Comscore Tracker
BUSINESS

UMKM Diimbau Mewaspadai Kejahatan Siber

Kejahatan siber berpotensi menjatuhkan reputasi UMKM

UMKM Diimbau Mewaspadai Kejahatan SiberShutterstock/Who is Danny

by Desy Yuliastuti

Jakarta, FORTUNE - Pandemi Covid-19 melanda dunia selama lebih dari setahun terakhir mengubah pola interaksi masyarakat, termasuk cara bisnis beroperasi. Data Kementerian Koperasi dan UKM RI menunjukkan sepanjang 2020 terdapat sekitar 10,2 juta UMKM yang menggunakan teknologi digital dalam kegiatan usahanya. 

Ke depannya diprediksi tren pergerakan UMKM ke dalam ekosistem digital akan terus meningkat. Meskipun pemanfaatan teknologi membantu UMKM memperluas pasar, tapi para pelaku usaha perlu mewaspadai risiko keamanan siber. Seperti penipuan online, peretasan, pemalsuan identitas, dan bocornya data konsumen yang berisiko menurunkan reputasi bisnis.

Kerugian akibat kejahatan siber

Wakil Ketua Umum Aftech Marshall Pribadi mengatakan, kejahatan siber dapat mengakibatkan kerugian, baik material maupun nonmaterial bagi pelaku usaha UMKM. Oleh sebab itu, perhatian atas keamanan siber tidak hanya penting bagi perusahaan-perusahaan besar berskala nasional dan global, tetapi juga penting bagi UMKM.

“Edukasi mengenai keamanan siber sebagai upaya untuk meningkatkan kesadaran dan budaya keamanan siber menjadi salah satu upaya penting yang dapat dilakukan oleh berbagai pihak seperti perusahaan, asosiasi, dan pemerintah secara sinergis dalam rangka mencegah kerugian yang lebih besar lagi,” ucap Marshall dalam diskusi virtual FinTech Talk bertajuk “Keamanan Siber (Cybersecurity) dan Digitalisasi Usaha Mikro, Kecil & Menengah (UMKM) di Indonesia”, Rabu (30/6).

Mayoritas usaha tak punya mitigasi memadai

Berdasarkan statistik yang dirilis oleh Cybint (2020) saat ini sebesar 77% perusahaan tidak memiliki rencana mitigasi terhadap serangan siber. Menurut Marshall, ungkapan lama yang menyatakan, lebih baik mencegah daripada mengobati adalah relevan dalam konteks keamanan siber.

“Ketika tidak terjadi gangguan siber, para pelaku usaha seharusnya tidak boleh lengah dan menganggap bahwa standar keamanannya sudah cukup. Para pelaku usaha tetap harus mencermati potensi serangan siber dan melakukan langkah-langkah yang tepat agar usahanya dapat berjalan dengan aman, khususnya saat bertransaksi secara online,” katanya, menambahkan.

Country Manager Indonesia Mastercard Navin Jain mengatakan, di tengah pengadopsian perangkat digital yang dilakukan oleh para UMKM agar dapat tetap kompetitif di era normal baru, UMKM juga harus memprioritaskan keamanan siber mereka. 

“Tidak ada bisnis yang terlalu kecil untuk menjadi sasaran target kejahatan siber. Mastercard mendukung UMKM dengan keterampilan keamanan siber yang mereka butuhkan guna mendorong pemahaman seputar teknologi dan manfaat yang dapat dinikmati dari keamanan siber, meningkatkan kapasitas mereka, dan menawarkan berbagai solusi keamanan dari Mastercard,” ujarnya.

Masalah lama

Menanggapi hal ini, Direktur Proteksi Ekonomi Digital Badan Siber dan Sandi Negara Retno Artinah mengatakan, masalah keamanan informasi bagi pelaku UMKM bukanlah hal yang baru. Hal ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga di terjadi di berbagai negara.

Menurutnya, salah satu tantangan digitalisasi UMKM di Indonesia adalah rendahnya tingkat literasi digital. Rendahnya literasi menjadi faktor penting yang menyebabkan rentannya UMKM terhadap serangan siber. 

“Kami menilai literasi tentang keamanan informasi penting dilakukan secara rutin oleh industri fintech. Diharapkan, para pelaku usaha UMKM ke depannya dapat lebih siap dalam menerapkan prinsip-prinsip keamanan informasi,” kata Retno.

Tren kejahatan meningkat

Dia menambahkan, di masa pandemi ancaman keamanan siber kian meningkat dua kali lipat. Sebelumnya, tren ancaman ini berada di angka 200 juta. Hingga akhir tahun 2020, tren ini naik hingga lebih dari 495 ancaman keamanan siber. UMKM merupakan salah satu sektor yang juga diserang.

Menurut Verizon 2019 Data Breach Investigations Report, 43 persen dari serangan siber menarget UMKM, dan hanya 14 persen UMKM yang sudah mempersiapkan diri menghadapi ancaman tersebut.

"Pandemi dengan segala kondisi yang ada, yang sudah bertransformasi, kita harus melek dengan transformasi tersebut. Kita harus siap dengan pengetahuan dan infrastruktur yang dimiliki," ujarnya.

Related Topics

Related Articles