Jakarta, FORTUNE — Di tengah ketatnya persaingan bisnis konsumer dengan margin tipis dan perilaku pelanggan yang mudah berubah, Yoshua Tanu, Co-Founder & CEO Jago Coffee, menegaskan bahwa teknologi bukan tujuan, melainkan alat untuk memperkuat fondasi bisnis.
Hal itu disampaikan Yoshua dalam Fortune Indonesia Summit 2026 di Jakarta, Kamis, 12 Februari 2026, pada sesi “Reframing Technology: From Expense to Value”. Sejak awal, Jago Coffee memang dibangun sebagai consumer business yang memanfaatkan teknologi secara mendalam. Namun, ia menekankan, teknologi tetap menjadi bagian besar dari strategi pertumbuhan.
Menurut Yoshua, bisnis konsumer akan selalu relevan karena menyentuh kebutuhan nyata. “Consumer business akan selalu ada di dunia. Orang masih membutuhkan real beverage, real food,” katanya. Teknologi kemudian berperan untuk memperluas jangkauan pasar secara cepat dan efisien, terutama karena model Jago Coffee berbeda dari kafe konvensional.
Berbeda dengan kedai kopi, satu JAGOAN—sebutan bagi barista Jago Coffee—mengoperasikan satu unit sepeda kopi yang tersebar dalam jumlah ribuan. Tantangannya adalah memastikan standar layanan, produktivitas, dan interaksi dengan pelanggan tetap terjaga. “Inilah pentingnya teknologi untuk bisa mengamplifikasi dari segi consumer business tersebut seperti Jago,” kata Yoshua, menegaskan bahwa teknologi bukan fokus utama bisnis, melainkan penguatnya.
Jago Coffee baru saja mengantongi pendanaan sekitar US$13 juta untuk fase pertumbuhan berikutnya. Dana tersebut terutama ditujukan untuk memperluas akses dan menjangkau konsumen yang lebih luas, mengingat penetrasi Jago Coffee di luar kota besar masih relatif rendah. “Setiap pendanaan pada dasarnya digunakan untuk memperluas pengalaman pelanggan kami,” ujarnya.
Namun, ekspansi baginya tidak sekadar mengejar pertumbuhan skala. Setiap investasi, termasuk di teknologi, tetap berpijak pada prinsip meningkatkan pendapatan JAGOAN, memperbaiki efisiensi operasional, serta memastikan pertumbuhan yang berkelanjutan. “Scale bukan semata untuk menambah pendapatan, melainkan untuk menghadirkan produk secara berkelanjutan kepada masyarakat,” katanya.
Pendekatan ini sekaligus menjawab kekhawatiran bahwa digitalisasi berpotensi menggerus sisi kemanusiaan dalam bisnis kopi. Yoshua menilai hal tersebut tidak berlaku bagi Jago Coffee. Menurut dia, relasi personal antara barista dan pelanggan tetap menjadi elemen penting yang tidak dapat digantikan oleh mesin atau robot. “You still need the eye contact, you still need the chit-chat,” ujarnya.
