Prajogo Pangestu menjadi satu-satunya miliarder asal Indonesia dalam daftar biggest losers Forbes per 21 Mei 2026. Kekayaannya turun 2,9 miliar dolar AS atau 17,35 persen dari hari sebelumnya menjadi 13,6 miliar dolar AS.
Penurunan tersebut membuat Prajogo tidak lagi menjadi orang terkaya nomor satu di Indonesia. Dua hari sebelumnya, tepatnya 19 Mei 2026, kekayaannya masih tercatat mencapai 16,6 miliar dolar AS.
Pelemahan kekayaan Prajogo terjadi setelah saham-saham Grup Barito mengalami penurunan signifikan sepanjang year to date (ytd). Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), enam saham yang dikendalikan Prajogo tercatat turun dalam kisaran 46 hingga 74 persen dengan rincian berikut:
CUAN (PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk) anjlok 74 persen ke Rp590 (kapitalisasi pasar turun ke Rp6,32 triliun).
BREN (PT Barito Renewables Energy Tbk) turun 71 persen ke Rp2.790 (kapitalisasi pasar turun ke Rp373 triliun).
PTRO (PT Petrosea Tbk) turun 64,29 persen ke Rp4.000.
TPIA (PT Chandra Asri Pacific Tbk) turun 62,67 persen ke Rp2.660.
CDIA (PT Chandra Daya Investasi Tbk) turun 53,94 persen ke Rp790.
BRPT (PT Barito Pacific Tbk) turun terendah sebesar 46 persen ke Rp1.720 sepanjang ytd.
Prajogo sendiri memulai bisnis dari sektor kayu pada akhir 1970-an sebelum mengembangkan Barito Pacific ke bisnis petrokimia dan energi. Perusahaannya juga mengendalikan sejumlah emiten besar di BEI seperti BREN, TPIA, hingga CUAN.