Jakarta, FORTUNE - Grab Indonesia mengalokasikan dana hingga Rp100 miliar untuk menjalankan sejumlah program peningkatan kesejahteraan mitra pengemudi sekaligus upaya menjaga keberlanjutan ekosistem platform.
CEO Grab Indonesia Neneng Goenadi mengatakan, komitmen tersebut dijalankan melalui tiga program besar yang terbagi dalam tiga babak yang menyasar aspek perlindungan, apresiasi, hingga peningkatan kapasitas mitra pengemudi.
Pilar pertama, menjaga rasa aman. Grab bekerjasama dengan BPJS ketenagakerjaan membayarkan iuran Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan Jaminan Kematian (JKM) bagi ratusan ribu mitra pengemudi bukan penerima upah (BPU) berprestasi dan produktif. Program ini dijalankan tanpa mengubah skema kemitraan yang fleksibel, yang selama ini menjadi daya tarik utama model bisnis platform digital.
Pilar kedua, memberi makna yang diwujudkan melalui Bonus Hari Raya (BHR). Neneng mengatakan, komitmen ini sudah dicanangkan perusahaan sejak awal tahun.
“Seluruh mitra yang memenuhi kriteria dipastikan menerima BHR sebelum Hari Raya, dengan detail mekanisme yang akan diumumkan secara resmi,” katanya di Jakarta, Kamis (27/2).
Pilar ketiga: mitra naik kelas. Program ini membuka jalur mobilitas ekonomi bagi mitra, mulai dari pengemudi roda dua yang naik menjadi pengemudi roda empat, pengemudi yang berkembang menjadi mitra Grab Merchant, hingga mitra yang memilih melanjutkan pendidikan.
Hingga saat ini, lebih dari 3.400 mitra pengemudi telah menjadi mitra merchant, sementara lebih dari 1.700 mitra GrabBike telah beralih menjadi mitra GrabCar. Program ini menciptakan multiplier effect dengan memperluas basis layanan, meningkatkan nilai ekonomi per mitra dalam menangkap peluang di era ekonomi digital.
Ekonomi digital Indonesia terus berkembang dan menjadi salah satu pendorong penting pertumbuhan nasional. Layanan berbasis aplikasi atau on-demand service telah menjadi bagian dari keseharian masyarakat yang tidak terpisahkan, mulai dari transportasi, pengantaran makanan, logistik, hingga layanan keuangan digital.
Perkembangan ini tidak hanya menghadirkan kemudahan bagi konsumen, tetapi sekaligus membuka akses peluang penghasilan bagi jutaan masyarakat dari berbagai latar belakang. Model berusaha berbasis platform memungkinkan masyarakat untuk tetap produktif tanpa harus terikat dalam hubungan kerja formal dengan jam kerja tetap, atau dikenal dengan istilah gig economy.
Gig economy mencakup profesi yang sangat luas, termasuk pengemudi transportasi online (ride-hailing) yang bekerja secara mandiri dan memiliki fleksibilitas untuk menentukan sendiri tingkat serta intensitas aktivitas mereka.
Grab adalah salah satu platform gig economy di industri ride-hailing. Sejak hadir di Indonesia pada 2014, melalui ekosistem layanan digital yang terintegrasi, Grab kini telah menjangkau lebih dari 300 kota dan kabupaten di Indonesia. Menurut Studi ITB (2023) industri ride-hailing dan pengantaran online menyumbang Rp382,62 triliun atau 2 persen terhadap total PDB Indonesia tahun 2022, dan Grab berkontribusi sekitar 50 persen di industri transportasi dan pengantaran online (Oxford Economics, 2024), mencerminkan besarnya dampak ekonomi yang dihasilkan oleh keseluruhan ekosistem layanan Grab.
Dalam ekosistem Grab Indonesia, profil mitra mencerminkan fungsi platform sebagai akses ekonomi yang terbuka dan inklusif. Sekitar 1 dari 2 mitra pengemudi sebelumnya merupakan korban PHK atau tidak memiliki sumber pendapatan. Lebih dari 50 persen mitra berusia di atas 36 tahun, dengan mayoritas berlatar belakang pendidikan terakhir SMA atau SMK.
Tercatat sekitar 182.500 Mitra Pengemudi perempuan terdaftar, dengan banyak di antaranya ibu tunggal sekaligus tulang punggung keluarga. Selain itu, lebih dari 700 mitra pengemudi Grab merupakan penyandang disabilitas.
“Kondisi ini menegaskan bahwa GRAD berperan sebagai bantalan sosial bagi sekitar 50% mitra pengemudi Grab, khususnya bagi mereka yang terdampak PHK. Inisiatif ini merupakan hal baru yang sebelumnya belum tersedia,” ujar Neneng.
