Deloitte : Minat Mobil Listrik RI Meningkat, Loyalitas Merek Rapuh

- Minat masyarakat Indonesia terhadap kendaraan listrik dan hybrid naik hingga 42 persen, namun loyalitas merek melemah dengan 69 persen responden berencana berpindah merek pada pembelian berikutnya.
- Biaya dan infrastruktur pengisian daya masih jadi hambatan utama adopsi kendaraan listrik, meski pemerintah tengah menyiapkan insentif untuk mendorong percepatan ekosistem kendaraan listrik nasional.
- Konsumen Indonesia semakin tertarik pada teknologi kendaraan berbasis perangkat lunak dan fitur AI, dengan mayoritas bersedia membayar layanan digital seperti pelacakan anti-pencurian dan bantuan darurat.
Jakarta, FORTUNE – Minat masyarakat terhadap kendaraan listrik meningkat, meski loyalitas konsumen terhadap merek mobil justru semakin melemah. Hal itu terungkap berdasarkan riset terbaru Deloitte 2026 Global Automotive Consumer Study: Southeast Asia Perspectives.
Kondisi ini membuka peluang sekaligus tantangan bagi produsen otomotif yang tengah berlomba menguasai pasar kendaraan energi baru (New Energy Vehicle/NEV).
Berdasarkan laporan tersebut, minat masyarakat Indonesia terhadap kendaraan hybrid dan listrik mencapai 42 persen, tertinggi ketiga di Asia Tenggara setelah Thailand dan Singapura. Pada saat yang sama, Indonesia mencatat penurunan preferensi terhadap kendaraan bermesin pembakaran internal (ICE) sebesar 7 poin persentase dibandingkan tahun sebelumnya, menjadi penurunan terbesar di kawasan.
Meski demikian, mayoritas konsumen atau 55 persen responden masih memilih kendaraan konvensional karena mempertimbangkan keterjangkauan biaya, akses pengisian daya, serta kesiapan infrastruktur kendaraan listrik.
Survei terhadap 6.013 responden di enam negara Asia Tenggara, termasuk lebih dari 1.000 responden di Indonesia, menunjukkan biaya masih menjadi hambatan utama adopsi kendaraan listrik. Sebanyak 90 persen responden Indonesia menyebut biaya pengisian daya sebagai faktor terpenting saat memilih lokasi pengisian kendaraan, tertinggi di kawasan.
Selain itu, meski 61 persen calon pembeli kendaraan listrik berharap dapat mengisi daya di rumah, hanya 54 persen yang telah memiliki fasilitas pengisian daya residensial, sementara 34 persen belum memiliki akses sama sekali.
Lee Seong Jin, Automotive Sector Leader Deloitte Asia Tenggara, menilai insentif kendaraan listrik yang tengah disiapkan pemerintah menjadi salah satu cara untuk mendorong adopsi kendaraan listrik. Namun, menurutnya, insentif harga harus diiringi percepatan pembangunan ekosistem pengisian daya.
"Biaya memang menjadi faktor paling sensitif bagi konsumen Indonesia. Namun insentif saja tidak cukup. Konsumen juga membutuhkan kepastian mengenai ketersediaan infrastruktur pengisian daya agar minat membeli kendaraan listrik benar-benar berubah menjadi keputusan pembelian," ujarnya dalam riset dikutip, Jumat (17/7).
Persaingan Produsen Kian Ketat

Pasar otomotif Indonesia juga ditandai dengan tingkat kompetisi yang tinggi dan kian sengit. Survei Deloitte juga memperlihatkan, 41 persen konsumen Indonesia mengaku telah berganti merek saat membeli kendaraan yang mereka gunakan saat ini, menjadi tingkat perpindahan merek tertinggi di Asia Tenggara.
Lebih jauh, 69 persen responden menyatakan berencana kembali berpindah merek pada pembelian kendaraan berikutnya. Temuan ini menunjukkan loyalitas konsumen semakin menurun sehingga produsen dituntut menawarkan produk, harga, dan layanan yang lebih kompetitif.
Adapun, faktor yang mendorong keputusan pembelian kendaraan di Indonesia masih didominasi oleh kualitas produk (68 persen), diikuti faktor performa kendaraan (66 perse)dan berikutnya harga (54 persen). Sementara itu, media sosial dan ulasan influencer menjadi sumber informasi paling berpengaruh dengan tingkat kepercayaan mencapai 62 persen, tertinggi di kawasan.
Selain elektrifikasi, Deloitte melihat peluang pertumbuhan datang dari kendaraan berbasis perangkat lunak atau software-defined vehicle (SDV).
Sebanyak 81 persen responden Indonesia menilai teknologi tersebut bermanfaat, tertinggi di Asia Tenggara. Adapun, 78 persen responden berminat menggunakan fitur personalisasi berbasis kecerdasan buatan (AI), seperti pengaturan otomatis suhu kabin, posisi kursi, hingga pencahayaan kendaraan.
Kesediaan konsumen membayar layanan digital kendaraan juga relatif tinggi. Sebanyak 90 persen responden bersedia membayar fitur pelacakan anti-pencurian, disusul layanan bantuan darurat (85 persen), laporan kondisi kendaraan (81 persen), serta fitur deteksi otomatis kendaraan dan pejalan kaki (76 persen).
Consumer Industry Leader Deloitte Indonesia Roy David Kiantiong mengatakan keberhasilan produsen otomotif di Indonesia tidak lagi hanya bergantung pada produk, tetapi juga kemampuan membangun ekosistem kendaraan listrik dan pengalaman digital yang menyeluruh.
"Produsen yang mampu menghadirkan ekosistem pengisian daya, layanan digital, serta pengalaman kepemilikan yang terintegrasi akan memiliki posisi paling kuat untuk memenangkan pasar otomotif Indonesia," ujarnya.



















