Comscore Tracker
BUSINESS

Jalan Menantang Pengembangan Jaringan 5G di Indonesia

Tantangan utama adalah penyediaan pita frekuensi.

Jalan Menantang Pengembangan Jaringan 5G di IndonesiaIlustrasi Menara BTS. (ShutterStock/Alpen Works)

by Bayu Pratomo Herjuno Satito

Jakarta, FORTUNE – Salah satu tantangan paling dominan dalam perluasan dan pengembangan jaringan 5G di Indonesia adalah penggunaan frekuensi yang sama dengan layanan siaran televisi dan satelit. Implementasi dan pengembangan jaringan 5G menggunakan pita frekuensi 700 MHz yang sebelumnya banyak digunakan untuk siaran TV analog. Namun, UU Cipta Kerja mengharuskan siaran analog bermigrasi ke ranah digital paling lambat November 2022 atau disebut kebijakan Analog Switch-Off (ASO).

"Untuk low band (pita 700 MHz), bersyukur dengan adanya UU Cipta Kerja kita akhirnya memiliki jalan. Kita bisa memanfaatkan ini di tahun depan, karena selama ini, jalan ini sulit untuk ditembus,” kata Direktur Penataan Sumber Daya Kementerian Kominfo, Denny Setiawan, dalam webinar 5G Conference, Rabu (27/10).

Selain itu, kata Denny, tantangan pun muncul dari penyediaan middle band frekuensi 2,6 GHz yang digunakan siaran-siaran TV satelit. Lalu, pada middle band berfrekuensi 3,5 GHz, tantangan muncul dari operator satelit nasional dan asing. Sedangkan, pada high band 26-28 GHz yang paling ideal untuk 5G, masalahnya hadir dari fiberisasinya.

“Ekosistem kita lagi bertumbuh, jadi kami harus hati- hati. Karena bandwith-nya memang besar, tapi area yang dijangkaunya sangat kecil. Kami harus pikirkan fiberisasinya,” kata Denny.

Pentingnya menara BTS dan fiber optik

Menurut Denny, sebagai wadah bagi rangkaian frekuensi yang akan digunakan 5G, maka dibutuhkan sejumlah infrastruktur seperti menara dan fiber optik Hal ini penting, agar kualitas konektivitas 5G tidak terasa seperti 2G. “Spektrum tanpa fiber optik bisa menyebabkan jaringan 5G rasa 2G, maka dari itu ini juga jadi salah satu tantangan kami,” ujarnya.

Untuk mengakomodir jaringan 5G, kata Denny, butuh menara base transceiver station (BTS) yang akan didominasi tipe pendek tapi sangat rapat (small cell). Saat diterapkan, tentu BTS jenis ini perlu didukung kemudahan akses dari berbagai sarana prasarana publik lain yang sudah lebih dulu eksis seperti tiang lampu jalan, lampu lalu lintas, halte, dan lainnya.

Terkait tata kota, pemerintah juga akan membantu, terlebih untuk hal yang cukup rumit, seperti ducting bersama yang akan jadi jalur fiber optik dan penyalurannya hingga ke permukiman dan perkantoran. Fiberisasi ini, ucap Denny, penting dalam mendukung koneksi antar BTS agar semakin memiliki trasnmisi yang besar dan responsif.

“Implementasi yang sebenarnya sudah ada di undang-undang cipta kerja ini sangat menarik. Kami sedang mempertimbangkan bagaimana milimeter wave bisa seiring dengan jaringan di lokal. Ini salah satu opsi, karena kami belum memutuskan,” ujar Denny.

5G akan lebih ditujukan untuk model B2B2C

Menanggapi transisi menuju teknologi 5G yang semakin digencarkan, PT Telkom sebagai perusahaan penyedia jasa telekomunikasi milik negara melihat 5G sebagai jaringan masa depan bagi para operator telekomunikasi di Indonesia. Untuk itu, seluruh perusahaan penyedia jasa perlu bersiap untuk menyediakan satu jaringan yang tidak hanya ditujukan bagi konsumen, namun lebih pada bisnis dan pihak ketiga.

Direktur Utama PT Telkom, Ririek Adriansyah, mengatakan kepada Fortune Indonesia bahwa jaringan 5G berbeda dengan pendahulunya, yakni 3G maupun 4G. “Sebelumnya, kalau 4G dan sebelumnya itu kan lebih untuk Business-to-Consumer (B2C), untuk pengguna individu gitu ya. Nah, 5G akan lebih banyak bermain di B2B2C. Jadi, sebetulnya 5G ini nanti banyak menghadirkan solusi-solusi,” katanya.

Ia mencontohkan penggunaan jaringan 5G untuk mendukung proses operasi medis jarak jauh. Dengan pengembangan yang lebih lanjut dalam hal remote sensory, maka seorang pasien di Papua sangat mungkin untuk dioperasi oleh dokter yang berada di Jakarta. “Ini artinya kan Telkom sangat mungkin bekerja sama dengan Rumah Sakit dan kemudian melayani pasien. Inilah B2B2C,” ujarnya.

Menurutnya, jika hanya dimanfaatkan untuk kepentingan browsing, media sosial, atau kebutuhan internet lain, sudah sangat cukup dengan menggunakan jaringan 4G. Namun, Ririek tidak memungkiri bahwa ada juga model B2C yang dipenuhi oleh 5G, seperti untuk game virtual reality atau sarana multimedia serta video dengan resolusi tinggi.

Related Articles