Jakarta, FORTUNE - Emiten rumah sakit Mitra Keluarga, PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA), mengalokasikan belanja modal atau capital expenditure (capex) sejumlah Rp1 triliun pada 2026.
Sampai dengan semester-I 2026, perseroan telah merealisasikan belanja modal sebesar Rp577 miliar. Sekitar 49 persen perseroan gunakan untuk pengadaan peralatan medis dan 40 persen untuk pembangunan rumah sakit. Lalu, sisanya digunakan untuk membeli furnitur, edukasi dan pelatihan, serta kebutuhan lainnya.
Pengadaan peralatan medis masuk ke daam prioritas karena saat ini perseroan sedang fous pada ekspansi layanan untuk kasus kompleks. Itu akan menjadi salah satu katalis pertumbuhan berkelanjutan perseroan ke depan.
"Strategi kami terus meningkatkan kualitas pendapatan melalui komposisi pasien swasta yang semakin kuat, perluasan layanan spesiallis, serta peningkataan komplesitas kasus klinis yang ditangani di seluruh jaringan rumah sakit kami," kata Presiden Direktur MIKA, Rustiyan Oen dalam Paparan Publik MIKA, Kamis (10/9).
Sebagai konteks, pendapatan dari kasus dengan tingkat kompleksitas tinggi MIKA naik 28,6 persen (YoY), lebih tinggi dari pendapatan dari layanan umum yang naik 1,8 persen (YoY). Hal itu pun berdampak terhadap Average Revenue per Inpatient (ARPI) dan Average Revenue per Outpatient (ARPO), masng-masing meningkat di kisaran 12 persen.
Bagaimana dengan strategi ekspansi jumlah rumah sakit? Untuk saat ini, MIKA melaporkan masih mempunyai 7 land bank dalam pipeline pengembangan. Dua di antaranya sedang di fase pembangunan, yaitu site 1 (BSD) dan site 2 (Malang, Jawa Timur). Rumah sakit di BSD ditargetkan mulai aktif pada akhir 2026, sedangkan rumah sakit Malang dibidik mulai beroperasi pada awal 2027
Dampak dari proyek dalam pipeline dan ekspansi rumah sakit existing adalah penambahan kapasitas sekitar 2.200 tempat tidur. "Dengan pipeline greenfield dan ekspansi brownfield, penambahan kapasitas Mitra Keluarga berada di kisaran 3 sampai 5 persen setiap tahun," Direktur MIKA, Joyce Vidyayanti.
