Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install

DBS Ungkap Strategi Investasi Q4 2026, AI dan Emas Jadi Sorotan

5 min read
DBS Ungkap Strategi Investasi Q4 2026, AI dan Emas Jadi Sorotan
Kantor Bank DBS Indonesia (dok. Bank DBS Indonesia)
  • DBS menilai laba perusahaan dan belanja modal AI menopang aset berisiko pada kuartal IV/2026, meski harga energi tinggi, imbal hasil obligasi naik, risiko geopolitik, dan ketidakpastian moneter berlanjut.
  • Investor disarankan mendiversifikasi portofolio serta menilai arus kas, utang, dan valuasi; fokus AI bergeser ke perusahaan yang meningkatkan produktivitas, margin, dan pendapatan tanpa capex besar.
  • DBS mempertahankan posisi netral pada ekuitas dan obligasi, tetapi menambah bobot saham AS serta Asia di luar Jepang, obligasi korporasi maju, emas, aset privat, dan hedge funds.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, FORTUNE – Pasar keuangan global memasuki kuartal IV/2026 dengan sejumlah faktor yang perlu dicermati investor. Harga energi masih berada di level tinggi, imbal hasil obligasi meningkat, ketegangan geopolitik kembali mengemuka, sementara arah kebijakan moneter masih menyisakan ketidakpastian.

Di tengah kondisi tersebut, aset berisiko dinilai masih mampu bertahan. Dalam laporan Insights DBS Chief Investment Office 4Q26, kinerja laba perusahaan yang tetap kuat serta berlanjutnya siklus belanja modal (capital expenditure/capex) untuk kecerdasan buatan (AI) menjadi faktor yang menopang momentum ekonomi.

Kondisi pasar yang dinamis membuat investor perlu lebih selektif dalam menyusun portofolio. Selain memperhatikan pergerakan harga saham, sejumlah indikator fundamental seperti kebutuhan pendanaan, arus kas bebas (free cash flow), tingkat utang, dan valuasi perusahaan turut menjadi pertimbangan.

DBS menyarankan diversifikasi lintas kelas aset sekaligus memperluas eksposur ke sektor di luar saham teknologi yang sebelumnya menjadi pendorong utama pasar.

Penguatan pasar saham pun mulai terlihat lebih merata. Sektor energi, kesehatan, dan keuangan menunjukkan perkembangan positif, sementara teknologi memasuki fase konsolidasi.

Meski demikian, DBS tidak melihat kondisi tersebut sebagai berakhirnya momentum AI. Fokus investor justru diperkirakan bergeser kepada perusahaan yang mampu menerjemahkan pemanfaatan AI menjadi produktivitas lebih tinggi, peningkatan margin, dan pertumbuhan pendapatan yang berkelanjutan.

Perusahaan yang mampu memanfaatkan AI tanpa membutuhkan belanja modal dalam jumlah besar juga menjadi salah satu area yang diperhatikan. Selain teknologi, DBS melihat peluang dari sektor yang memperoleh manfaat dari aktivitas pasar modal, ketahanan energi, dan peningkatan efisiensi operasional.

Suku bunga yang bertahan tinggi dalam periode lebih panjang menjadi salah satu tantangan dalam pengelolaan portofolio. Penerbitan obligasi pemerintah dalam jumlah besar, kebutuhan pembiayaan perusahaan teknologi berskala besar atau hyperscaler, inflasi yang belum sepenuhnya mereda, serta berkurangnya forward guidance dari Federal Reserve berpotensi membuat term premium dan volatilitas pasar kredit tetap tinggi.

Situasi tersebut meningkatkan pentingnya pemilihan instrumen pendapatan tetap. DBS Chief Investment Office memberikan perhatian pada obligasi dengan durasi sekitar 5-7 tahun, termasuk penerbit berperingkat BBB/BB yang ditopang arus kas kuat, tingkat utang yang terkendali, dan kapasitas melakukan pengurangan utang.

Portofolio juga dapat dilengkapi dengan Treasury Inflation-Protected Securities (TIPS), agency mortgage-backed securities (MBS), serta saham tertentu di sektor keuangan.

  1. Emas, AI, dan aset alternatif jadi sorotan

    Ilustrasi tangan manusia berinteraksi dengan teknologi AI digital
    Ilustrasi penggunaan Artificial Intelligence dalam dunia teknologi."

    Ketidakpastian inflasi dan geopolitik turut menjaga peran aset alternatif dalam diversifikasi portofolio. Emas menjadi salah satu instrumen yang mendapat perhatian karena berpotensi didukung pembelian bank sentral, permintaan dari Asia, kekhawatiran terhadap keberlanjutan fiskal, serta tren investasi yang berkaitan dengan pelemahan nilai mata uang.

