Comscore Tracker
TECH

Meski Pendapatan Tumbuh, Laba Indosat Justru Terkoreksi Awal 2022

Laba ISAT terkontraksi usai merger dengan Tri Indonesia.

Meski Pendapatan Tumbuh, Laba Indosat Justru Terkoreksi Awal 2022Shutterstock/Hendrick Wu

by Luky Maulana Firmansyah

Jakarta, FORTUNE – PT Indosat Tbk mengumumkan kinerja keuangan kuartal pertama tahun ini. Dalam laporan keuangan yang baru dirilis, Kamis (28/4), Indosat pada Januari-Maret 2022 meraup pendapatan Rp10,87 triliun, atau meningkat 48,0 persen dari Rp7,35 triliun pada periode sama tahun sebelumnya (year-on-year/yoy).

Secara terperinci, pendapatan seluler Indosat tumbuh 55,1 persen menjadi Rp9,38 triliun. Setelahnya, pendapatan multimedia, komunikasi data, dan internet (MIDI) dan telekomunikasi meningkat masing-masing 12,1 persen dan 39,5 persen.

Meski demikian, sejumlah beban perusahaan berkode ISAT ini ikut naik. Beban penyelenggaraan jasa, misalnya, meningkat 69,7 persen menjadi Rp5,29 triliun. Lalu, beban penyusutan dan amortisasi naik 32,7 persen menjadi Rp3,31 triliun. Itu belum termasuk beban karyawan, pemasaran, umum dan admnistrasi yang juga meningkat.

Karenanya, laba Indosat turun 25,2 persen menjadi Rp128,7 miliar dari sebelumnya Rp172,2 miliar. Sebagai perbandingan, perseroan pada 2020 rugi Rp605,61 miliar. Akan tetapi, laba Indosat sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) naik 29,1 persen menjadi Rp4,38 triliun.

Vikram Sinha, President Director and CEO Indosat Ooredoo Hutchison (IOH), mengatakan kinerja tersebut merepresentasikan visi perseroan melalui merger, peningkatan skala, dan kemampuan finansial. “Kami berkomitmen untuk terus menghadirkan inovasi produk, mengintegrasikan jaringan, dan menempatkan pengalaman pelanggan sebagai fokus utama operasional bisnis ,” kata Vikram dalam rilis resmi, dikutip Jumat (29/4).

Indosat Ooredoo dan Tri Indonesia tahun lalu resmi melakukan penggabungan usaha. Merger dua operator telekomunikasi ini mencapai US$6 miliar atau setara dengan Rp87 triliun. Perusahaan gabungan ini diberi nama PT Indosat Ooredoo Hutchison Tbk.

Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), pada perdagangan kemarin saham ISAT mencapai Rp7.000 per saham. Dalam enam bulan terakhir, nilai sahamnya meningkat 1,1 persen, dan dalam setahun tumbuh 6,9 persen.

Fokus usai merger

Ilustrasi Indosat-Tri.

Indosat Ooredoo Hutchison mengeklaim menjadi perusahaan telekomunikasi terbesar kedua di Indonesia usai merger. Menurut catatan perseroan, total pelanggan seluler meningkat 57,7 persen menjadi 94,6 juta pelanggan..

Perluasan basis pelanggan itu pada gilirannya menghasilkan pertumbuhan trafik data 98,5 persen. Selain itu, cakupan jaringan perusahaan meningkat pula seiring peningkatan jumlah BTS 4G menjadi lebih dari 120 ribu. 

“IOH akan terus menciptakan nilai lebih bagi pelanggan dan pemegang saham, serta mempercepat transformasi digital Indonesia,” kata Vikram.

Dalam triwulan pertama 2022, perusahaan berfokus pada integrasi, khususnya dalam memaksimalkan sinergi biaya dan pengelolaan modal yang beriring dengan pencapaian peluang di sisi pendapatan.

Perkembangan integrasi perusahaan hingga saat ini sudah sesuai dengan jadwal dan titik-titik pencapaian, serta menghasilkan sinergi yang melampaui target, kata Vikram. Situasi itu tecermin dari peningkatan masing-masing Net Promoter Score (NPS) serta Customer Satisfaction Score (CSAT).

Pun begitu, menurut Vikram, secara jangka panjang perseroan akan mendukung pemerintah dalam memberikan pemerataan akses teknologi digital di Indonesia. Dukungan itu akan dilakukan dengan memperkuat infrastruktur jaringan dengan penambahan 11.400 site baru dan perluasan jangkauan jaringan ke 7.660 desa baru air, dengan target rampung akhir 2025.

Indosat awal tahun ini merealisasikan belanja modal Rp2,37 triliun (tidak termasuk Rp1,80 triliun aset hak guna). Sekitar 92,0 persen dari pengeluaran modal ini dialokasikan untuk bisnis selular demi permintaan layanan data, dan sisanya dialokasikan pada pengeluaran modal untuk MIDI, infrastruktur dan TI.

Saat ini aset Indosat Rp100,94 triliun, atau naik 59,2 persen dari sebelumnya Rp63,39 triliun.

Related Articles