Klaim Asuransi Jiwa Bencana NTT Hanya Rp152 Juta, AAJI Ungkap Rendahnya Penetrasi

- AAJI mencatat klaim asuransi jiwa akibat gempa M7,7 NTT pada 15 Agustus 2026 sebesar Rp152,5 juta, jauh di bawah total nilai pertanggungan Rp16,3 triliun.
- Rendahnya cakupan asuransi jiwa di NTT disorot AAJI; akses wilayah pesisir dan pedalaman menjadi tantangan, dengan hanya 29 perusahaan memiliki kantor cabang di provinsi tersebut.
- AAJI dan 19 anggota menyalurkan donasi Rp315 juta untuk penyintas gempa, termasuk pembangunan fasilitas air bagi sekitar 3.000 warga serta perlengkapan sekolah untuk 150 murid.
Jakarta, FORTUNE - Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) melaporkan nilai pembayaran klaim imbas gempa bumi bermagnitudo 7,7 di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 15 Agustus 2026 senilai Rp 152,5 juta. Realisasi klaim tersebut menunjukkan selisih nominal dengan total nilai pertanggungan nasabah di wilayah terkait yang menembus angka Rp16,3 triliun.
Kepala Departemen Marketing AAJI, Karin Zulkarnaen, menyoroti angka penetrasi asuransi di wilayah timur Indonesia. Kondisi tersebut menyebabkan mayoritas warga belum memiliki jaminan asuransi jiwa.
“Jumlah masyarakat yang sudah ter-cover oleh asuransi jiwa itu masih sangat sedikit di NTT. Ini menjadi perhatian kita semua di AAJI,” kata Karin saat konferensi pers di Jakarta, Senin (19/10).
Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 menunjukkan tingkat inklusi perasuransian secara nasional mencapai 29,55 persen. Sementara itu, indeks literasi perasuransian menyentuh 42,84 persen. Pencapaian ini berhadapan dengan faktor demografi serta akses menuju pesisir dan pedalaman NTT.
Berdasarkan data AAJI, baru 29 perusahaan asuransi jiwa yang memiliki kantor cabang di NTT. Total nilai pertanggungan (sum at risk) nasabah di wilayah tersebut terbagi menjadi lini bisnis jiwa senilai Rp11,8 triliun dan lini bisnis kesehatan Rp4,5 triliun.
Karin menyatakan situasi tersebut menjadi pekerjaan rumah bagi industri dan pemerintah daerah guna memacu tingkat penetrasi. Bencana alam membawa rentetan dampak berupa kerusakan bangunan serta disrupsi perekonomian warga.
Sebagai respons industri, AAJI bersama 19 perusahaan anggota menginisiasi Program Industry Social Responsibility (ISR) “Kebaikan Berkelanjutan” Nusa Tenggara Timur. Industri menggandeng Yayasan Benih Baik guna menyalurkan donasi senilai Rp315 juta bagi para penyintas gempa.
Pelaksana program memprioritaskan pemenuhan kebutuhan warga. Pembangunan sumur bor dan instalasi pipanisasi menjadi target pengerjaan di Desa Kotakeo, Kecamatan Nangaroro, Kabupaten Nagekeo, NTT. Fasilitas suplai air ini menyasar estimasi 3.000 penerima manfaat.
AAJI juga mengalokasikan donasi untuk pengadaan perlengkapan sekolah. Penyaluran bantuan menyasar 150 murid di SD dan TK Impres Leia, Desa Kotakeo, serta SDK dan TK Wolofeo, Desa Degalea. Alat tulis dibagikan guna menunjang keberlanjutan proses belajar.
Secara kelembagaan, AAJI menaungi 56 perusahaan asuransi jiwa. Pada rentang Januari hingga Juni 2026, industri membayarkan klaim dan manfaat kepada pemegang polis senilai Rp75,57 triliun. Pencairan dana ini ditujukan bagi 5,01 juta penerima.
Asosiasi menilai pencairan dana tersebut merepresentasikan kebutuhan warga terhadap jaminan perlindungan asuransi serta tingkat kepercayaan publik terhadap industri.





















