Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
IDN Ecosystem
IDN Signature Events
For
You

Atasi Degradasi Lahan, Kadin Jadikan Biochar Kunci Ketahanan Pangan dan Bisnis Karbon

ilustrasi lahan pertanian (pexels.com/Binyamin Mellish)
ilustrasi lahan pertanian (pexels.com/Binyamin Mellish)
Intinya sih...
  • Kadin mendorong adopsi teknologi biochar sebagai solusi degradasi lahan pertanian yang mengkhawatirkan.
  • Biochar dinilai bukan hanya solusi agrikultur, tetapi juga peluang ekonomi baru.
  • Kadin menyiapkan rekomendasi kebijakan ke Kementerian Pertanian dan DPR.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mendorong adopsi teknologi biochar sebagai solusi strategis mengatasi degradasi lahan pertanian dan membuka peluang ekonomi baru. Di tengah kondisi lebih dari 60 persen lahan pertanian nasional yang menurun kualitasnya, biochar dinilai mampu menjadi kunci mencapai ketahanan pangan sekaligus membuka akses ke pasar karbon global.

Sebagai langkah konkret, Kadin tengah menyiapkan rekomendasi kebijakan untuk pemerintah serta membangun pusat riset terpadu seluas 180 hektare di Lebak, Banten. Fasilitas ini dirancang sebagai laboratorium kolaborasi antara pemerintah, BRIN, akademisi, dan pelaku usaha demi mempercepat implementasi teknologi ini di tingkat nasional.

Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Pertanian, Devi Erna Rachmawati, menegaskan urgensi adopsi biochar.

“Lahan kita sudah banyak yang tidak sehat. Biochar sangat dibutuhkan Indonesia, apalagi bahan bakunya melimpah,” kata dia dalam keterangan tertulis, Jumat (29/8).

Secara teknis, biochar adalah arang kaya karbon yang dihasilkan dari proses pirolisis biomassa seperti jerami dan limbah pertanian lainnya. Fungsinya ganda: meningkatkan kesuburan tanah secara signifikan dan mengunci emisi karbon di dalam tanah untuk jangka waktu yang sangat lama.

CEO PT Bhetochar Energi Nusantara, Maria Wahono, menyoroti potensi ekonomi dari jutaan ton limbah biomassa pertanian yang selama ini belum tergarap optimal.

“Melalui teknologi pirolisis, limbah ini dapat diolah menjadi biochar bernilai tambah tinggi, yang bertahan di tanah hingga ratusan tahun dan berkontribusi pada sekuestrasi karbon jangka panjang,” ujarnya.

Direktur Litbang perusahaan yang sama, Yuventius Nicky, menambahkan bahwa adopsi biochar menciptakan rantai ekonomi sirkular baru yang menguntungkan petani secara langsung.

“Bahan bakunya limbah petani, jadi ada peluang langsung untuk meningkatkan pendapatan petani. Setelah dipakai, tanah yang tidak produktif bisa kembali menghasilkan,” katanya.

Dukungan juga datang dari pemerintah. Ahli Utama Kementerian Pertanian, Dedi Nursyamsi, memvalidasi efektivitas biochar dalam meningkatkan produktivitas, memperbaiki struktur tanah, bahkan meremediasi lahan tercemar logam berat.

Biochar adalah solusi tepat. Selain menurunkan kebutuhan pupuk kimia, biochar punya potensi strategis dalam carbon trading,” ujarnya.

Devi Erna menambahkan, perbaikan lahan adalah syarat mutlak untuk mencapai target swasembada.

“Kalau lahan tidak segera diperbaiki, swasembada pangan tidak mungkin tercapai. Biochar ini ujungnya menguntungkan secara ekonomi, terutama bagi petani,” katanya.

 

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Bonardo Maulana
EditorBonardo Maulana
Follow Us