Ikhtiar Pertamina Menjaga Napas Ekonomi Rumah Tangga
Jakarta, FORTUNE - Di Pintu 3 Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Minggu, 15 Maret 2026, Lina duduk bersimpuh sejak pukul 03.30 WIB. Pegawai dengan upah standar UMR ini bukan sedang mengantre sembako, melainkan menunggu keberangkatan bus yang akan membawanya pulang ke Ngawi, Jawa Timur. Lina adalah satu dari 5.000 peserta program Mudik Bareng Pertamina 2026. Dalam momen ini, perusahaan itu memberangkatkan 153 unit bus menuju 23 kota di Pulau Jawa.
Bagi Lina, program bertajuk “Mudik Aman, Berbagi Harapan” ini adalah juru selamat finansial. Ia menghitung, penghematan untuk tiket tiga orang anggota keluarganya mencapai Rp2.100.000.
“Itu pun baru pengeluaran untuk tiket, belum termasuk makan dan minum,” ujarnya dikutip dari siaran pers.
Dana yang terselamatkan itu kini dialihkan untuk memperkuat konsumsi rumah tangga di kampung: mulai dari memasak opor ayam hingga mengisi 'amplop' Lebaran.
Wakil Direktur Utama Pertamina, Oki Muraza, menegaskan kegiatan mudik bareng ini adalah bagian dari dukungan terhadap upaya pemerintah mendorong perjalanan yang lebih hemat energi. Dengan mengonsolidasikan pemudik ke dalam transportasi massal, Pertamina berupaya menekan kepadatan kendaraan pribadi yang kerap memicu inefisiensi bahan bakar di jalan raya.
“Melalui program Mudik Bareng Pertamina 2026, kami ingin berkontribusi dalam mendukung upaya pemerintah mendorong perjalanan mudik yang lebih hemat energi,” ujar Oki dikutip dari siaran pers (17/3).
Ia menambahkan, fasilitas pendukung seperti ruang tunggu nyaman, jalur khusus lansia, hingga layanan kesehatan disiapkan agar pemudik memulai perjalanan dengan rasa tenang.
Namun, potret ekonomi 2026 memang masih menyisakan tantangan. Iwan, warga Jalan Bangka, Jakarta Selatan, adalah saksi hidup betapa tipisnya batas antara tradisi dan kesulitan ekonomi. Setelah istrinya terkena perampingan kerja setahun lalu, program mudik gratis Pertamina ini menjadi peluang tunggal bagi keluarganya untuk melepas rindu pada sate klathak di Yogyakarta setelah tiga tahun absen pulang.
“Dalam kondisi seperti sekarang, kita memang harus banyak berhemat,” katanya.
Selain itu, menurut Komisaris Utama Pertamina, Mochamad Iriawan, keselamatan adalah komoditas termahal dalam ritus mudik ini.
“Kepada pengemudi, paling penting bukanlah mengejar cepat tetapi selamat, pastikan seluruh pemudik tiba dengan selamat di kampung halaman,” kata Iriawan dalam siaran pers yang sama.
Secara korporat, langkah ini juga diselaraskan dengan transformasi Pertamina yang berorientasi pada prinsip Environmental, Social & Governance (ESG). Sebagai pemimpin transisi energi yang kini berkoordinasi dengan Danantara, Pertamina berupaya mengejar target Net Zero Emission 2060. Melalui transportasi bersama yang efisien, emisi karbon di jalur mudik coba ditekan serendah mungkin.
















