Jakarta, FORTUNE – Industri hilirisasi nikel Indonesia memasuki fase baru seiring meningkatnya perhatian pasar global terhadap aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG). Setelah beberapa tahun terakhir didorong oleh derasnya investasi dan ekspansi kapasitas pengolahan, pelaku industri kini menghadapi tuntutan yang kian besar untuk menunjukkan praktik keberlanjutan yang dapat diverifikasi sebagai syarat menjaga daya saing dan akses ke pasar internasional.
Ketua ESDM Kadin Komite Bilateral UK dan Irlandia, Ovan Tito, mengatakan persepsi internasional terhadap industri nikel Indonesia mulai berubah setelah berbagai pemangku kepentingan melihat langsung aktivitas hilirisasi di Maluku Utara, termasuk di Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP).
“Banyak peserta datang dengan berbagai perspektif dan ekspektasi mengenai industri nikel Indonesia. Namun, setelah melihat langsung operasionalisasi di lapangan, investasi lingkungan yang dilakukan, serta keterbukaan berbagai pihak dalam berdialog, kami melihat sebuah ekosistem industri yang beroperasi pada skala kelas dunia dan terus berupaya meningkatkan standar keberlanjutannya,” kata dia dalam keterangannya yang dikutip Jumat (5/6).
Pada kuartal I-2026, realisasi investasi hilirisasi mencapai Rp147,5 triliun, dengan sektor nikel menjadi penyerap terbesar dengan nilai Rp41,5 triliun.
Dalam beberapa tahun terakhir, dampak ekonomi dari kebijakan hilirisasi juga terlihat nyata. Nilai ekspor produk turunan nikel melonjak hampir 10 kali lipat dari US$3,3 miliar pada 2018 menjadi sekitar US$34 miliar pada 2024.
Seiring meningkatnya kebutuhan dunia terhadap mineral kritis untuk mendukung transisi energi dan kendaraan listrik, pasar global mulai menuntut lebih dari sekadar pasokan yang besar dan kompetitif.