Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install
For
You

BI Rate Naik 50 bps, AAJI Pasang Strategi Produk Investasi Asuransi

BI Rate Naik 50 bps, AAJI Pasang Strategi Produk Investasi Asuransi
ilustrasi asuransi jiwa (freepik.com/ijeab)
Intinya Sih
Sisi Positif
  • Kenaikan BI Rate mendorong industri asuransi jiwa untuk menyesuaikan strategi investasinya.

  • AAJI menegaskan pentingnya pengelolaan investasi yang prudent dan terdiversifikasi.

  • Premi unit link tumbuh 4,1 persen menjadi Rp17,17 triliun, sementara premi tradisional turun 2,9 persen.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Jakarta, FORTUNE Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) mengimbau para pelaku industri memperkuat strategi pengelolaan aset dan kewajiban (asset-liability management) guna mengantisipasi lonjakan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate). Kebijakan bank sentral yang mengerek suku bunga sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 5,25 persen pada periode Mei 2026 ini diproyeksi meningkatkan daya tarik instrumen likuiditas jangka pendek, sehingga perusahaan asuransi jiwa dituntut tetap prudent agar hasil investasi tetap kokoh.

Ketua Bidang Kerjasama Antar Lembaga, Regulator, Stakeholder Dalam Negeri & Internasional AAJI, Handojo G. Kusuma, menjelaskan dinamika pasar saat ini mengharuskan perusahaan asuransi jiwa merumuskan langkah taktis agar imbal hasil investasi tetap kuat di tengah perubahan tren bunga.

“Kenaikan suku bunga ini menjadi daya tarik instrumen dalam likuiditas jangka pendek, tapi kita harus ingat kembali bahwa industri masih membutuhkan dari strategi jangka panjang terutama menjaga asset liability,” ujar Handojo dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (2/6).

Untuk mempertahankan ketahanan keuangan tersebut, pelaku sektor ini berkomitmen menerapkan pengelolaan portofolio yang terdiversifikasi. Langkah ini terbukti menjaga kinerja industri, dengan data AAJI mencatat total investasi asuransi jiwa tumbuh 5,7 persen secara tahunan (year-on-year/YoY) hingga kuartal I-2026, dengan nilai Rp571,70 triliun.

Handojo menegaskan pemenuhan kewajiban kepada nasabah tetap menjadi prioritas utama yang ditopang oleh karakteristik penempatan dana sektor tersebut.

“Karakteristik investasi industri asuransi jiwa yang berorientasi jangka panjang menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas dan kemampuan perusahaan memenuhi kewajibannya kepada pemegang polis,” ujarnya.

Langkah diversifikasi industri saat ini tecermin pada penempatan portofolio pada berbagai instrumen investasi, dengan Surat Berharga Negara (SBN) dan saham yang tetap menjadi pilihan utama. Sektor ini terus berupaya menjaga keseimbangan antara optimalisasi hasil investasi dan pengelolaan risiko jangka panjang di tengah dinamika pasar.

Di sisi lain, pergeseran tren juga terlihat pada perolehan premi berdasarkan jenis produk pada kuartal I-2026:

  • Produk Asuransi yang Dikaitkan dengan Investasi (PAYDI/Unit Link): Mencapai Rp17,17 triliun atau tumbuh 4,1 persen (YoY).
  • Asuransi Tradisional: Mengalami penurunan 2,9 persen (YoY) menjadi Rp30,10 triliun.

Meski premi asuransi tradisional terkoreksi, produk ini tetap mendominasi portofolio industri dengan kontribusi sekitar 64 persen terhadap total premi. Menyikapi pertumbuhan positif pada lini unit link, Handojo mengingatkan perusahaan asuransi untuk tetap menerapkan strategi kehati-hatian dalam penyaluran produk berbasis investasi tersebut.

Share Article
Topics
Editorial Team
Bonardo Maulana
EditorBonardo Maulana

Related Articles

See More