Jakarta,FORTUNE – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang terus berlanjut hingga menembus level Rp18.000/US$, turut berdampak terhadap kinerja bisnis industri properti, khususnya bagi para pengembang.
Perusahaan pengembang properti dan real estat, PT Pudjiadi Prestige Tbk (PUDP), contohnya, yang merasakan kenaikan harga bahan baku bangunan sekitar 30 hingga 35 persen akibat depresiasi rupiqh.
“Saya kasih contoh dari harga beton saja, yang tahun sebelumnya Rp900.000 per meter kubik, sekarang sudah menyentuh Rp1,3 juta harganya dari pabrik hingga ke tempat proyek,” kata Vice President Accounting & Finance PUDP, Veriko Sasetya, dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (4/6).
Veriko menambahkan, kenaikan harga bahan baku bangunan real estat ini juga disebabkan oleh ketidakpastian geopolitik ekonomi global yang menyebabkan efek domino terhadap ongkos tukang hingga transportasi. Harga bahan baku yang terus meningkat ini juga menyulitkan perusahaan dalam perencanaan keuangan ke depan.
Sementara itu, Vice President Operational Pudjiadi Prestige, Michael D. Pudjiadi, menjelaskan kenaikan harga bahan baku ini sudah mulai dirasakan sejak awal tahun. Apalagi, perusahaan tengah berupaya merenovasi sejumlah properti dengan sejumlah fasilitas penunjang terbaru sesuai dengan ekspektasi segmentasi pelanggan.
Untuk itu, bila kondisi ketidakpastian ekonomi berjalan panjang, perusahaan mulai mempertimbangkan untuk menaikkan harga sewa properti hingga harga rumah yang akan dijual.
“Jadi tarif sewa kemungkinan kita bisa naikin sedikit, namun masih dalam taraf harga wajar bagi yang ingin mencari rumah dan apartemen,” kata Michael.
Selain itu, strategi lainnya yang dilakukan PUDP ialah melakukan efisiensi biaya tanpa mengurangi kualitas ke pelanggan. PUDP juga lebih selektif mencari proyek-proyek dengan segmen premium dengan proyeksi permintaan pasar yang masih tinggi.
Di sisi lain, pengembang seperti Sinar Mas Land mengaku belum begitu mengkhawatirkan dampak pelemahan nilai tukar ke bisnisnya.
Emiten milik keluarga mendiang Eka Tjipta Widjaja ini menyatakan sebagian besar bahan baku pembangunan rumah masih berasal dari pemasok lokal dengan kualitas terbaik.
Head of Marketing & Business Development NavaPark, Wanto Ngali, mengatakan kondisi rupiah yang melemah ini tidak akan mengurangi minat masyarakat dalam membeli rumah lantaran sifatnya sebagai kebutuhan primer. Namun, ia menyadari masih ada masyarakat yang mencermati perkembangan kondisi ekonomi sebelum membeli rumah.
“Mereka pada dasarnya sudah memiliki bujet untuk mencari upgrade rumah yang mereka inginkan. Jadi, bukan karena rupiah melemah lalu mereka tidak bisa membeli," ujar Wanto.
Meski demikian, pihaknya terus memantau dan mewaspadai kondisi ekonomi global dan domestik untuk menetapkan target dan strategi bisnis. Baginya, industri properti masih memiliki kue pangsa pasar yang luas, termasuk untuk properti mewah dan premium.
