BUSINESS

Harga Minyak Turun Tiga Hari Berturut-turut Karena Ekonomi Eropa Lesu

Ekonomi Jerman mengindikasikan adanya tanda resesi.

Harga Minyak Turun Tiga Hari Berturut-turut Karena Ekonomi Eropa Lesuilustrasi Kilang minyak Paraguna (dok.havana times)

by Eko Wahyudi

25 October 2023

Follow Fortune Indonesia untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow WhatsApp Channel & Google News

Jakarta, FORTUNE - Harga minyak telah mengalami penurunan dalam tiga hari berturut-turut, dan para ahli menyatakan bahwa penyebabnya kemungkinan adalah adanya indikasi pelemahan ekonomi Eropa dalam sejumlah data, yang mungkin berdampak pada tingkat permintaan energi.

Sebagai contoh, harga minyak mentah Brent berjangka turun US$1,76 atau 2 persen, mencapai US$88,07 per barel dalam perdagangan pada 24 Oktober.

Demikian pula harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat berjangka yang mengalami penurunan US$1,75 atau 2 persen mencapai US$83,74 per barel.

Di sisi lain, data ekonomi Jerman mengindikasikan adanya resesi di negara tersebut, dan Inggris juga melaporkan penurunan aktivitas bulanan, menambah ketidakpastian sehubungan dengan kemungkinan resesi menjelang pengumuman suku bunga Bank of England pekan depan.

“Pasti ada dialog mengenai kondisi ekonomi global yang menjadi lebih buruk minggu ini dibandingkan minggu lalu,” kata analis Mizuho Robert Yawger yang dikutip dari Reuters, Rabu (25/10).

Yawger menyebut para bankir dan ekonom ternama di Arab Saudi saat ini sedang berdiskusi memburuknya perekononomian di Eropa pada acara Future Investment Initiative.

Perekonomian AS meningkatkan nilai dolar

Berbeda dari Eropa, data ekonomi Amerika Serikat menunjukkan peningkatan bisnis pada Oktober.

Sektor manufaktur di Negeri Paman Sam terpantau mulai tumbuh setelah sebelumnya terkontraksi selama lima bulan.

Kekuatan ekonomi AS saat ini membantu mengangkat nilai mata uang dolar, membuat harga minyak jadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.

"Meskipun pasar khawatir tentang perang di Timur Tengah dan upaya Arab Saudi untuk membatasi pasokan, permintaan memang sudah menjadi hambatan utama dalam waktu yang lama," kata Mitra di Again Capital yang berbasis di New York, John Kilduff.

Sementara itu, pembebasan sandera di Gaza dan kian intensifnya upaya diplomatik untuk membendung konflik yang lebih besar antara Israel dan Hamas juga telah menghilangkan risiko membuat harga Brent ke level tertinggi dalam sebulan ini.

Kendati harga minyak masih tinggi, Badan Energi Internasional memperkirakan permintaan bahan bakar fosil akan mencapai puncaknya pada 2030 berdasarkan kebijakan pemerintah saat ini.

Tinggi harga minyak juga pengaruhi Indonesia

Tingginya harga minyak dunia juga berpengaruh pada kondisi makro perekonomian Indonesia.

Pemerintah bahkan berencana akan merealisasikan pembatasan pembelian Pertalite, yang merupakan BBM penugasan subsidi pemerintah.

Selain itu, Indonesia saat ini merupakan importir minyak mentah dan BBM.

Oleh karena itu, pemerintah mendorong segera diterbitkannya revisi Peraturan Presiden Nomor 191 Tahun 2014 yang menjadi regulasi acuan penyaluran BBM bersubsidi lebih tepat sasaran.

Revisi tersebut akan mengatur detail kriteria kendaraan yang dapat mengisi Pertalite. Turut dikaji juga adalah perbedaan harga Pertalite sesuai dengan jenis kendaraannya.

"Pertalite itu untuk masyarakat yang membutuhkan. Jadi, kalau yang mampu janganlah menggunakannya karena bukan peruntukannya," kata Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Tutuka Ariadji, dalam keterangan resminya (19/10).