Jakarta, FORTUNE - Apple disebut-sebut tengah mempertimbangkan perubahan besar pada strategi bisnis layanan streaming musiknya. Sejumlah temuan dalam kode aplikasi Apple Music memunculkan dugaan bahwa perusahaan teknologi asal Cupertino itu sedang menyiapkan opsi layanan gratis atau paket berbiaya lebih rendah untuk memperluas basis pengguna dan memperkuat persaingan dengan Spotify.
Spekulasi tersebut berawal dari temuan Aaron Perris, analis dari MacRumors, yang menemukan sejumlah baris kode baru dalam pembaruan Apple Music versi beta. Temuan itu pertama kali dilaporkan BGR pada Jumat (5/6).
Dalam kode aplikasi tersebut muncul sejumlah notifikasi seperti "premium access required" (diperlukan akses premium) dan "can’t skip any more tracks" (tidak dapat melewati lagu lagi).
Kehadiran dua pesan tersebut memicu dugaan bahwa Apple sedang menyiapkan fitur yang memungkinkan pengguna mengakses layanan tanpa berlangganan penuh. Alternatif lain yang berkembang di kalangan pengamat adalah kemungkinan Apple menghadirkan paket dengan harga lebih terjangkau dibandingkan langganan reguler saat ini.
Menariknya, petunjuk tersebut ditemukan pada aplikasi Apple Music untuk Android. Namun sejumlah analis meyakini apabila fitur tersebut benar-benar diluncurkan, Apple kemungkinan akan menghadirkannya secara bersamaan bagi pengguna Android maupun iOS.
Langkah tersebut dinilai sebagai upaya Apple untuk mempersempit jarak dengan Spotify yang hingga kini masih mendominasi pasar streaming musik global. Berdasarkan laporan Midia Research pada 2025, pangsa pasar pelanggan Apple Music masih tertinggal cukup jauh dari Spotify.
Keunggulan Spotify selama ini berasal dari model bisnis ganda yang memungkinkan pengguna memilih layanan gratis dengan iklan atau berlangganan untuk menikmati pengalaman tanpa gangguan. Strategi tersebut berhasil membantu Spotify mengumpulkan ratusan juta pengguna aktif di seluruh dunia.
Meski berpotensi meningkatkan jumlah pengguna, langkah menghadirkan layanan gratis berisiko menimbulkan dilema bagi Apple. Selama bertahun-tahun perusahaan dikenal konsisten menolak model streaming musik gratis yang didukung iklan.
"Musik adalah karya seni, dan karya seni tidak seharusnya digratiskan."
Pandangan tersebut berulang kali disampaikan oleh para petinggi Apple. Bahkan pada April 2026, Vice President Apple Music & International Content Oliver Schusser kembali menegaskan posisi perusahaan dalam wawancaranya dengan Billboard.
Menurut Schusser, Apple Music tidak memerlukan layanan gratis untuk menarik pendengar baru. Ia berpendapat model bisnis berbasis iklan justru berpotensi merugikan musisi dan pencipta lagu karena menghasilkan royalti streaming yang lebih rendah.
Jika rumor tersebut benar, langkah Apple akan menandai perubahan sikap yang cukup signifikan. Perusahaan selama ini mempertahankan pendekatan premium sejak Apple Music diluncurkan pada 2015, berbeda dengan Spotify yang sejak awal mengandalkan kombinasi layanan gratis dan berbayar.
Bagi Apple, strategi baru tersebut bisa menjadi cara yang lebih realistis untuk mempercepat pertumbuhan pelanggan di tengah persaingan yang semakin ketat. Di sisi lain, keputusan tersebut berpotensi memicu perdebatan internal karena bertentangan dengan filosofi yang selama ini dikedepankan perusahaan terkait nilai ekonomi karya musik.
Hingga kini Apple belum memberikan konfirmasi resmi mengenai keberadaan layanan gratis tersebut maupun jadwal peluncurannya. Tidak tertutup kemungkinan fitur itu masih berada pada tahap pengujian dan pada akhirnya tidak pernah dirilis ke publik.
Namun apabila Apple benar-benar menghadirkan paket gratis atau versi berbiaya rendah, persaingan di industri streaming musik global berpotensi memasuki babak baru. Keputusan itu tidak hanya dapat mengubah strategi Apple Music, tetapi juga berpotensi mengguncang keseimbangan pasar yang selama ini dipimpin Spotify.
