Rahasia Mengapa AI Hanya Mendongkrak Kreativitas Sedikit Karyawan

- AI generatif hanya meningkatkan kreativitas pada karyawan dengan metakognisi tinggi.
- Karyawan perlu tahu cara berinteraksi dengan AI untuk membuka potensi kreatifnya.
- Mereka yang mampu melakukan refleksi diri bisa berhasil.
Jakarta, FORTUNE - Integrasi kecerdasan buatan (AI) generatif dengan alur kerja makin kuat. Meskipun alat seperti ChatGPT dipandang sebagai katalisator inovasi, realitas di lapangan justru menunjukkan hal sebaliknya. Setidaknya jika merujuk survei yang digelar Gallup pada 2024: hanya 26 persen karyawan yang menggunakan AI generatif melaporkan adanya peningkatan dalam kreativitasnya.
Mengapa itu bisa terjadi? Sebuah penelitian yang dinukil oleh Harvard Business Review dan MIT Sloan School of Management menyodorkan kemungkinan jawaban. Kecanggihan model bahasa yang digunakan bukanlah kunci membuka pintu menuju kreativitas, melainkan metakognisi karyawan.
Metakognisi, alias "berpikir tentang cara kita berpikir," merupakan pembeda utama dalam efektivitas penggunaan AI. Karyawan dengan metakognisi tinggi mampu menyadari kapan mereka mengalami kebuntuan. Karena itu, mereka jadi tahu kapan harus menyesuaikan strategi interaksinya dengan AI.
Jackson G. Lu, Associate Professor dari MIT Sloan, memberikan penjelasan. Menurutnya, AI generatif bukanlah solusi siap pakai bagi kreativitas.
"Untuk sepenuhnya membuka potensi kreatif, karyawan harus tahu cara berinteraksi dengan AI. Mereka harus mengendalikan alat tersebut, bukan justru sebaliknya,” ujarnya dikutip dari laman resmi MIT Sloan.
Penelitian yang awalnya terbit pada Journal of Applied Psychology ini melibatkan eksperimen lapangan terhadap 250 karyawan pada sebuah firma konsultan teknologi di Cina.
Mereka dibagi menjadi dua kelompok: kelompok yang dapat akses ke ChatGPT, dan yang tidak. Satu minggu kemudian, kreativitas mereka dinilai berdasarkan evaluasi manajer dan penilai eksternal yang melihat kebaruan serta kegunaan ide yang dihasilkan.
Hasilnya konsisten: AI hanya memberikan lonjakan kreativitas pada mereka yang memiliki strategi metakognitif yang kuat.
Pertanyaannya kemudian adalah, mengapa metakognisi begitu menentukan?
Hasil penelitian dimaksud menunjukkan AI dapat meningkatkan kreativitas dengan menambah "sumber daya kognitif" karyawan melalui dua cara.
Pertama, AI memperluas basis pengetahuan dengan menyediakan informasi dalam hitungan detik. Kedua, AI membebaskan kapasitas mental dengan mengambil alih tugas-tugas rutin seperti merangkum data atau menyusun draf awal.
Namun, manfaat ini hanya bisa dipanen oleh karyawan yang mampu melakukan refleksi diri. Mereka yang metakognisinya kuat akan menyadari celah informasi yang mereka miliki, sehingga mampu memberikan perintah (prompt) yang lebih presisi kepada AI.
Sebaliknya, karyawan dengan metakognisi rendah cenderung menerima jawaban pertama dari AI secara pasif tanpa melakukan verifikasi atau pengembangan lebih lanjut.
“Metakognisi adalah mata rantai yang hilang antara sekadar menggunakan AI dan menggunakannya dengan baik,” ujar Lu.
Meskipun menjanjikan, para peneliti memberikan catatan bahwa studi ini dilakukan dalam jangka pendek, yakni sepekan saja, pada satu perusahaan di Tiongkok. Efek jangka panjang dari penggunaan AI terhadap perkembangan keterampilan manusia masih menjadi ruang penelitian yang terbuka. Selain itu, motivasi pribadi dan keinginan untuk belajar tetap menjadi faktor pendukung yang tidak boleh diabaikan.


















