Mengapa Kendaraan Listrik Bisa Terbakar, dan Apinya Sulit Dipadamkan?

- Kendaraan listrik (EV) terbakar menimbulkan pertanyaan tentang keamanan EV.
- Penyebab kebakaran EV adalah thermal runaway akibat arus lokal besar dalam baterai litium-ion.
- Pemadam kebakaran membutuhkan metode khusus untuk memadamkan api pada EV.
Jakarta, FORTUNE - Insiden mobil listrik (EV) terbakar mulai terdengar seiring dengan bertambahnya kendaraan bertenaga baterai di jalanan. Peristiwa terbaru mendera sebuah unit Hyundai IONIQ 5N di Kota Medan, Sumatra Utara, Rabu (7/1).
Namun, kebakaran yang dialami kendaraan semacam itu bukan saja terjadi di Indonesia, tapi juga negara lain. Sebut saja Kasus yang melibatkan semi-truk Tesla di California, Amerika Serikat, tahun lalu. Menurut Dewan Keselamatan Transportasi Nasional (NTSB) dan Patroli Jalan Raya California, kendaraan itu terbakar selama empat jam setelah menghantam pohon.
Hal tersebut mengapungkan pertanyaan mengenai keamanan EV, meski analis dari UC Berkeley mengungkapkan kendaraan bertenaga bensin sebenarnya hampir 30 kali lipat lebih mungkin terbakar ketimbangkan EV.
“Kebakaran karena cacat manufaktur baterai sebenarnya sangat jarang terjadi,” ujar Matthew McDowell, codirector Advanced Battery Center di Georgia Tech, dikutip dari laman Wired.
Menurutnya, EV dilengkapi dengan sistem manajemen baterai (BMS) canggih. Perangkat lunak ini bertugas memantau sel-sel baterai guna memastikan komponen tersebut tidak dipicu melampaui batas operasionalnya.
Api yang melahap EV bukanlah api biasa, melainkan hasil dari fenomena yang dikenal sebagai thermal runaway alias reaksi panas berantai).
Baterai EV terdiri dari ribuan sel kecil yang saling berdekatan. Jika satu sel mengalami kegagalan, panas yang dihasilkan akan merambat ke sel di sebelahnya dengan sangat cepat.
Greg Less, Direktur Lab Baterai Universitas Michigan, membagi insiden ini ke dalam dua kategori: kecelakaan dan cacat manufaktur.
Terkait kecelakaan seperti tabrakan, Less berpendapat bahwa publik telah memahami risikonya.
"Mari kita kesampingkan hal itu dari pembahasan," kata Less, dikutip dari Wired. "Saya pikir orang-orang mengerti bahwa, apa pun jenis kendaraannya, jika Anda mengalami kecelakaan, kebakaran bisa saja terjadi."
Namun, kebakaran yang terjadi saat kendaraan sedang parkir adalah yang paling membingungkan peneliti.
Riset Lawrence Berkeley National Laboratory dan UC Berkeley yang dipublikasikan pada jurnal ACS Nano memberikan jawaban. Menggunakan teknik operando X-ray microtomography, ilmuwan menemukan adanya arus lokal besar di dalam baterai yang sedang beristirahat setelah proses pengisian daya cepat atau fast charging.
"Kami adalah yang pertama menangkap citra 3D real-time yang mengukur perubahan status daya pada tingkat partikel di dalam baterai litium-ion setelah diisi daya," kata Nitash P. Balsara, profesor teknik kimia dari UC Berkeley, dikutip dari laman resmi UC Berkeley.
Rekan penelitinya, Dilworth Y. Parkinson, menambahkan bahwa studi ini merupakan puncak dari kerja keras bertahun-tahun untuk memahami bagaimana baterai berubah secara dinamis seiring waktu.
Mengapa kebakaran pada EV sulit dipadamkan? Berbeda dari mesin pembakaran internal (ICE), baterai EV mengandung elektrolit cair yang mudah menguap dan terbakar hebat.
Wired melaporkan bahwa petugas pemadam kebakaran membutuhkan air sekitar sepuluh kali lipat lebih banyak untuk memadamkan EV dibandingkan mobil biasa.
Metode penyemprotan air konvensional sering kali gagal memberikan hasil permanen, demikian fireisolator.com. Dalam pengujian mereka, api sering kali berkobar kembali setelah sempat meredup. Oleh karena itu, paradigma penanganan kini bergeser dari "memadamkan" menjadi "mitigasi kerusakan tambahan."
Konsep tersebut melibatkan penggunaan selimut api (fire blanket) khusus yang mampu menahan suhu hingga 1.600 derajat Celsius untuk mengisolasi kendaraan, penggunaan unit aerosol untuk memutus rantai reaksi kimia, hingga merendam seluruh kendaraan dalam kontainer air selama beberapa hari.
Aspek lain yang berbahaya bagi petugas pemulihan kendaraan adalah energi terdampar (stranded energy). Thomas Barth, investigator dan insinyur biomekanik dari NTSB, menjelaskan pada Wired bahwa energi yang tersisa pada bagian baterai yang tidak rusak dapat memicu sengatan listrik atau kebakaran susulan beberapa hari kemudian.
Bagaimana sektor ini menanggapinya? Industri otomotif tengah berlomba mengembangkan baterai padat (solid-state) sebagai solusi permanen.
Teknologi ini mengganti elektrolit cair yang mudah terbakar dengan material padat. McDowell mengatakan baterai ini menunjukkan stabilitas panas yang jauh lebih tinggi. Meskipun produksi massal masih menghadapi kendala skala besar, teknologi ini menjanjikan masa depan yang dapat menekan risiko kebakaran akibat panas ekstrem ke titik terendah.
Bagi pengendara, prosedur darurat tetap menjadi pertahanan utama.
Jika terjadi kebakaran saat berkendara, instruksi dari National Fire Prevention Agency sangat jelas: segera menepi, matikan mesin, dan pastikan semua penumpang keluar tanpa menunda waktu demi barang pribadi.


















