Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install
For
You

Cari Sumber Cuan Baru, Hotel Tinggalkan Ketergantungan MICE Pemerintah

Cari Sumber Cuan Baru, Hotel Tinggalkan Ketergantungan MICE Pemerintah
ilustrasi hotel, wisatawan di Bali, Indonesia (unsplash.com/Hu Chen)
Intinya Sih
  • Hotel di Jakarta dan Bali mulai mengurangi ketergantungan pada pasar MICE pemerintah, beralih ke strategi value driven hospitality untuk meningkatkan kualitas pendapatan.
  • Pendapatan hotel kini lebih banyak berasal dari restoran, spa, layanan wellness, serta pengalaman tamu seperti konser dan acara sosial yang makin digencarkan.
  • Investasi hotel premium tetap tinggi dengan dominasi pembangunan hotel bintang lima di Jakarta dan Bali hingga 2029, mencerminkan minat kuat pada segmen mewah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, FORTUNE - Industri perhotelan di Jakarta dan Bali mulai mengubah strategi bisnis seiring menurunnya kontribusi pasar pemerintah, terutama dari segmen meeting, incentive, convention, and exhibition (MICE). Pelaku usaha kini lebih fokus meningkatkan kualitas pendapatan dengan memperluas sumber pemasukan di luar penjualan kamar.

Head of Research Colliers Indonesia, Ferry Salanto, mengatakan tren tersebut mulai terlihat hingga kuartal II-2026. Berkurangnya aktivitas pemerintah mendorong operator hotel mencari sumber permintaan baru sekaligus mengoptimalkan layanan bernilai tambah.

"Kalau kita lihat secara umum memang hotel di Jakarta dan Bali bergeser dari yang tadinya volume driven hospitality, sekarang menuju value driven hospitality," ujarnya dalam Colliers Media Briefing Q2 2026, Rabu (8/7).

Menurut Ferry, ukuran keberhasilan bisnis hotel kini tidak lagi semata ditentukan oleh tingkat okupansi, melainkan juga besarnya pengeluaran dan kualitas pendapatan yang dihasilkan dari setiap tamu yang menginap.

Perubahan tersebut membuat hotel tidak lagi bergantung pada pendapatan dari penyewaan kamar. Berbagai lini usaha seperti restoran, spa, layanan wellness, hingga pengalaman (experience) yang ditawarkan kepada tamu kini menjadi sumber pendapatan yang semakin dioptimalkan.

Di Jakarta, melemahnya permintaan dari kegiatan MICE pemerintah mulai diimbangi oleh meningkatnya aktivitas dari segmen korporasi, staycation, penyelenggaraan pernikahan, konser, serta berbagai acara sosial lainnya.

Sementara itu, di Bali, pelaku industri mengubah fokus bisnis dari mengejar jumlah wisatawan menjadi mendorong tamu menghabiskan waktu lebih lama di destinasi tersebut agar nilai belanja selama menginap meningkat.

"Di Bali, yang dicari bukan lagi sebanyak mungkin tamu atau wisatawan menginap, tapi bagaimana caranya wisatawan bisa tinggal lebih lama," kata Ferry.

Di sisi investasi, Colliers menilai minat pengembang terhadap hotel premium masih tetap tinggi. Hal itu tercermin dari dominasi pembangunan hotel bintang lima dalam proyek-proyek yang sedang dikembangkan di Jakarta maupun Bali.

Colliers grafik.jpg
Dok. Colliers Indonesia

Berdasarkan data kuartal II-2026, pasar hotel di Bali memiliki sekitar 62.000 kamar dengan 103 kamar yang ditutup dan 38 kamar baru yang mulai beroperasi. Hingga 2029, pasokan kamar di Pulau Dewata diproyeksikan masih akan bertambah sekitar 1.700 kamar.

Sementara itu, Jakarta mencatat total stok sekitar 48.500 kamar. Sepanjang kuartal II-2026, terdapat 668 kamar yang ditutup, sedangkan 139 kamar baru masuk ke pasar. Ke depan, ibu kota diperkirakan akan memperoleh tambahan sekitar 1.696 kamar baru hingga 2029.

Riset Colliers menunjukkan sekitar 52,3 persen tambahan pasokan kamar hotel di Jakarta pada periode 2026–2029 berasal dari hotel bintang lima. Sementara di Bali, porsinya bahkan mencapai 91,6 persen, mencerminkan kuatnya minat investor pada segmen hotel mewah.

Dari sisi lokasi, hampir separuh proyek hotel baru di Jakarta atau sekitar 47,5 persen terkonsentrasi di kawasan pusat bisnis (central business district/CBD). Adapun di Bali, pembangunan hotel paling banyak berlangsung di kawasan Seminyak–Canggu dengan porsi 43,1 persen, disusul Ubud sebesar 31,6 persen.

Hingga kuartal II-2026, stok kamar hotel di Bali tercatat sekitar 62.000 unit, sedangkan Jakarta memiliki sekitar 48.500 kamar. Dalam tiga tahun ke depan, pasokan diperkirakan masih bertambah sekitar 1.700 kamar di Bali dan 1.696 kamar di Jakarta hingga 2029.

"Jadi kami lihat indikator keberhasilan hotel ke depan itu tidak hanya dari average occupancy rate, tapi juga kualitas pendapatan yang dihasilkan dari setiap tamu," katanya.

Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
Pingit Aria
EditorPingit Aria

Related Articles

See More