Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
For
You

BI Jelaskan Pelemahan Rupiah hingga Rp16.945 per Dolar AS

potret konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur BI Edisi Januari 2026
potret konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur BI Edisi Januari 2026 (bi.go.id)
Intinya sih...
  • Rupiah melemah 1,53 persen ke Rp16.945 per dolar AS akibat tekanan global dan domestik.
  • BI mencatat aliran modal asing keluar bersih 1,6 miliar dolar AS atau sekitar Rp27,1 triliun hingga 19 Januari 2026.
  • Bank Indonesia melakukan intervensi pasar dan mempertahankan BI-Rate di 4,75 persen.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE — Bank Indonesia (BI) menjelaskan faktor-faktor di balik pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus level Rp16.945 per dolar Amerika Serikat (AS) pada 20 Januari 2026.

Posisi tersebut mencerminkan pelemahan sebesar 1,53 persen dibandingkan level akhir Desember 2025, seiring meningkatnya tekanan global dan kebutuhan valuta asing di dalam negeri.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyampaikan bahwa pelemahan rupiah terjadi di tengah ketidakpastian pasar keuangan global yang memicu aliran keluar modal asing dari pasar keuangan domestik.

Selain itu, peningkatan permintaan valuta asing oleh perbankan dan korporasi nasional turut memberikan tekanan terhadap pergerakan rupiah.

Aliran modal asing dan tekanan global

BI mencatat, hingga 19 Januari 2026, transaksi modal dan finansial Indonesia mengalami aliran keluar bersih atau net outflow sebesar 1,6 miliar dolar AS atau sekitar Rp27,1 triliun (kurs Rp16.939). Perry menjelaskan bahwa kondisi tersebut tidak terlepas dari dinamika global yang mendorong penguatan dolar AS dan pergeseran portofolio investor ke aset negara maju.

“Pada 2026 terjadi net outflow 1,6 miliar dolar AS, data hingga 19 Januari 2026. Itu faktor-faktor global,” ujar Perry dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur BI Edisi Januari 2026, Rabu (21/1).

Ia menambahkan bahwa tekanan global dipengaruhi oleh kondisi geopolitik internasional serta kebijakan tarif perdagangan Amerika Serikat. Di sisi pasar keuangan, tingginya imbal hasil obligasi AS tenor pendek serta penurunan Fed Fund Rate (FFR) yang lebih terbatas turut memperkuat dolar AS.

“Selain itu, tingginya imbal hasil obligasi AS atau yield US Treasury tenor 2 tahun dan 3 tahun, juga lebih rendahnya Fed Fund Rate (FFR) turun lebih kecil,” ujar Perry.

Permintaan valas domestik dan faktor korporasi

Dari sisi domestik, BI menyoroti meningkatnya kebutuhan valuta asing (valas) oleh sejumlah korporasi besar nasional yang berkontribusi terhadap tekanan nilai tukar. Permintaan valas tersebut sejalan dengan aktivitas ekonomi dan kebutuhan pembayaran impor maupun kewajiban keuangan luar negeri.

“Ada kebutuhan valas yang besar dari sejumlah korporasi, terutama Pertamina, PLN dan Danantara,” ujar Perry.

Selain faktor korporasi, Perry juga menyinggung persepsi pasar terhadap kondisi fiskal dan isu kelembagaan yang sempat berkembang. Salah satunya terkait proses pencalonan Deputi Gubernur BI, yang dinilai memengaruhi sentimen pelaku pasar.

“Maka kami tegaskan lagi bahwa proses pencalonan Deputi Gubernur BI sudah sesuai undang-undang dan tata kelola, serta tidak mempengaruhi pelaksanaan tugas kewenangan BI yang tetap profesional dengan tata kelola yang kuat,” papar Perry.

Respons kebijakan BI menjaga stabilitas rupiah

Untuk meredam volatilitas rupiah, Bank Indonesia menempuh langkah stabilisasi melalui intervensi di berbagai instrumen pasar valuta asing. BI melakukan intervensi di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) baik di offshore maupun onshore melalui Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta di pasar spot.

“Guna menjaga kestabilan rupiah, BI menempuh langkah-langkah stabilitas lewat intervensi di pasar NDF offshore maupun onshore DNDF serta di pasar spot,” kata Perry.

BI menilai langkah tersebut tetap konsisten dengan upaya menjaga sasaran inflasi. Bank sentral menargetkan inflasi berada di kisaran 2,5±1 persen pada 2026, dengan tetap memperhatikan stabilitas nilai tukar dan pertumbuhan ekonomi.

“Ke depan BI komitmen menjaga stabilitas rupiah lewat intervensi terukur di NDF, DNDF, dan pasar spot serta memperkuat strategi operasi moneter pro market,” terang Perry.

Kebijakan suku bunga dan dukungan likuiditas

Dalam Rapat Dewan Gubernur pada 20–21 Januari 2026, BI memutuskan mempertahankan BI-Rate di level 4,75 persen, suku bunga Deposit Facility 3,75 persen, dan Lending Facility 5,50 persen. Kebijakan tersebut diarahkan untuk menahan dampak ketidakpastian global sekaligus mendukung stabilitas rupiah.

BI juga menegaskan kecukupan cadangan devisa sebagai penopang kebijakan stabilisasi nilai tukar. Perry menegaskan bank sentral tidak ragu menggunakan cadangan devisa untuk menjaga stabilitas pasar.

“Kami akan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah untuk terus menguat, didukung fundamental yang baik dan imbal hasil yang menarik, inflasi yang rendah dan prospek ekonomi yang menarik,” tegas Perry.

Bank Indonesia menyampaikan bahwa ke depan nilai tukar rupiah diprakirakan bergerak stabil dengan kecenderungan menguat, seiring kebijakan stabilisasi yang terukur, inflasi yang rendah, serta prospek pertumbuhan ekonomi nasional yang tetap terjaga.

FAQ seputar pelemahan rupiah

Mengapa BI menjelaskan pelemahan rupiah Januari 2026?

Karena rupiah melemah hingga Rp16.945 per dolar AS akibat tekanan global dan permintaan valas domestik.

Berapa besar aliran modal asing keluar dari Indonesia?

BI mencatat net outflow sebesar 1,6 miliar dolar AS atau sekitar Rp27,1 triliun hingga 19 Januari 2026.

Langkah apa yang ditempuh BI menjaga rupiah?

BI melakukan intervensi di pasar NDF, DNDF, dan pasar spot serta memperkuat operasi moneter.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Yunisda Dwi Saputri
EditorYunisda Dwi Saputri
Follow Us

Latest in Finance

See More

Premi Sun Life Tembus Rp2,82 Triliun di 2025, Ini Strategi di 2026

22 Jan 2026, 11:35 WIBFinance