terbaik itu tidak serta merta menghilangkan persoalan operasional. Hanya 63 persen organisasi di Indonesia menyatakan tim keamanan siber, jaringan, dan teknologi informasi (TI) telah bekerja sebagai satu kesatuan dengan visibilitas dan perangkat yang sama.

Sementara itu, 38 persen organisasi menghabiskan lebih banyak waktu untuk mengumpulkan dan menghubungkan data dari berbagai sistem ketimbang menangani ancaman. Sebanyak 46 persen responden juga mengaku kehilangan wawasan penting karena data yang dibutuhkan tidak dapat mereka akses.

Kendala tersebut berpotensi memperpanjang waktu respons ketika pelaku serangan menggunakan AI untuk meningkatkan kecepatan dan skala operasi. Dalam demikian, efektivitas pertahanan tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan perangkat keamanan, tetapi juga kemampuan perusahaan mengambil keputusan dan mengoordinasikan tindakan secara cepat.

Managing Director Cisco Indonesia, Cin Cin Go mengatakan, AI secara fundamental telah meningkatkan risiko dalam pertahanan siber. Kecepatan pertahanan didorong oleh kelincahan operasional, tidak hanya teknologi.

“Organisasi yang unggul adalah mereka yang mengintegrasikan keamanan ke dalam operasional dan memperlakukannya lebih dari sekadar formalitas compliance, serta meruntuhkan silo-silo operasional sehingga orang yang tepat dapat mengambil keputusan yang tepat di waktu yang tepat,” katanya dalam keterangan tertulis, Selasa (20/10).

Adopsi AI belum merata

Laporan ini mengidentifikasi gesekan atau masalah operasional sebagai penghambat utama untuk mencapai pertahanan siber yang lebih kuat.

Menurut laporan, lebih dari separuh organisasi di Indonesia telah menerapkan kemampuan keamanan berbasis AI secara ekstensif. Selain itu, hampir seluruh praktisi keamanan yang disurvei juga melaporkan peningkatan kemampuan deteksi dan respons sedikitnya 25 persen. Lebih dari sepertiga menyebut peningkatan tersebut secara signifikan mengurangi beban operasional.

Meski demikian, penerapan AI masih menghadapi sejumlah hambatan. Sebanyak 40 persen organisasi belum menerapkan agen AI secara ekstensif untuk operasional keamanan. Kekhawatiran terhadap kebocoran data, kompromi sistem, dan risiko dari pihak ketiga menjadi faktor yang menahan adopsi.

Kesenjangan juga terlihat pada kemampuan mengelola identitas dan akses, salah satu area yang berpotensi mengurangi beban kerja tim keamanan melalui otomatisasi. Dalam laporan tersebut, penerapan AI paling tinggi ditemukan pada keamanan data dan privasi, sedangkan penerapannya paling rendah pada identity and access management.

Di sisi lain, lebih dari 80 persen organisasi menyatakan yakin dapat mendeteksi dan merespons agen AI yang diambil alih atau disusupi pihak tidak berwenang. Tingkat kepercayaan ini menjadi penting karena penggunaan agen AI dalam proses bisnis turut memperluas kebutuhan pengawasan terhadap identitas nonmanusia dan hak akses sistem.

Laporan Cisco juga menyoroti perbedaan cara kerja kelompok Relentless Defenders dibandingkan organisasi lain. Secara global, 83 persen kelompok ini telah beroperasi dengan tim keamanan terkoordinasi dan perangkat yang sama di seluruh keamanan, jaringan, serta infrastruktur. Pada kelompok defender lainnya, proporsinya hanya 37 persen.

Dalam pengendalian agen AI dan identitas nonmanusia, 86 persen Relentless Defenders telah menerapkan kontrol yang konsisten, dibandingkan 37 persen pada kelompok lain. Sebanyak 77 persen kelompok berkinerja terbaik itu juga sangat yakin dapat mendeteksi dan menangani agen AI yang telah disusupi, sedangkan pada kelompok lain angkanya 51 persen.

Perbedaan tersebut turut terlihat pada hasil penggunaan AI. Sebanyak 25 persen Relentless Defenders melaporkan AI meningkatkan kecepatan deteksi ancaman lebih dari dua kali lipat, dibandingkan hanya 7 persen pada defender lainnya.

Bahkan, di antara organisasi yang meningkatkan anggaran keamanan, kelompok Relentless Defenders hampir dua kali lebih mungkin mencatat penurunan insiden siber.

Curated For You

Editorial Team

EditorEkarina .

Related Article