Jakarta, FORTUNE — Grab Indonesia akan memberikan Bonus Hari Raya (BHR) terhadap 400.000 mitra pengemudi ojek online (ojol) dan taksi online tahun ini. Untuk mendukung program tersebut, perusahaan mengalokasikan dana hingga Rp110 miliar, naik dua lipat dibandingkan tahun sebelumnya.
Nominal tertinggi yang diterima mitra mencapai Rp850.000–Rp1,6 juta, sementara nominal terendah meningkat hingga tiga kali lipat dibandingkan tahun lalu. Selain itu, Grab juga memberikan 105 paket umrah senilai Rp5 miliar melalui program Perjalanan Bermakna sebagai bentuk apresiasi tambahan bagi Mitra Pengemudi berprestasi.
Perusahan menilai. kebijakan ini sebagai langkah penting dalam memperkuat perlindungan sosial sekaligus menjaga keberlanjutan ekosistem ekonomi digital.
“Grab hadir untuk Indonesia dalam memperkuat ekosistem ekonomi digital yang adil, inklusif, dan berkelanjutan. Model kemitraan yang fleksibel mencerminkan semangat ekonomi kerakyatan dan gotong royong, serta membuka kesempatan berusaha bagi masyarakat di berbagai daerah,” ujar Neneng Goenadi, Chief Executive Officer Grab Indonesia dalam keterangan tertulis, Rabu (4/3).
Ia menambahkan, BHR 2026 merupakan bentuk penghargaan Grab kepada mitra pengemudi dengan produktivitas tinggi. Program ini disusun berdasarkan data produktivitas mitra agar dukungan yang diberikan benar-benar berdampak dan dirasakan langsung di bulan suci.
Dalam konferensi pers pada 3 Maret 2026, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, pemerintah telah melakukan koordinasi lintas kementerian serta komunikasi intensif dengan seluruh perusahaan aplikator untuk memastikan BHR 2026 berjalan tepat waktu dan tepat sasaran.
Secara nasional, program BHR tahun ini diproyeksikan menjangkau sekitar 850.000 Mitra Pengemudi aktif dari seluruh aplikator. Dari jumlah tersebut, lebih dari 400.000 Mitra Pengemudi berasal dari ekosistem Grab, sejalan dengan skema berbasis produktivitas aktif di platform.
Sebelumnya, Menteri Ketenagakerjaan Yassierli juga menegaskan pentingnya mempertimbangkan karakter fleksibilitas model kemitraan di sektor ekonomi digital.
“Skema BHR harus adil dan mencerminkan tingkat keaktifan mitra. Mitra yang bekerja penuh waktu dan paruh waktu tentu berbeda, karena model bisnisnya juga berbeda dengan pekerja konvensional,” ujarnya.