Jakarta, FORTUNE – Kinerja produksi pupuk PT Petrokimia Gresik menyentuh 2,71 juta ton pada semester I-2026 atau meningkat dibandingkan dengan posisi 2,43 juta ton pada periode sama tahun lalu. Bahkan secara tahunan, perusahaan solusi agroindustri dari anggota holding Pupuk Indonesia ini sepanjang 2025 telah memproduksi total pupuk sekitar 4,68 juta ton atau naik jika dibandingkan 2024 yang sebesar 4,47 ton.
Kinerja ini ditopang oleh Terminal Untuk Kepentingan Sendiri (TUKS) milik perusahaan tersebut, yang telah bersertifikasi Green and Smart Port (GSP).
Direktur Utama Petrokimia Gresik, Daconi Khotob, mengatakan perusahaan terus berfokus mengembangkan pengelolaan kepelabuhanan yang tidak hanya andal dari sisi operasional, tetapi juga mengedepankan keselamatan, keberlanjutan, inovasi, dan digitalisasi.
“Bagi kami, kepelabuhanan merupakan infrastruktur strategis yang memastikan kelancaran pasokan bahan baku bagi proses produksi serta distribusi pupuk ke berbagai wilayah Indonesia guna mendukung kedaulatan pangan nasional,” kata Daconi melalui keterangan resmi di Jakarta, Rabu (15/7).
Berdasarkan hasil asesmen GSP, TUKS Petrokimia Gresik mencatatkan nilai akhir 94 persen atau mengalami peningkatan dibandingkan capaian 82 persen pada 2022. Penilaian ini dilakukan secara komprehensif berdasarkan Green and Smart Port Guidelines 3.0/2023 yang mengacu pada regulasi nasional dan praktik terbaik internasional.
Daconi menambahkan pencapaian ini merupakan hasil penerapan prinsip Green and Smart Port secara konsisten melalui penguatan tata kelola kepelabuhanan, efisiensi energi, sistem operasional berbasis digital yang terintegrasi, serta inovasi berkelanjutan.
Dalam kesempatan tersebut, Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan juga menegaskan ketahanan pangan tidak hanya ditentukan oleh hasil produksi. Sistem logistik yang andal juga menjadi kunci agar pangan dapat menjangkau seluruh wilayah Indonesia secara efektif dan efisien.
“Pelabuhan adalah simpul strategis yang menghubungkan produksi, distribusi, hingga ketersediaan pangan di seluruh Indonesia. Karena itu, transformasi pelabuhan menuju ekosistem yang hijau dan cerdas bukan lagi sebuah pilihan, melainkan sebuah keharusan,” ujarnya.
Menurutnya, pemerintah juga akan terus menyempurnakan pelaksanaan GSPI ASRI melalui penguatan instrumen penilaian, peningkatan aspek ASRI, serta perluasan partisipasi pelabuhan di berbagai daerah agar transformasi sektor kepelabuhanan berjalan semakin cepat.