Mitigasi Dampak MSCI, Bank Indonesia Diskusi Ketat Rumuskan Kebijakan

- BI merumuskan bauran kebijakan untuk memitigasi rencana revisi status IHSG oleh MSCI, memantau arus keluar modal, serta mengembalikan kepercayaan investor dan inflow.
- Prioritas BI adalah stabilitas ekonomi, melalui pengendalian inflasi 2026-2027, kecukupan likuiditas rupiah, stabilisasi nilai tukar, dan kebijakan makroprudensial longgar untuk mendorong kredit.
- Portofolio asing mencatat net outflow US$80 juta pada triwulan III-2026, namun triwulan IV hingga 19 Oktober membukukan net inflow US$660 juta; cadangan devisa mencapai US$146,3 miliar.
Jakarta, FORTUNE – Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, menyatakan bank sentral terus mengawasi dan memitigasi dampak dari wacana Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang berencana merevisi status Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dari emerging market menjadi standalone market.
Destry menyebut pihaknya terus berdiskusi dengan ketat selama dua hari untuk merumuskan berbagai bauran kebijakan demi mengembalikan kepercayaan investor terhadap pasar Indonesia serta memancing arus modal agar kembali masuk ke pasar Indonesia.
“Kami terus mewaspadai apa yang terjadi di pasar modal kita. Dan tentunya, kami memantau outflow yang terjadi sepanjang pergerakan yang terjadi setelah [teguran] MSCI. Dan sejauh ini dua hari kemarin kami diskusi secara ketat sekali bagaimana kita menyikapi ini,” jelas Destry saat konferensi pers Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI di Jakarta, Rabu (21/10).
Bagi bank sentral, prioritas saat ini yang terpenting adalah menjaga stabilitas ekonomi di tengah dinamika ekonomi global. Kendati demikian, BI juga tetap mempertimbangkan bauran kebijakan guna mendorong pertumbuhan ekonomi agar dapat terus terjaga.
"Stabilitas [menjadi] prioritas kami. Fokus kami adalah mendatangkan inflow kembali," ujarnya.
Sejumlah upaya yang dilakukan BI ialah meningkatkan efektivitas implementasi kebijakan moneter, menjaga inflasi 2026 dan 2027 dalam sasaran 2,5±1 persen, dan memperkuat kecukupan likuiditas rupiah.
Selain itu, BI juga memperkuat efektivitas stabilisasi nilai tukar rupiah melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri maupun transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik.
Selain itu pula, memperkuat implementasi kebijakan makroprudensial longgar demi mendorong pertumbuhan kredit/pembiayaan.
Di sisi lain, BI mencatat aliran investasi portofolio asing pada triwulan III-2026 dengan net outflows US$80 juta, terutama pada saham.
Tekanan dari saham itu, kata Destry, berlanjut pada Oktober 2026. Sedangkan, Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN) mencatatkan inflows sehingga aliran investasi portofolio asing pada triwulan IV-2026 (hingga 19 Oktober 2026) menyaksikan net inflows US$660 juta.
Kendati demikian, BI menilai posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir September 2026 terjaga pada US$146,3 miliar, atau setara pembiayaan 5,3/5,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
Selain itu, neraca perdagangan Indonesia pada periode Agustus 2026 mengalami surplus US$3,55 miliar. Ini adalah peningkatan dibandingkan dengan surplus bulan sebelumnya yang sebesar US$0,12 miliar.
Dengan demikian, BI memandang ketahanan eksternal ke depan tetap kuat dengan transaksi berjalan 2026 diperkirakan berada dalam kisaran defisit 2,4-1,6 persen dari PDB.





















