Bangkok, FORTUNE – Konflik geopolitik di Timur Tengah membuat harga bahan baku plastik melonjak tinggi dalam beberapa bulan terakhir hingga berdampak ke sejumlah sektor, termasuk industri pendukung kesehatan.
Data Procurement Resource menunjukkan bahan baku plastik Polycarbonate (PC) diperdagangkan dengan harga sekitar US$2.220/ton hingga US$2.260/ton pada Desember 2025.
Harga ini makin melonjak hingga April 2026, mencapai kisaran US$2.382/ton.
Menanggapi hal tersebut, Business Development Manager Sanner Group, Noviyan Permadi, menyatakan kondisi ini membuat perusahaan khawatir dan harus menyesuaikan harga ke pelanggan.
Sebagai perusahaan penyedia kemasan untuk industri farmasi dan consumer goods asal Jerman, Sanner Group telah memasok produk untuk pasar Asia-Pasifik melalui fasilitas produksinya di Cina.
“Dari sisi materialnya telah naik, dan pasti kita sebagai perusahaan kemasan juga mengalami kenaikan. Namun, untungnya para customer sudah memahami dan mengikuti,” kata Noviyan saat ditemui media pada ajang CPHI Southeast Asia 2026 yang diselenggarakan Informa Markets di Bangkok, Kamis (9/7).
Ia menambahkan, pihaknya akan terus memantau kondisi ini agar tidak berdampak terlalu luas ke perusahaan. Apalagi, produk yang dipasarkan didominasi kemasan farmasi yang dilengkapi desiccant berbahan silica gel untuk menjaga kualitas produk tanpa bersentuhan langsung dengan obat.
“Sekitar 80 persen hingga 85 persen penjualan perusahaan berasal dari industri farmasi. Selebihnya berasal dari segmen kosmetik dan industri lainnya,” ujar Noviyan.
Di sisi lain, Sanner Group masih memandang Indonesia sebagai salah satu pasar penting di kawasan ASEAN bersama Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam. Dengan demikian, pihaknya masih membuka peluang membangun fasilitas produksi di Indonesia.
Pada kesempatan berbeda dalam sesi wawancara khusus dengan Fortune Indonesia, Presiden Direktur Siloam International Hospitals, David Utama, juga sempat menyatakan konflik di Timur Tengah dapat memicu kenaikan biaya operasional rumah sakit, serta bahan baku farmasi.
Dengan kata lain, manajemen Silaom tidak melihat isu global secara reaktif, melainkan telah memasukkannya ke dalam skenario perencanaan.
“Kami tentunya punya contingency plan, yang kami selalu diskusikan,” ujarnya.
Dari sisi farmasi, lanjutnya, tekanan biaya kemungkinan akan datang dari kenaikan harga bahan baku obat atau active pharmaceutical ingredients (API). Meski demikian, ketergantungan Indonesia yang masih bertumpu pada pasokan dari India dan Cina dinilai membuat risiko gangguan suplai tersebut relatif akan terbatas.
“Pasti ada kenaikan harga, tapi itu sesuatu yang harus kita hadapi bersama,” kata David.
Selain obat-obatan, tekanan biaya juga muncul dari sisi yang kerap luput dari perhatian publik, seperti kemasan berbasis plastik dan distribusi logistik.
Dalam beberapa pekan terakhir, komponen ini mengalami lonjakan harga signifikan seiring kenaikan biaya energi global. Bagi Siloam, persoalannya bukan sekadar apakah biaya akan naik, melainkan seberapa besar dampaknya terhadap keseluruhan struktur pengeluaran.
