Jakarta, FORTUNE – Standard Chartered Indonesia (StanChart) pada lima bulan pertama 2026 meraup laba bersih Rp553,62 miliar. Rapor positif ditopang oleh agresivitas kucuran kredit dan lonjakan pendapatan bunga bersih.
Memasuki Mei 2026, aset StanChart kian gemuk dengan total kenaikan 11,73 persen secara tahunan (year-on-year/YoY) hingga menyentuh Rp104,72 triliun.
Kinerja ini berjalan seiring dengan laju penyaluran kredit yang naik 23 persen (YoY) menjadi Rp37,12 triliun. Derasnya aliran kredit tersebut mengerek pendapatan bunga bersih perseroan sebesar 21,49 persen (YoY).
Rentetan angka hijau ini tak terlepas dari kejelian bank menggarap ceruk pasar domestik. CEO Standard Chartered Indonesia, Donny Donosepoetro OBE, menyatakan perseroan terus menyodorkan solusi relevan. Modalnya adalah perpaduan pemahaman pasar lokal dan kekuatan kapabilitas internasional grup.
“Standard Chartered mendukung kebutuhan pendanaan, transaction banking, dan akses pasar modal bagi pemerintah dan sektor publik, institusi keuangan, hingga korporasi besar di Indonesia,” kata Donny melalui keterangan resmi, Jumat (24/7).
StanChart gencar meracik solusi finansial lintas negara. Sasarannya adalah perusahaan kakap, badan usaha milik negara (BUMN), hingga entitas strategis nasional.
Kiprah mencolok terlihat pada kongsi bersama Danantara. StanChart memegang lakon penting sebagai joint coordinator, joint senior underwriter, mandated lead arranger, sekaligus bookrunner. Mereka memuluskan fasilitas kredit revolving Danantara senilai maksimal US$10 miliar dalam ragam mata uang.
Sokongan ini, kata Donny, mempermudah Danantara menggaet dana segar internasional untuk sejumlah investasi strategis.
Langkah itu berlanjut pada Juni lalu. StanChart tampil sebagai joint lead manager, bookrunner, sekaligus rating advisor. Mereka mengawal emisi obligasi dual-tranche perdana PT Danantara Investment Management senilai US$1,5 miliar.
Jalinan dengan pemerintah Indonesia juga terus terawat. Sejak 2009, StanChart setia menjadi mitra penerbitan obligasi internasional. Total dana yang dihimpun telah menembus US$55 miliar.
Jejak rekam itu terekam kuat pada 2025. Perseroan tampil sebagai joint lead manager untuk aneka emisi obligasi pemerintah. Cakupannya meliputi denominasi US$, sukuk global, CNH Dim Sum, hingga obligasi Kangaroo AUD perdana. Manuver ini mendiversifikasi basis investor asing bagi Indonesia.
