Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Waskita Karya Digitalisasi Pembayaran Proyek dengan H2H
Jalan Tol Probolinggo–Banyuwangi (Probowangi). (dok Waskita Karya)
  • Waskita menerapkan sistem pembayaran Host to Host berbasis API BNI berstandar SNAP untuk menghubungkan SAP dan perbankan, mendigitalisasi pengajuan serta pemantauan pembayaran proyek secara real-time.
  • Digitalisasi pembayaran ditujukan memperkuat sentralisasi dana, visibilitas arus kas, rekonsiliasi transaksi, dan tata kelola, sekaligus mengurangi dokumen fisik bagi proyek maupun mitra kerja.
  • Pada semester I 2026, pendapatan Waskita naik 58,49 persen menjadi Rp4,91 triliun, tetapi masih rugi Rp1,91 triliun dengan liabilitas Rp66,53 triliun dan defisit Rp22,13 triliun.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE – PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT) memperluas transformasi digital ke sistem pembayaran perusahaan. Langkah ini dilakukan ketika emiten konstruksi pelat merah tersebut masih menghadapi tekanan keuangan, meski pendapatan dan nilai kontrak baru mulai menunjukkan perbaikan.

Pada semester I 2026, Waskita mencatat pendapatan usaha Rp4,91 triliun, melonjak 58,49 persen secara tahunan. Namun, pertumbuhan pendapatan tersebut belum membawa perseroan keluar dari zona rugi. Waskita masih membukukan rugi bersih sekitar Rp1,91 triliun, meski turun 16,96 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Tekanan juga masih terlihat dari struktur keuangan. Per 30 Juni 2026, liabilitas Waskita tercatat Rp66,53 triliun, sedangkan kas dan setara kas berada di kisaran Rp2,61 triliun. Akumulasi defisit perseroan mencapai Rp22,13 triliun.

Di tengah kondisi tersebut, Waskita menerapkan sistem pembayaran Host to Host (H2H) yang menghubungkan sistem internal perusahaan dengan layanan perbankan melalui Application Programming Interface (API) milik PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) yang telah memenuhi standar Nasional Open API Pembayaran (SNAP).

Direktur Keuangan Waskita Karya, Wiwi Suprihatno, mengatakan penerapan H2H merupakan bagian dari transformasi digital sekaligus upaya memperkuat sentralisasi pembayaran perusahaan.

"Hal ini sejalan dengan transformasi Waskita yang mengacu pada delapan stream. Salah satunya transformasi bisnis dalam rangka penguatan tata kelola dana demi mewujudkan Good Corporate Governance (GCG)," ujar Wiwi dalam keterangan resmi, Selasa (1/9).

Melalui sistem tersebut, pengajuan pembayaran oleh tim proyek tidak lagi membutuhkan dokumen tagihan dalam bentuk fisik. Proses dilakukan secara digital melalui aplikasi SAP, sementara tim proyek dapat memantau status pengajuan pembayaran secara langsung.

Bagi mitra kerja, sistem tersebut memungkinkan informasi mengenai pembayaran tagihan dipantau secara waktu nyata. Dengan demikian, digitalisasi tidak hanya mengubah mekanisme administrasi, tetapi juga diarahkan untuk mempercepat arus informasi antara perusahaan, proyek, dan mitra.

Transformasi sistem pembayaran menjadi salah satu langkah Waskita dalam memperbaiki pengelolaan keuangan. Perseroan sebelumnya telah menjalankan restrukturisasi utang sebagai bagian dari agenda penyehatan perusahaan.

Laporan tahunan Waskita mencatat total liabilitas perseroan turun dari Rp77,16 triliun pada 2024 menjadi Rp67,06 triliun pada 2025. Pada periode yang sama, pendapatan usaha mencapai Rp8,82 triliun, sementara perseroan masih membukukan rugi Rp4,48 triliun.

Dari sisi kontrak, Waskita memperoleh nilai kontrak baru Rp12,52 triliun sepanjang 2025, naik dari Rp9,55 triliun pada 2024. Pada kuartal I 2026, perusahaan kembali membukukan kontrak baru Rp3,1 triliun.

Perseroan juga menerapkan pendekatan yang lebih selektif dalam mengambil proyek dengan mempertimbangkan skema pembayaran dan profil risiko. Strategi tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga likuiditas sekaligus mengurangi tekanan terhadap arus kas.

Dalam konteks itu, digitalisasi pembayaran memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar mengurangi penggunaan dokumen fisik. Sistem yang terintegrasi dapat membantu perusahaan memusatkan proses pembayaran, memperoleh visibilitas terhadap arus dana, serta mempercepat rekonsiliasi transaksi.

"Penerapan H2H berdampak positif terhadap pengelolaan arus kas serta sejalan dengan prioritas dan strategi perseroan. Ke depannya, Waskita Karya akan melakukan digitalisasi menyeluruh terhadap sistem operasional perusahaan," kata Wiwi.

H2H yang diterapkan Waskita memanfaatkan API BNI dengan standar SNAP. Bank Indonesia sebelumnya menetapkan SNAP sebagai standar nasional yang bertujuan menciptakan integrasi Open API pembayaran yang lebih terstandar, aman, dan efisien dalam ekosistem pembayaran Indonesia.

Standar tersebut mencakup aspek teknis, keamanan, serta tata kelola dalam interkoneksi layanan pembayaran. Implementasinya menjadi bagian dari agenda Bank Indonesia untuk mendorong integrasi ekonomi dan keuangan digital nasional.

Bagi Waskita, pemanfaatan API perbankan juga mempertemukan agenda transformasi internal dengan perkembangan ekosistem pembayaran nasional.

"Pemanfaatan layanan API BNI merupakan wujud kolaborasi BUMN yang bertujuan memudahkan masyarakat sekaligus mendorong sistem pembayaran nasional. Diharapkan kerja sama yang terjalin dapat terus berjalan dan mewujudkan digitalisasi berkelanjutan," tutur dia.

Perseroan menyebut penerapan H2H sebagai salah satu tahap menuju digitalisasi yang lebih menyeluruh. Dengan proses pembayaran proyek yang semakin terintegrasi, langkah berikutnya bagi Waskita adalah memastikan teknologi tersebut tidak berhenti pada efisiensi administrasi, tetapi turut menghasilkan pengendalian kas dan tata kelola yang lebih kuat.

Curated For You

Editorial Team

Related Article