Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Toyota Indonesia dan CATL Bangun Pabrik Baterai, Investasi Rp1,3 T
Mobil elektrifikasi Toyota semakin diminati global (TMMIN)
  • Toyota Indonesia dan CATL berkolaborasi membangun ekosistem produksi baterai kendaraan elektrifikasi dengan investasi Rp1,3 triliun.

  • Kerja sama ini menargetkan produksi sel dan modul baterai oleh tenaga kerja lokal.

  • TMMIN akan menjadi entitas pertama Toyota di Asia Tenggara yang mengekspor baterai ke pasar global.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE - Peta jalan industri elektrifikasi nasional kian benderang. PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) resmi menjalin kemitraan strategis dengan raksasa penyedia baterai dunia, Contemporary Amperex Technology Co. Limited (CATL).

Langkah ini ditandai dengan pengucuran investasi jumbo senilai Rp1,3 triliun guna membangun ekosistem produksi baterai kendaraan listrik yang terintegrasi di Indonesia.

Melalui kerja sama ini, Toyota bertekad memperdalam struktur industri otomotif dari hulu hingga hilir. Fokus utamanya adalah melokalisasi komponen inti yang selama ini masih menjadi ganjalan: sel baterai dan modul.

Presiden Direktur TMMIN, Nandi Julyanto, menyatakan kolaborasi ini merupakan tonggak penting dalam memperkuat rantai pasok domestik.

“Melalui kolaborasi strategis dengan CATL di Indonesia, kami berupaya meningkatkan kemampuan produksi battery assembly pack hingga pembuatan sel baterai dan modul secara menyeluruh,” ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (20/4).

Hingga saat ini, fasilitas produksi TMMIN di Karawang telah memproduksi battery pack untuk model-model andalan seperti Kijang Innova Zenix HEV, Veloz HEV, dan Yaris Cross HEV. Namun, ketergantungan terhadap impor sel baterai masih tinggi. Dengan hajat besar ini, komponen vital tersebut kelak akan dirakit oleh tangan-tangan anak bangsa.

Langkah taktis ini sekaligus mempertegas komitmen Toyota terhadap strategi multipathway. Sebuah upaya mencapai netralitas karbon melalui keragaman teknologi—mulai dari kendaraan hibrida (HEV), plug-in hybrid (PHEV), kendaraan listrik murni (BEV), hingga penggunaan bioetanol melalui Flexible Fuel Vehicle (FFV).

Wakil Presiden Direktur TMMIN, Bob Azam, menyatakan kucuran modal ini akan mengakselerasi transformasi industri dari basis mesin konvensional menuju era elektrifikasi total.

“Pendalaman lokalisasi baterai menjadi langkah penting untuk mempertahankan ekosistem pemasok yang ada sekaligus menarik mitra baru dalam rantai pasok,” kata Bob.

Proyek ini tidak hanya bertujuan mengamankan pasar domestik. Toyota Indonesia tengah bersiap mencatatkan sejarah sebagai entitas pertama Toyota di Asia Tenggara yang akan mengekspor baterai ke pasar global. Target pengapalan perdana dipatok mulai paruh kedua 2026.

Ekspor tersebut tidak hanya dalam bentuk baterai yang sudah tertanam di dalam kendaraan, melainkan juga komponen baterai secara terpisah. Strategi ini diharapkan mampu mengatrol posisi tawar Indonesia dalam rantai pasok global kendaraan ramah lingkungan, sembari memangkas defisit impor dan meningkatkan nilai tambah manufaktur nasional. 

Editorial Team