    DBS juga melihat aset privat dan hedge funds sebagai alternatif untuk menambah diversifikasi, pendapatan, dan potensi imbal hasil.

    Pada pasar privat, sejumlah peluang yang disoroti meliputi transaksi pasar sekunder (secondaries), co-investments, pembiayaan senior beragunan, pembiayaan berbasis aset, dan infrastruktur dengan pendapatan berbasis kontrak.

    Adapun pada hedge funds, DBS mencermati strategi relative value, equity long-short dengan eksposur bersih rendah, strategi makro diskresioner, serta platform multi-strategi.

    Untuk pasar saham secara keseluruhan, DBS Chief Investment Office masih mengambil posisi relatif netral terhadap ekuitas. Namun, dalam cakrawala 12 bulan, perhatian diarahkan pada saham Amerika Serikat serta pasar Asia di luar Jepang.

    Di AS, siklus belanja modal untuk AI dinilai masih menopang investasi dan kinerja laba perusahaan. Di sisi lain, investor semakin memperhatikan besarnya capex perusahaan teknologi, penerbitan utang, serta perkembangan free cash flow.

    DBS turut melihat peluang pada perusahaan pengguna AI (AI adopters) yang dapat meningkatkan produktivitas melalui teknologi tersebut tanpa menanggung kebutuhan belanja modal sebesar perusahaan yang membangun infrastruktur AI.

    Untuk Asia di luar Jepang, Tiongkok, Taiwan, dan Singapura menjadi pasar yang disoroti, dengan kombinasi eksposur terhadap pertumbuhan teknologi serta perusahaan yang memiliki karakteristik dividen.

    Di pasar obligasi, kebutuhan pendanaan ekspansi AI diperkirakan akan bersaing dengan kebutuhan pemerintah untuk membiayai defisit anggaran. Kondisi tersebut berpotensi menjaga imbal hasil obligasi di pasar negara maju tetap tinggi.

    Sementara itu, di sektor kredit, DBS menilai pemilihan penerbit semakin penting karena kesenjangan kinerja antarperusahaan melebar. Segmen BBB/BB menjadi salah satu yang diperhatikan, terutama perusahaan dengan aset kuat, arus kas solid, dan kemampuan melakukan deleveraging.

    DBS memperkirakan ekonomi AS masih ditopang konsumsi, pasar tenaga kerja, produktivitas, serta investasi yang berhubungan dengan AI.

    Di Zona Euro, ketahanan ekonomi pada paruh pertama 2026 menjadi salah satu faktor yang mendukung revisi proyeksi pertumbuhan. Namun, risiko geopolitik dan harga energi tetap menjadi perhatian.

    Untuk Jepang, DBS menaikkan proyeksi pertumbuhan dengan mempertimbangkan kebijakan fiskal serta rencana pemangkasan pajak konsumsi. Bank of Japan juga diperkirakan melanjutkan proses normalisasi kebijakan moneternya.

    Sementara di Asia, ekspor teknologi dan investasi manufaktur menjadi salah satu penopang pertumbuhan. DBS memproyeksikan ekonomi Tiongkok tumbuh 4,5 persen pada 2026, meskipun permintaan domestik masih menghadapi tekanan.

    Dalam alokasi aset kuartal IV/2026, DBS Chief Investment Office mempertahankan posisi netral terhadap ekuitas dan pendapatan tetap.

    Untuk horizon tiga bulan, saham Asia di luar Jepang, obligasi korporasi pasar negara maju, emas, aset privat, dan hedge funds masuk dalam kategori tambah bobot.

    Sebaliknya, saham Eropa dan obligasi pasar negara berkembang ditempatkan dalam kategori kurangi bobot. Kas juga berada dalam kategori yang sama.

    Untuk horizon 12 bulan, DBS mempertahankan tambah bobot pada saham AS dan saham Asia di luar Jepang. Posisi tersebut juga berlaku untuk obligasi korporasi pasar negara maju, emas, aset privat, dan hedge funds.

    Adapun saham Eropa serta obligasi pasar negara berkembang tetap berada dalam kategori kurangi bobot.

    Secara keseluruhan, DBS menilai dinamika pasar pada kuartal IV/2026 membutuhkan strategi yang fleksibel. Keseimbangan portofolio, ketelitian dalam memilih instrumen, serta tema investasi yang memiliki dukungan terhadap prospek laba menjadi sejumlah faktor yang perlu diperhatikan dalam investasi pada masa mendatang.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More