Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
IDN Ecosystem
IDN Signature Events
For
You

Tantang Microsoft di Ranah AI, Elon Musk Bikin Macrohard

Elon Musk (pixabay.com/deeznutz1)
Elon Musk (pixabay.com/deeznutz1)

Jakarta, FORTUNE - CEO xAI, Elon Musk, kembali membuat kejutan di dunia teknologi. Kali ini ia mendirikan sebuah perusahaan perangkat lunak berbasis kecerdasan buatan yang diberi nama Macrohard, langkah yang segera dianggap sebagai tantangan terbuka bagi Microsoft. Kehadiran entitas baru ini diumumkan langsung oleh Musk di bawah payung xAI, menandai fase baru dari ambisi besarnya di industri AI.

Menurut laporan Gizmodo, penamaan “Macrohard” bukan sekadar kebetulan. Nama tersebut terdengar provokatif, bahkan ditafsirkan sebagai plesetan langsung dari Microsoft. Pemilihan nama ini sontak memicu diskusi luas, banyak yang menilai perusahaan ini dirancang untuk mengoperasikan seluruh proses pengembangan perangkat lunak dengan AI sebagai motor utama.

Musk sendiri menggambarkan visinya tentang masa depan perangkat lunak yang sepenuhnya dikendalikan oleh sistem kecerdasan buatan. Ia membayangkan AI bukan hanya menulis kode, melainkan juga mampu mengelola seluruh siklus hidup aplikasi secara mandiri—dari perancangan, pengujian, hingga penyempurnaan.

Kelahiran Macrohard pun dipandang sebagai manuver strategis untuk masuk ke gelanggang persaingan secara langsung dengan para raksasa teknologi, terutama Microsoft yang tengah gencar berinvestasi di bidang AI. Pengumuman ini turut memperkeruh atmosfer kompetisi di industri perangkat lunak sekaligus perangkat keras, memicu rasa ingin tahu publik: bagaimana gagasan besar Musk akan diterjemahkan menjadi produk nyata?

Melansir Times of India, Musk menyampaikan bahwa fokus utama Macrohard adalah membangun ekosistem perangkat lunak berbasis multi-agent AI. Sistem ini dirancang agar berbagai agen kecerdasan buatan bekerja bersama dalam menyelesaikan tugas-tugas rumit.

Pusat dari arsitektur ini adalah Grok, model AI besutan xAI, yang akan berfungsi sebagai “otak komando.” Dari Grok, ratusan agen AI khusus akan lahir—sebagian fokus pada otomatisasi pengkodean, sebagian lagi diarahkan untuk menghasilkan gambar maupun video. Agen pemrograman bertugas merancang aplikasi dari nol sesuai instruksi pengguna, sementara agen generator visual dipersiapkan memahami konteks gambar untuk mendukung desain produk.

Pendekatan ini meniru interaksi manusia dengan perangkat lunak, tetapi dengan tujuan akhir menciptakan hasil yang sempurna tanpa intervensi manusia. Dengan kata lain, Musk ingin membangun sebuah sistem otonom yang efisien dan minim kesalahan.

Nama yang sarat sindiran

Pemilihan nama “Macrohard” jelas bukan tanpa maksud. Ia dianggap sebagai bentuk pernyataan perang sekaligus sindiran terang-terangan kepada Microsoft. Musk bahkan sempat menyatakan bahwa perusahaannya bisa menyaingi Microsoft karena, menurutnya, raksasa tersebut tidak memproduksi perangkat keras sendiri.

Namun, pernyataan ini dipandang menyesatkan. Faktanya, Microsoft memiliki lini perangkat keras populer seperti konsol Xbox dan Surface. Meski begitu, retorika Musk menunjukkan bahwa ia tidak ingin membangun jembatan kerja sama, melainkan menempatkan xAI sebagai alternatif utama di ekosistem AI yang kini didominasi oleh Microsoft dan sekutunya.

Seperti diketahui, Microsoft adalah investor terbesar di OpenAI—perusahaan yang dulu ikut didirikan Musk sebelum ia keluar dan menjadi salah satu pengkritiknya. Dengan dominasi Microsoft di ranah AI generatif, langkah Musk melalui Macrohard dapat dimaknai sebagai upaya merebut ruang dan mengubah peta kekuatan.

Jalan yang harus ditempuh Macrohard tidaklah mudah. AI secanggih apa pun masih membutuhkan pengawasan manusia, terutama dalam tahap debugging.

Selain itu, ada risiko sengketa hukum terkait hak kekayaan intelektual jika teknologi Macrohard meniru perangkat lunak lain.

Terlepas dari tantangan tersebut, xAI sudah mengambil langkah konkret. Melansir PCMag, pada awal Agustus 2025, perusahaan ini resmi mengajukan pendaftaran merek dagang “Macrohard” ke United States Patent and Trademark Office (USPTO). Cakupan pendaftarannya terbilang luas, mulai dari video game, layanan analisis hukum, hingga aplikasi penasihat profesional—menunjukkan bahwa Macrohard tidak akan terbatas pada satu bidang saja.

Langkah Musk ini menambah spekulasi bahwa Macrohard berpotensi menjadi lebih dari sekadar platform AI. Dengan rekam jejaknya, Musk mungkin saja mengintegrasikan layanan Grok, otomasi pabrik Tesla, teknologi satelit SpaceX, hingga perangkat keras AI khusus ke dalam satu ekosistem. Jika benar demikian, Macrohard bisa menjadi alternatif baru yang mengguncang dominasi pemain lama sekaligus membuka ruang kolaborasi lintas sektor.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Pingit Aria
EditorPingit Aria
Follow Us