Jakarta, FORTUNE – Pelemahan nilai tukar rupiah dan gejolak Timur Tengah memberikan tekanan inflasi terhadap struktur biaya PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR). Meski demikian, perseroan menyatakan akan merespons kondisi tersebut secara terukur melalui efisiensi biaya, optimalisasi investasi, hingga penyesuaian harga yang dilakukan secara selektif.
Direktur Keuangan Unilever Indonesia, Neeraj Lal mengatakan tekanan biaya yang dihadapi perusahaan berasal dari berbagai faktor eksternal. Selain pelemahan rupiah terhadap mata uang asing, kenaikan biaya juga dipicu oleh gangguan pasokan dan kenaikan harga bahan baku yang berkaitan dengan industri petrokimia.
“Memang ada tekanan inflasi yang kami lihat saat ini. Tekanan tersebut berasal dari situasi di Timur Tengah, bahan baku berbasis petroleum, bahan kimia, kemasan, minyak sawit, dan tentu saja nilai tukar mata uang asing,” ujarnya dalam paparan publik di BSD, BSD, Tangerang, Kamis (4/6).
Menurut perseroan, kombinasi faktor-faktor tersebut menciptakan tekanan biaya yang harus dikelola secara hati-hati agar tidak mengganggu daya saing perusahaan di pasar.
Untuk menghadapi situasi tersebut, Unilever menerapkan pendekatan yang komprehensif. Strateginya mencakup disiplin biaya operasional, optimalisasi investasi, serta pengelolaan portofolio harga guna menjaga keseimbangan antara pertumbuhan volume penjualan dan profitabilitas.
“Kami mengambil respons yang komprehensif terhadap tekanan inflasi, termasuk disiplin biaya dan optimalisasi investasi, sehingga kami tetap memiliki respons yang kompetitif untuk mendorong pertumbuhan volume sekaligus margin,” ujarnya.
Di sisi lain, dampak pelemahan rupiah terhadap kinerja keuangan dinilai dapat diredam sebagian melalui strategi pengadaan bahan baku dan kinerja ekspor. Perusahaan juga memiliki berbagai mekanisme mitigasi untuk mengurangi eksposur terhadap fluktuasi mata uang.
“Kami memiliki strategi pengadaan bahan baku dan juga ekspor yang membantu mengurangi sebagian dampak tersebut. Namun secara keseluruhan, depresiasi rupiah dan situasi di Timur Tengah tetap memberikan tekanan yang perlu kami kelola,” ujarnya.
Meski fokus utama perusahaan tetap menjaga pertumbuhan volume di pasar domestik, Unilever tak menampik soalnya adanya kemungkinan kenaikan harga sebagai respons terhadap naiknya biaya produksi.
Manajemen menyebut beberapa faktor eksternal, terutama kondisi geopolitik di Timur Tengah dan tekanan nilai tukar, dapat mendorong penyesuaian harga pada kategori produk tertentu.
“Berdasarkan sejumlah faktor eksternal tersebut, akan ada aksi harga yang terjadi di pasar. Namun fokus kami tetap pada pertumbuhan volume bersama konsumen Indonesia,” ujarnya.
