Comscore Tracker
BUSINESS

Kinerja Manufaktur Indonesia Juni 2022 Melambat

Industri mulai naikkan harga jual ke konsumen.

Kinerja Manufaktur Indonesia Juni 2022 MelambatIlustrasi pekerja di di industri manufaktur/Shutterstock/Gorodenkoff

by Hendra Friana

Jakarta, FORTUNE - Kinerja sektor manufaktur Indonesia mengalami perlambatan dan nyaris masuk ke zona negatif pada Juni 2022. Purchasing Manager's Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang dirilis S&P Global, Jumat (1/7) pekan lalu menunjukkan indeks manufaktur dalam negeri berada pada level 50,2, turun dari 50,8 pada Mei. 

PMI bulan lalu juga tercatat pada level terlambat dalam sepuluh bulan terakhir. Meski demikian, poduksi manufaktur kembali ke wilayah ekspansi di tengah laporan pembangunan stok dan peningkatan permintaan. Volume pesanan baru telah berkembang lebih jauh walaupun kehilangan momentum pertumbuhannya. 

Dengan permintaan yang terus meningkat, survei terbaru menunjukkan aktivitas pembelian yang lebih tinggi. Sementara itu, kinerja vendor tidak berubah dari Mei karena laporan masalah rantai pasokan tetap ada. 

Akibatnya, bahan baku tetap langka dan harganya naik lebih jauh, meningkatkan input dan harga output karena perusahaan membebankan biaya pemasok yang lebih tinggi kepada pelanggannya.

Menurut S&P, dikutip Senin (4/7),  kembalinya pertumbuhan produksi manufaktur sejalan dengan ekspansi lanjutan dalam volume pemesanan. Namun, pertumbuhan output dan pesanan baru tercatat minimum dan terpantau mengalami perlambatan terparah dalam 10 tahun terakhir.

Margin tergerus

Permintaan konsumen asing bulan lalu juga turun dengan laju tercepat dalam sembilan bulan terakhir, sedangkan tekanan inflasi tekanan inflasi Juni masih bertahan. "Harga lebih tinggi untuk bahan baku mentah, menyusul kelangkaan produk yang meluas, mendorong kenaikan biaya input, menurut panelis. Selanjutnya, kenaikan PPN baru-baru ini dilaporkan memperburuk masalah ini," tambah S&P.

Sejalan dengan kenaikan harga dari pemasok bahan baku, perusahaan manufaktur Indonesia juga terus mentransmisikan beban produksi kepada konsumen sehingga memicu kenaikan harga.

S&P juga mencatat peningkatan aktivitas pembelian selama sepuluh bulan berturut-turut pada Juni, dengan tingkat pertumbuhan paling tajam sejak Januari. Namun, persediaan pra-produksi secara luas tidak berubah. Hal ini lantaran margin pendapatan dari penjualan tersebut tergerus oleh akumulasi biaya modal tambahan untuk memenuhi permintaan saat ini. 

"Perusahaan yang disurvei mencatat sedikit peningkatan dalam persediaan produksi sebelum peluncuran produk baru," tulis S&P.

Di sisi lain, S&P juga mencatat peningkatan optimisme di seluruh sektor manufaktur Indonesia pada Juni saat prospek perbaikan ekonomi yang berkelanjutan dan penguatan kondisi permintaan menjadi alasan paling banyak disampaikan oleh responden. Akan tetapi, tingkat keseluruhan sentimen positif turun ke empat bulan rendah.

"Sementara itu, penurunan tingkat pekerjaan tercatat pada bulan Juni, setelah lima bulan berturut-turut mengalami ekspansi," demikian S&P.

Related Articles