Bayang-Bayang Krisis Kepercayaan: Kurs Rupiah Berisiko Menukik Tajam

- Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, memperkirakan rupiah bisa melemah hingga Rp20.000 per dolar AS pada akhir 2026 jika tekanan eksternal dan krisis kepercayaan investor tidak teratasi.
- Melemahnya rupiah turut menekan IHSG yang anjlok 4,15 persen ke level 5.362 akibat arus keluar asing dan kekhawatiran terhadap arah kebijakan ekonomi nasional.
- Josua menekankan pentingnya pemerintah memulihkan kepercayaan pasar melalui disiplin fiskal, transparansi pembiayaan, serta reformasi pasar modal yang berfokus pada tata kelola dan perlindungan investor.
Jakarta,FORTUNE – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibayangi risiko pelemahan tajam hingga menembus Rp20.000/US$ pada akhir 2026. Goncangan berat ini berpotensi terjadi jika pemerintah gagal mengantisipasi tekanan eksternal dan krisis kepercayaan investor global.
Kekhawatiran tersebut bukan tanpa alasan. Pada penutupan perdagangan 8 Juni lalu, rupiah merosot 151 poin ke posisi Rp18.187/US$. Padahal pada penutupan sebelumnya, rupiah masih bertengger pada Rp18.036/US$.
Kemerosotan kurs ini berjalan seiring dengan rontoknya Indeks Harga Saham Gambungan (IHSG). Kemarin (8/6), indeks di lantai bursa menukik tajam 4,15 persen hingga menyentuh level 5.362.
Pelarian modal asing dari pasar domestik menjadi pemicu utama. Data transaksi menunjukkan volume perdagangan mencapai 1,23 miliar saham. Sementara itu, nilai transaksi jual masif oleh investor asing mencapai Rp896,9 miliar.
Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, membeberkan sejumlah faktor yang mengancam keperkasaan mata uang dalam negeri.
“Jika kekhawatiran terhadap independensi BI meningkat, arus modal keluar berlanjut, harga minyak tetap tinggi, dan sentimen terhadap fiskal memburuk, rupiah berisiko melemah dengan skenario mendekati Rp20.000 bisa terjadi jika tekanan eksternal dan krisis kepercayaan domestik terjadi bersamaan,” kata Josua saat dihubungi Fortune Indonesia di Jakarta, Selasa (9/6).
Menurut Josua, lantai bursa saat ini sedang menghadapi kombinasi sentimen negatif yang kompleks. Tekanan jangka pendek bagi IHSG dinilai masih sangat besar.
“Untuk IHSG, tekanan jangka pendek masih besar karena pasar saham sedang menghadapi kombinasi pelemahan rupiah, potensi arus keluar asing, kekhawatiran tata kelola pasar, serta meningkatnya kekhawatiran atas arah kebijakan,” kata Josua.
Tanpa adanya kejelasan kebijakan dari otoritas, IHSG rawan bertahan pada zona rendah. Indeks diprediksi akan menguji kembali kisaran 5.300 hingga 5.600.
Namun, Josua memberikan catatan optimistis untuk skenario dasar. Jika rupiah mulai stabil dan pemerintah memberi kepastian kelembagaan, IHSG punya peluang pulih bertahap. Targetnya berkisar 5.900 hingga 6.300 hingga akhir tahun.
Untuk mengatasi kemelut ini, langkah paling mendesak bagi pemerintah adalah membenahi persepsi publik dan memulihkan kepercayaan pasar. Kedisiplinan anggaran negara harus menjadi prioritas utama.
“Pemerintah perlu menjaga disiplin defisit, transparansi pembiayaan, dan tata kelola Danantara agar tidak dibaca sebagai beban tersembunyi APBN. Lalu reformasi pasar modal seperti demutualisasi BEI harus diarahkan pada transparansi kepemilikan, tata kelola emiten, perlindungan investor, dan pendalaman pasar, bukan sekadar perubahan kelembagaan,” kata Josua.
















