Comscore Tracker
TECH

Gelombang Ketiga Teknologi, Indonesia Mesti Transformasi, Kata Erick

Blockchain & metaverse menyimpan potensi ekonomi yang besar.

Gelombang Ketiga Teknologi, Indonesia Mesti Transformasi, Kata ErickIlustrasi ekonomi digital. Shutterstock/Insta_Photos

by Luky Maulana Firmansyah

Jakarta, FORTUNE – Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Erick Thohir, mengatakan saat ini sektor teknologi tengah berada dalam perkembangan gelombang ketiga, yakni blockchain dan metaverse.

Menurutnya, gelombang pertama merujuk pada teknologi transportasi, makanan dan minuman (F&B), dan retail-tech. Lalu, gelombang kedua adalah media & hiburan, health-tech, financial-tech, dan education-tech.

“Yang namanya first wave, second wave, third wave, ini datang dengan cepat. Berapa bulan yang lalu, saya masih ingat kita bisa bicara mengenai second wave, tapi hari ini semua sudah bicara third wave. Saya yakin kita tertinggal kalau kita hanya berdiam diri,” ujarnya dalam konferensi pers secara daring, Kamis (10/3).

Erick menyatakan Indonesia harus berani melakukan transformasi. Pemerintah pun mengupayakannya lewat PT Telkom Indonesia Tbk. BUMN operator telekomunikasi tersebut tengah mengembangkan sejumlah hal seperti data center dan cloud, jaringan fiber optik, serta jaringan 5G.

“Transformasi yang dilakukan Telkom sudah terlihat. Bagaimana Telkom sekarang lebih fokus kepada business-to-business,” katanya. “Kalau kita lihat infrastruktur sudah mulai digulirkan. Ini menjadi bagian penting buat pertumbuhan ekonomi digital ke depan.”

Ihwal blockchain, misalnya. Potensi ekonominya tidak bisa diremehkan. Menurut estimasi dari firma riset Grand View Research, nilai pasar blockchain pada 2030 bisa mencapai US$1.431 miliar. Jika diukur dari sekarang, pertumbuhan tahunan rata-ratanya hingga masa itu berarti 85,9 persen. Itu tidak terlepas dari digitalisasi pada sektor perbankan, jasa keuangan, dan asuransi, demikian Bloomberg.

Metaverse belum diikutkan. Berdasar atas analisis Morgan Stanley, metaverse dapat menghadirkan peluang bernilai US$8 triliun, jauh dari kalkulasi Bloomberg akan potensi ruang virtual tersebut yang mencapai US$800 miliar pada 2024. Gim dalam metaverse diprediksi akan menjadi ceruk pasar utama, diikuti hiburan seperti film, live music, dan olahraga virtual.

Proyeksi positif perekonomian digital

Dalam kesempatan tersebut, Erick memperkirakan pertumbuhan ekonomi digital Indonesia yang senantiasa positif. Pada 2025 saja, nilai ekonomi digital Indonesia ditaksir bakal mencapai lebih dari Rp1.700 triliun.

“Itu angka sudah sangat bagus. Tapi (ekonomi digital) ini akan terus meningkat,” kata Erick.

Berdasarkan laporan e-Conomy Sea 2021 oleh Google, Temasek, dan Bain & Company, nilai ekonomi Internet Indonesia pada tiga tahun mendatang ditaksir mencapai US$146 miliar atau lebih dari Rp2.087 triliun. Tahun lalu, ekonomi Internet RI hanya US$70 miliar.

Sektor e-commerce akan menjadi potongan kue perekonomian digital terbesar dengan nilai US$104 miliar, diikuti oleh transportasi dan makanan US$16,8 miliar, online media US$15,8 miliar, dan online travel US$9,7 miliar.

Menurut estimasi Bank Dunia, volume barang dagangan kotor (gross merchandise value/GMV) e-commerce Indonesia pada 2020 mencapai US$32 miliar, naik lebih dari 50 persen ketimbang US$21 miliar pada tahun sebelumnya.

Related Articles