Jakarta, FORTUNE— PT Elnusa Tbk (ELSA) k
memperluas bisnis di pasar non-captive dengan mengantongi dua proyek Survei Seismik 3D di Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan dari pelanggan di luar Gruo Pertamina. Kedua proyek tersebut memiliki total area sekitar 150 kilometer persegi dan ditargetkan rampung pada awal 2027.
Pekerjaan ini merupakan kelanjutan dari dua proyek seismik 3D sebelumnya dengan total area 365 kilometer persegi di wilayah yang berdekatan.
Dengan tambahan proyek tersebut, total area survei yang dikerjakan Elnusa untuk pelanggan yang sama mencapai sekitar 515 kilometer persegi. Keberlanjutan kontrak ini memperkuat rekam jejak perseroan di bisnis geoscience sekaligus menunjukkan kemampuan Elnusa bersaing di pasar eksternal Pertamina Group.
Corporate Secretary Elnusa, Rustam Aji, mengatakan keberlanjutan kepercayaan pelanggan membuktikan kapabilitas teknologi dan kualitas eksekusi perseroan.
“Bagi kami, proyek non-captive merupakan validasi terhadap daya saing Elnusa. Kepercayaan untuk kembali mengerjakan proyek di area yang berdekatan menunjukkan bahwa teknologi, kompetensi personel, serta kualitas eksekusi yang kami bangun dapat memberikan nilai bagi pelanggan,” ujar Rustam dalam keterangan tertulis, Jumat (4/9).
Menurut dia, Elnusa akan terus mengonversi keunggulan teknologi dan kompetensi tersebut menjadi peluang pasar serta sumber pertumbuhan bisnis baru.
Dalam proyek terbaru ini, Elnusa mengoptimalkan STRYDE Nimble Seismic System, bagian dari investasi teknologi seismik generasi terbaru yang diperkuat perseroan sejak awal 2026.
Sebelumnya, Elnusa telah berinvestasi pada 25.000 unit STRYDE Range+ nodes yang didukung STRYDE Nimble System dan STRYDE Mini System. Teknologi nodal tersebut memberikan fleksibilitas dalam desain survei, memungkinkan pelaksanaan pekerjaan secara simultan, serta meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya untuk akuisisi data seismik 2D maupun 3D.
Penggunaan teknologi tersebut juga bertujuan untuk meningkatkan kepadatan dan kualitas data seismik, mempercepat siklus survei, serta meningkatkan produktivitas operasi. Perangkat yang ringkas dan fleksibel menjadi salah satu keunggulan dalam menghadapi kondisi lapangan dengan akses terbatas.
Karakteristik tersebut menjadi penting dalam proyek di Musi Banyuasin yang mencakup area hutan, aliran sungai, kawasan pertambangan hingga permukiman. Kondisi lapangan yang beragam menuntut perencanaan survei yang adaptif, kesiapan personel, serta pengelolaan operasi yang disiplin.
Elnusa menempatkan aspek kesehatan, keselamatan, keamanan, dan lingkungan (HSSE), kepatuhan terhadap regulasi dan perizinan, serta komunikasi dengan pemerintah daerah dan masyarakat sebagai bagian dari pelaksanaan proyek.
Penguatan bisnis geoscience menjadi bagian dari strategi Elnusa untuk menjadikan teknologi dan inovasi sebagai penggerak pertumbuhan. Kapabilitas tersebut ditopang pengalaman perseroan dalam mengerjakan proyek seismik onshore maupun offshore dengan beragam skala dan karakteristik.
Rustam mengatakan investasi teknologi diarahkan tidak hanya untuk meningkatkan kemampuan teknis, tetapi juga menghasilkan manfaat ekonomi bagi perseroan.
“Ke depan, kami ingin memastikan setiap investasi teknologi dapat mengoptimalkan nilai ekonomi. Teknologi tidak berhenti sebagai peningkatan kapabilitas, tetapi harus mampu meningkatkan efisiensi, menjawab kebutuhan pelanggan, memperluas pasar, dan pada akhirnya menciptakan nilai jangka panjang bagi perseroan dan pemegang saham,” katanya.
Melalui ekspansi pasar non-captive dan investasi teknologi seismik, perweroan bakal memperluas basis pelanggan sekaligus mengoptimalkan utilisasi aset dan kompetensi. Strategi tersebut melengkapi bisnis perseroan di ekosistem Pertamina sekaligus membuka sumber pertumbuhan baru di pasar jasa energi.
