Comscore Tracker
BUSINESS

Industri Maskapai Berkomitmen Kurangi Dampak Iklim, Bagaimana Caranya

Upaya bebas emisi akan berdampak ke tarif yang lebih mahal.

Industri Maskapai Berkomitmen Kurangi Dampak Iklim, Bagaimana CaranyaPemandangan jet bisnis dan pesawat kecil di Bandara Eksekutif Henderson selama Pameran dan Konvensi NBAA Bisnis Aviasi di Henderson, Nevada, Amerika Serikat, Selasa (12/10/2021). ANTARA FOTO/REUTERS/Steve Marcus/HP/djo

by Luky Maulana Firmansyah

Jakarta, FORTUNE - Industri penerbangan turut bertanggung jawab dalam jejak emisi karbon dunia. Lalu, bagaimana sektor ini berkomitmen mengurangi emisinya demi meredam dampak perubahan iklim?

Hingga saat ini belum secara persis diketahui kontribusi industri penerbangan terhadap emisi karbon dunia. Badan Energi Internasional (EIA), misalnya, memperkirakan industri tersebut menyumbang sekitar 2,5 persen.

Namun, jurnal ilmiah Atmospheric Environment menyebut persentase lebih besar, yakni 3,5 persen. Peneliti lain bahkan mengutip angka hingga di atas 5 persen.

Emisi yang dihasilkan dari industri penerbangan tentu saja berasal dari bahan bakar fosilnya. Sebab, industri ini masih sangat bergantung pada sumber energi fosil. Sudah begitu, sejauh belum banyak teknologi yang memungkinkan penggunaan energi berkelanjutan.

Padahal, dunia tengah memasang target cukup serius. Pada konferensi tingkat tinggi (KTT) iklim COP26 di Glasgow, Skotlandia, negara-negara dunia menyepakati bahwa pemanasan global tidak bisa melebihi 1,5 derajat Celsius, sama dengan Perjanjian Paris pada 2015.

Target nol emisi karbon penerbangan, BBM berkelanjutan

Sebagaimana diwartakan Fortune.com, Asosiasi Transportasi Udara Internasional (Iata)—yang terdiri dari 290 maskapai—pada Oktober mengumumkan janji untuk mencapai nol emisi karbon (net zero emission). Namun, janji yang dibuat itu bersifat tidak mengikat bagi para anggotanya.

Janji IATA datang dengan peta jalan sebagai berikut. 63 persen pengurangan emisi akan berasal dari bahan bakar penerbangan berkelanjutan (sustainable aviation fuel/SAF). Lalu, 19 persen dari penangkapan dan penyeimbangan karbon (carbon offset), 13 persen dari terobosan teknologi pesawat, dan 3 persen dari operasi dan infrastruktur lebih efisien.

Berbagai upaya tersebut diperkirakan menelan biaya US$1,6 triliun atau setara Rp23.200 triliun. Namun, dalam janji itu, tak ada klausul untuk “terbang lebih sedikit”.

Bahan bakar berkelanjutan atau SAF, misalnya, dipandang sebagai cara terbaik untuk mengurangi emisi karbon secara drastis. Masalahnya, pasokan SAF sat ini hanya sekitar 0,1 persen dari total pasokan bahan bakar pesawat jet.

Kepada BBC, Direktur Jenderal IATA, Willie Walsh, mengakui bahwa untuk menciptakan tingkat produksi SAF hingga mencapai level yang dibutuhkan memang merupakan tantangan besar. Peningkatan produksi akan menurunkan biaya ke tingkat yang lebih kompetitif. Dia berharap dalam hal ini industri bisa bekerja sama dengan pemerintah.

IATA menargetkan pasokan bahan bakar berkelanjutan mencapai 10 persen pada 2030. Tom Berg, manajer kebijakan dan keberlanjutan di produsen SAF SkyNRG, memperkirakan untuk mencapai itu dibutuhkan investasi US$117 miliar sampai US$350 miliar (sekitar Rp1696,5 triliun sampai Rp5.075 triliun). Namun, tantangan lainnya dari SAF ini adalah harganya yang saat ini mencapai empat kali lipat dari bahan bakar konvensional.

Dari Delta Airlines hingga Boeing

Sejumlah maskapai dunia menyadari upaya menuju netral karbon sangat sulit dan membutuhkan kerja sama banyak pihak. Delta Air Lines—maskapai terbesar kedua di dunia—menyatakan tujuan ambisius itu tidak dapat dicapai oleh maskapainya sendiri.

“Ini adalah tantangan jangka panjang terbesar yang dihadapi industri ini," kata Kepala Eksekutif Delta Air Lines, Ed Bastian, kepada BBC.

Menurut Ed, industri penerbangan masuk kategori sulit untuk menjalani dekarbonisasi lantaran belum ada bahan bakar penerbangan berkelanjutan secara masif. Namun, perusahaan menargetkan penggunaan 10 persen bahan bakar SAF pada akhir 2020.

Delta, yang berbasis di Atlanta, menyebut telah menghabiskan US$30 juta (sekitar Rp450 miliar) per tahun untuk penyeimbangan karbon (carbon offset). Mereka mengklaim telah menjadi netral karbon sejak Maret 2020. Perusahaan juga berjanji menghabiskan US$1 miliar (Rp14,5 triliun) dalam dekade berikutnya untuk menghapus semua emisinya.

Sementara, produsen pesawat seperti Boeing berkomitmen mengembangkan pesawat yang dapat terbang 100 persen dengan SAF, seperti Biofuel, pada sembilan tahun mendatang. Sedangkan, Airbus juga menargetkan hal sama serta menawarkan pesawat jarak pendek tanpa emisi pada 2035.

Harga tiket pesawat mahal

Sementara itu, Andreas Schafer, profesor energi dan transportasi di University College London, mengatakan upaya industri penerbangan menuju kondisi netral karbon akan memakan biaya triliunan dolar.

Atas kondisi sebegitu, berdasarkan hasil awal dari penelitian timnya, harga tiket pesawat perlu naik 10 sampai 20 persen untuk menutupi biayanya. “"Dalam jangka pendek, dukungan pemerintah akan dibutuhkan dengan biaya tersebut karena dekarbonisasi penerbangan akan sangat menantang, dan upaya saat ini perlu ditingkatkan secara dramatis", kata Schafer.

Ed Bastian dari Delta Air Lines juga mengatakan bahwa upaya mengatasi perubahan iklim akan membuat penerbangan menjadi lebih mahal. "Seiring waktu, itu akan membebani kita semua, tetapi itu adalah pendekatan yang tepat yang harus kita ambil," katanya.

Maskapai penerbangan memang membebankan harga bahan bakar kepada konsumen. Masalahnya, seturut Tom Berg dari SkyNRG, banyak penumpang maskapai berbiaya rendah (low cost carrier/LCC) yang mungkin tidak mampu membayar tarif lebih tinggi.

“Jika harga tiketnya U$30, dan naik menjadi US$30 per perjalanan karena harga bahan bakar yang lebih tinggi, banyak dari pelancong tidak akan mampu dengan harga tersebut,” katanya, seperti dilansir dari Fortune.com. “Kenaikan US$30 yang sama tidak terlalu penting bagi penumpang di maskapai lama yang sudah membayar US$300 atau lebih untuk sebuah tiket.”

Related Articles