Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
SIG Siasati Tren Minuman Bertekstur dalam Kemasan Karton Aseptik
Direktur Komersial SIG untuk ASEAN, Jepang, dan Korea, Noer Wellington, saat berada di kantor PT SIG Combibloc Indonesia (21/7/2026). Dok: Fortune Indonesia/Bonardo Maulana

Jakarta, FORTUNE - SIG, perusahaan multinasional asal Swiss, menelurkan terobosan mutakhir di Indonesia dengan meluncurkan teknologi Drinksplus. Teknologi ini memampukan produsen mengemas minuman bervolume partikel hingga 10 persen ke dalam karton aseptik.

Sebagai perintis, SIG mendukung Diamond Cold Storage meluncurkan susu UHT lokal perdana yang berisikan potongan nata de coco.

"Saat ini, konsumen—terutama anak-anak dan remaja—sangat menyukai minuman yang menawarkan tekstur seperti boba. Mereka tidak hanya mencari rasa [seperti cokelat, stroberi, vanila], tetapi juga pengalaman sensorik di dalam mulut saat minum," ujar Direktur Komersial SIG untuk ASEAN, Jepang, dan Korea, Noer Wellington, di hadapan wartawan (21/7).

Varian anyar lansiran Diamond ini dikemas dalam karton SIG XSlimBloc 200 ml. Terdapat empat pilihan rasa: anggur, melon, semangka, dan coconut shake. Partikel padat seperti nata de coco berukuran maksimal 6x6x6 milimeter (mm) disematkan di dalamnya. Kemasan memakai sedotan berdiameter 8 mm.

Selama ini, minuman berpartikel jamak dikemas dalam botol plastik atau beling. Mengemasnya ke dalam karton aseptik menuntut tingkat presisi tinggi. Bila ada partikel yang tersangkut pada segel kemasan, produk lekas basi akibat kebocoran mikro. Modifikasi sistem pengisian menjadi kunci keberhasilan.

"Mengisi partikel ke dalam botol plastik atau kaleng jauh lebih mudah karena wadahnya terbuka lebar dari atas, diisi, lalu ditutup. Sedangkan kemasan karton itu tertutup rapat dan memiliki segel," kata sosok yang biasa dipanggil Weli ini.

Untuk menjawab tantangan tersebut, SIG merancang alat berisi katup khusus dan pengaduk pada tangki aseptik. Partikel turun merata tanpa menyumbat nozel. Mesin beroperasi laju dengan kecepatan 24.000 kemasan per jam.

Lebih jauh, peranti ini amat mudah dipasang pada lini mesin pengisian standar SIG.

"Pelanggan cukup menambahkan Drinks Plus kit pada mesin filling dan processing equipment yang sudah mereka miliki," ujar Weli.

Keandalan lain terletak pada sistem sleeve khas SIG. Tiap selongsong karton dibentuk, diisi, dan disegel menggunakan teknologi ultrasonik di atas level pengisian demi menjaga keamanan aseptik produk. Inovasi ini tidak sebatas untuk produk susu. Jus, air kelapa, teh, hingga yogurt kental pun dapat memanfaatkan teknologi serupa.

Menurut Weli, potensi pasar Indonesia yang masih amat jembar. Populasi negeri ini menembus 270 juta jiwa, tapi angka konsumsi susu nasional baru berkisar 11-12 liter per kapita per tahun. Angka ini senjang jika disandingkan dengan negara tetangga. Permintaan akan kemasan yang aman dan praktis diyakini terus menanjak.

SIG, yang telah menjejakkan kaki di Indonesia selama 36 tahun, mendistribusikan sekitar 2 miliar kemasan saban tahunnya. Terdapat sekitar 40 mesin perseroan yang beroperasi di fasilitas berbagai pelanggan besar.

Terkait daya tahan produk dalam kemasan yang mampu menembus usia simpan satu tahun, Weli menepis keraguan ihwal penggunaan bahan pengawet sintetik.

"Ini murni soal teknologi pemrosesan UHT. Produk dipanaskan pada suhu sangat tinggi, yaitu 140 derajat Celcius, selama 2 detik saja. Karena waktunya sangat singkat, kualitas warna dan rasanya tetap terjaga," katanya.

Lapisan aluminium foil pada kemasan juga berfungsi memblokir cahaya. Pengisian hampa udara di dalam ruang aseptik mengunci kesegaran produk tanpa campur tangan zat kimia.

Editorial Team

Related Article