Comscore Tracker
BUSINESS

4 Fakta tentang Suntikan Modal Rp504 M ke Aplikasi Pintu

Akan dipakai untuk perekrutan dan produk.

4 Fakta tentang Suntikan Modal Rp504 M ke Aplikasi PintuDok. Pintu

by Tanayastri Dini Isna KH

Jakarta, FORTUNE - Bursa pertukaran cryptocurrency Pintu mengumumkan pendanaan Seri A+ senilai US$35 juta (sekitar Rp504 miliar) dengan Lightspeed Venture sebagai pemimpin putaran. Putaran itu diungkap setelah pengumuman investasi belum lama ini.

Selain Lightspeed, putaran investasi itu juga melibatkan Alameda Ventures, Blockchain.com ventures, Castle Island Ventures, Coinbase Ventures, Intudo Ventures, dan Pantera Capital.

Pintu adalah aplikasi investasi dan jual beli aset digital cryptocurrency yang telah terdaftar di BAPPEBTI (Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi Indonesia). Karena itu, Pintu memiliki izin menjual aset ke investor ritel.

Pada akhir Mei, Pintu sudah mengumumkan pendanaan Seri A senilai US$6 juta yang dipimpin oleh Pantera, Intudo, dan Coinbase Ventures. Jika dibandingkan, tentu nominalnya jauh dengan putaran Seri A+.
 

1. Alasan Pintu Tingkatkan Jumlah Pendanaan di Seri A+

Situs Pintu.co.id.

Pintu jadi salah satu platform kripto yang menerima lanjutan pendanaan seri A dengan cepat karena naiknya minat investasi ritel terhadap cryptocurrency. Bibit, Ajaib, dan Syfe juga merasakan hal serupa.

Menurut Chief Operating Officer Pintu, Andrew Adjiputro, ini momen tepat meningkatkan putaran pendanaan. Sebab, Coinbase baru saja melakukan IPO dan Pintu mencatatkan banyak pengguna baru di platform.

Sebagai gambaran, unduhan aplikasi Pintu naik 3,5 kali lipat secara organik. Jumlah trader aktif pun bertambah 4 kali lipat.

IPO Coinbase pada April 2021 merupakan salah satu pendorong naiknya minat terhadap pasar kripto. “Kami pikir ini saat yang tepat untuk meningkatkan putaran investasi yang lebih besar guna membiayai pertumbuhan yang lebih cepat,” ujar Andrew, dilansir dari TechCrunch, Selasa (10/8).

Terlebih, data Kementerian Perdagangan menunjukkan, terdapat lebih dari 6,6 juta investor kripto di Indonesia per Juni 2021. Angka itu naik 1,2 juta ketimbang 2019.

2. Pendanaan Seri A+ Digunakan untuk Perekrutan dan Produk Baru

Ilustrasi fitur Pintu.

Pintu akan memakai pendanaan terbarunya untuk kebutuhan perekrutan tim secara besar-besara serta meluncurkan fitur dan produk baru. Menurut Andrew, “ini momen yang baik untuk meluncurkan produk baru dan merebut pangsa pasar.”

Salah satu fitur barunya ialah Pintu Earn, akun aset kripto yang memungkinkan pengguna mendapat bunga di berbagai aset kripto.

Untuk saat ini, Pintu baru menawarkan 16 koin kripto. Ke depannya, perusahaan berniat menambah koin lebih banyak--termasuk token NFT. 

“Kami begitu selektif dalam memilih koin yang akan kami kenalkan karena ini adalah platform untuk investor pemula. Jadi, kami ingin melindungi mereka,” ujar Chief Marketing Officer Pintu, Timothius Martin.

Nilai investasi minimum di Pintu adalah Rp11.000, cocok bagi para investor ritel pemula.

Selain itu, ada pula layanan Pintu Academy untuk mengedukasi para pengguna baru yang ingin mempelajari aset kripto.

3. Banyak Peluang Bagi Para Investor Ritel

Meski sudah memiliki jutaan investor kripto, masih banyak pasar yang belum digarap oleh para platform kripto di Indonesia.

“Sebagai negara dengan populasi terbesar keempat di dunia dan baru 1-2% masyarakat yang mengenal kripto, ada peluang besar bagi investor ritel untuk memperoleh akses ke peluang investasi yang beragam dan dinamis,” jelas Co-Founder dan CEO Pintu, Jeth Soetoyo, dikutip dari Cointelegraph.

4. Tren Platform Kripto di Indonesia

Ilustrasi mining

Selain Pintu, ada berbagai platform kripto lain di Indonesia, yakni: TokoCrypto, Nobi, Coinomo, Pluang, Indodax. Masing-masing platform menawarkan produk dan layanan yang beragam.

Partner Lightspeed Venture, Hemant Mohapatra mengatakan, “Di Amerika Serikat (AS), kripto berada di titik infleksi yang bergerak dari perdagangan spekulatif yang dipimpin oleh investor ritel menjadi kelas aset institusional.”

Ia berharap, pasar Asia Tenggara atau India dapat mengikuti tren tersebut. “Karena pengguna kripto global tumbuh dari 5 juta pada 2016 menjadi lebih dari 100 juta pada 2020. Itu masih 2,7% dari pemilik rekening secara global,” kata Mohapatra dalam keterangan resminya.

Masih rendahnya jumlah masyarakat yang dapat mengakses aset kripto menunjukkan adanya peluang pertumbuhan platform kripto dan penggunanya di Indonesia ke depannya.

“Kami memperkirakan Indonesia akan mencapai adopsi kripto yang serupa dengan AS saat ini (~10% dari populasi) dan menyentuh lebih dari 30 juta pengguna,” ujar Mohapatra.

Related Articles