Jakarta, FORTUNE - Emiten barang konsumsi, PT Unilever Indonesia mencatatkan pertumbuhan kinerja pada kuartal I 2026 dengan membukukan penjualan bersih Rp8,4 triliun dan laba bersih Rp1,3 triliun, di tengah kondisi pasar yang masih menantang. Kinerja tersebut ditopang oleh pertumbuhan penjualan domestik, penguatan kanal distribusi, serta efisiensi biaya yang dijalankan perseroan sepanjang tahun terakhir.
Dalam laporan kinerja keuangan perseroan, UNVR mencatat penjualan bersih dari operasi yang dilanjutkan—di luar bisnis Teh SariWangi—tumbuh 2,8 persen secara tahunan menjadi Rp8,4 triliun. Sementara itu, laba bersih dari operasi yang dilanjutkan melonjak 14,1 persen menjadi Rp1,3 triliun.
Perseroan juga mencatat pertumbuhan penjualan domestik sebesar 3,5 persen terdorong kenaikan volume dasar 2,1 persen. Di sisi profitabilitas, laba sebelum pajak meningkat menjadi 18,9 persen, naik 167 basis poin dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Presiden Direktur Unilever Indonesia, Benjie Yap mengatakan hasil kuartal pertama 2026 mencerminkan momentum pertumbuhan yang mulai terbentuk sejak 2025, setelah perusahaan menjalankan berbagai langkah disiplin untuk memperkuat fundamental bisnis.
“Di tengah kondisi eksternal yang masih menantang, langkah-langkah disiplin yang telah kami jalankan selama setahun terakhir mulai menunjukkan kemajuan pada kualitas pertumbuhan, kekuatan eksekusi di pasar, serta ketangguhan kinerja keuangan perseroan,” kata Benjie dalam keterangan tertulis, Kamis (30/4).
Hasil kinerja kuartal pertama tersebut memperkuat keyakinan perusahaan bahwa bisnis kami berada dalam jalur kemajuan yang positif, didukung oleh fundamental yang terus membaik serta momentum yang kuat.
Sebagai bagian dari transformasi bisnis, Unilever Indonesia juga telah menyelesaikan divestasi bisnis Teh SariWangi pada kuartal pertama 2026. Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi penataan portofolio untuk fokus pada segmen dengan pertumbuhan lebih tinggi.
Perseroan menjalankan strategi pertumbuhan melalui tiga pilar utama, yakni penguatan kategori produk, optimalisasi saluran penjualan, dan efisiensi biaya.
Di sisi kategori, perusahaan memperluas penetrasi produk melalui inovasi dan peluncuran kemasan dengan harga yang lebih terjangkau untuk menjangkau konsumen yang lebih luas. Kontribusi portofolio pada segmen dengan pertumbuhan tinggi juga meningkat dari 8,3 persen menjadi 10 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Pada saluran distribusi, pertumbuhan kineraja perusahaan ditopang oleh kinerja kanal General Trade dan Modern Trade, serta pertumbuhan kuat dari segmen Health and Beauty dan Digital Commerce. Perseroan juga memperkuat penetrasi di kanal kesehatan dan kecantikan melalui peluncuran produk eksklusif serta kerja sama strategis dengan AS Watson Group.
Pada aspek efisiensi, Unilever terus menjalankan disiplin biaya dan transformasi digital guna menjaga margin di tengah tekanan kenaikan biaya bahan baku dan fluktuasi nilai tukar.
Ke depan, Unilever Indonesia menargetkan pertumbuhan yang melampaui pasar dengan tetap menjaga profitabilitas, dan secara proaktif mengantisipasi berbagai tekanan eksternal. Perseroan memperkirakan margin pada 2026 akan mengalami peningkatan moderat seiring penguatan fondasi bisnis dan pemulihan volume penjualan.
“Meskipun kondisi pasar terus berubah, kami tetap memperkirakan adanya peningkatan margin yang moderat untuk tahun 2026 secara keseluruhan. Prioritas kami tetap sama: memperkuat fondasi bisnis, mewujudkan pertumbuhan yang konsisten, dan menciptakan nilai yang berkelanjutan bagi para pemegang saham,” kata Benjie.