BUSINESS

Imbas Kenaikan Harga BBM, Kinerja Sektor Logistik Akan Alami Tekanan

BBM ambil porsi sampai 40 persen dari biaya angkutan darat.

Imbas Kenaikan Harga BBM, Kinerja Sektor Logistik Akan Alami TekananSejumlah kendaraan terjebak kemacetan di Tol Jakarta-Cikampek, Bekasi, Jawa Barat, Rabu (16/3/2022). ANTARA FOTO/Fakhri Hermansyah/tom.

by Eko Wahyudi

05 September 2022

Follow Fortune Indonesia untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow WhatsApp Channel & Google News

Jakarta, FORTUNE -  Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) menyatakan kenaikan biaya logistik nasional tidak bisa dihindari lantaran efek domino bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis solar yang mengalami kenaikan.

Kenaikan BBM ini  akan memberikan tekanan besar terhadap kinerja sektor logistik. Sebab, komponen ini menyumbang 35-40 persen dalam hitungan biaya angkutan darat. "Karena saya sampaikan tadi komponen BBM dalam angkutan darat cukup tinggi. Apalagi, distribusi barang dengan moda trasnportasi darat secara nasional masih didominasi angkutan darat," ucap Ketua Umum ALFI, Yukki Nugrahawan Hanafi, dalam pernyataannya, Senin (5/9).

Alfi mengatakan mayoritas pelaku logistik nasional termasuk operator truk pengangkut barang dan logistik selama ini menggunakan BBM bersubsidi. Hal ini disebabkan tuntutan pasar/konsumen yang tinggi atas biaya logistik yang rendah.

"Kami memahami adanya potensi kenaikan cost logistik terutama yang berhubungan dengan aktivitas truk barang dan logistik akibat kenaikan BBM solar bersubsidi tersebut. Namun, berapa persen besaran idealnya kenaikan tarif angkutan barang itu mesti dinegosiasikan secara bersama," ujarnya.

Efek tidak langsungnya yang berkaitan dengan biaya lain seperti biaya perawatan dan suku cadang juga akan terdongkrak naik. Sebab, ongkos produksi dan pengiriman suku cadang kepada pengusaha truk pun ikut naik.

Belum lagi respons pasar pengguna angkutan, yang pada dasarnya free market, seakan tidak peduli dan membebankan pergeseran harga akibat kenaikan harga BBM kepada pelaku penyedia jasa angkutan.

"Hal ini karena mereka mengangap dasar kenaikan hanya harga BBM sebagai akibat langsung tersebut," katanya.

Logistik butuh dukungan

Menurut Yukki, kondisi industri logistik di tengah momentum pemulihan ekonomi sekarang ini cukup baik karena volume sudah berangsur naik dan mobilitas semakin longgar.

Hanya saja, menurutnya, industri logistik masih memerlukan dukungan pemerintah guna memastikan agenda pemerintah bisa terealisasi.

Untuk itu ALFI menilai perlu kepastian mengenai ketersediaan suplai BBM tanpa henti secara nasional. Fenomena antrean pengisian BBM di SPBU yang terlihat akhir-akhir ini cukup masif dan memprihatinkan dan sudah berdampak kepada kinerja logistik, karena produktivitas barang modal seperti truk tidak optimal.

"Supply chain itu bicara reliability and sustainability yang predictable sesuai forecast, pun demikian dalam hal BBM dari supply dan demand," tuturnya.

Persoalan ketidakseimbangan supply and demand pada BBM solar bersubsidi untuk angkutan barang dan logistik, kata Yukki, masih menjadi masalah serius hingga ke daerah-daerah.

Mendorong ekosistem logistik yang efisien

ALFI sudah menginisiasi untuk mengambil peran dan berinovasi dalam membantu PT Pertamina (Persero) untuk mengurai masalah ini.

ALFI juga mendorong terwujudnya ekosistem logistik sebagai solusi jangka panjang mengatasi persoalan logistik sebagai bagian dari supply chain. Komitmen dalam efisiensi layanan logistik menjadi tolok ukur efektifnya kinerja logistik dan dukungan industri lainnya.

"Jadi, bisnis kami sangat bergantung juga terhadap industri lain yang menggunakan jasa kami. Efisiensi di sisi produsen sebagai konsumen kami berarti efisiensi di dalam bisnis kami. Sehingga perlu multisektor dan kelembagaan ini memastikan bisnis logistik berkelanjutan," kata Yukki.