Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install

BI Proyeksikan Penyaluran Kredit Kuartal IV-2026 Naik, Sektor Konsumsi Jadi Penopang

2 min read
BI Proyeksikan Penyaluran Kredit Kuartal IV-2026 Naik, Sektor Konsumsi Jadi Penopang
Tangan memegang stopwatch dengan kartu kredit dan uang tunai, melambangkan waktu dan uang. (Pexels.com/Monstera Production)
  • BI memproyeksikan penyaluran kredit baru kuartal IV-2026 meningkat, dengan SBT 91,31 persen, lebih tinggi dibanding kuartal sebelumnya dan periode yang sama tahun 2025.

  • Perbankan memprioritaskan kredit konsumsi, modal kerja, dan investasi; kredit multiguna menjadi fokus konsumsi, sementara industri pengolahan, perdagangan, serta perantara keuangan menjadi tujuan utama.

  • Pertumbuhan outstanding kredit 2026 diproyeksikan 8,20 persen (YoY), didukung undisbursed loan Rp2.562,57 triliun; BI menilai penghimpunan DPK perlu dipacu untuk menopang kredit.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE – Bank Indonesia (BI) memproyeksikan penyaluran kredit baru perbankan pada kuartal IV-2026 mengalami peningkatan. Proyeksi tersebut merujuk pada Survei Perbankan BI yang mencatatkan Saldo Bersih Tertimbang (SBT) penyaluran kredit baru mencapai 91,31 persen.

SBT penyaluran kredit baru kuartal IV-2026 melampaui realisasi kuartal III-2026 yang berada pada level 90,08 persen dan kuartal IV-2025 pada level 88,92 persen.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menyatakan prioritas perbankan dalam penyaluran kredit baru pada kuartal IV-2026 menyasar segmen konsumsi, modal kerja, dan investasi.

“Pada jenis kredit konsumsi, penyaluran kredit multiguna diprakirakan menjadi prioritas utama, diikuti KPR/KPA, dan kredit kendaraan bermotor,” kata Ramdan melalui keterangan resmi di Jakarta, Jumat (23/10).

Berdasarkan sektor industri, Ramdan memproyeksikan alokasi kredit baru kuartal IV-2026 mengalir pada industri pengolahan, perdagangan besar dan eceran, serta perantara keuangan.

Pelaku perbankan memproyeksikan pertumbuhan outstanding kredit hingga akhir 2026 menyentuh 8,20 persen secara tahunan (YoY). Proyeksi ini melampaui estimasi pada periode survei sebelumnya yang berada pada level 7,51 persen (YoY).

“Meskipun demikian, prakiraan pertumbuhan outstanding kredit tahun 2026 tersebut lebih rendah dibandingkan dengan realisasi pertumbuhan kredit tahun 2025 sebesar 9,69 persen (YoY),” ujar Ramdan.

Data BI mencatatkan realisasi pertumbuhan kredit perbankan per September 2026 menyentuh 13,2 persen (YoY). Porsi tersebut mendapat sokongan dari kredit investasi dengan pertumbuhan 23,20 persen (YoY), kredit modal kerja 11,89 persen (YoY), dan kredit konsumsi 4,86 persen (YoY).

Ketersediaan ruang penyaluran kredit sejalan dengan fasilitas pinjaman yang belum ditarik (undisbursed loan) sebesar Rp2.562,57 triliun atau 21,70 persen dari total plafon tersedia.

Dari sisi penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) kuartal IV-2026, BI mencatatkan proyeksi SBT 89,76 persen. Angka ini melampaui pencapaian kuartal III-2026 dengan SBT 87,52 persen, namun berada di bawah realisasi kuartal IV-2025 dengan SBT 93,97 persen.

Secara terperinci, instrumen tabungan dan giro memimpin proyeksi DPK dengan SBT masing-masing 90,29 persen dan 89,64 persen, melampaui pencapaian kuartal sebelumnya. Adapun instrumen deposito mencatatkan SBT 28,74 persen.

Realisasi pertumbuhan DPK per September 2026 mencapai 8,22 persen (YoY). BI menilai perbankan perlu memacu penghimpunan DPK guna menopang penyaluran kredit ke depan.

    Share Article
    Editorial Team

    Related Articles

    See More