Fokus Efisiensi Operasional, Bank Neo Commerce Cetak Laba Rp430,98 Miliar

- Bank Neo Commerce membukukan laba bersih Rp430,98 miliar hingga September 2026, turun 7,3% secara tahunan, meski pendapatan bunga bersih naik menjadi Rp1,69 triliun.
- Penyaluran kredit turun 10,14% menjadi Rp6,73 triliun karena seleksi debitur dan risiko, sementara NPL gross membaik ke 2,78% serta NIM tercatat 14,30%.
- DPK mencapai Rp11,86 triliun dengan rasio CASA naik menjadi 33,05%; total aset Rp17,19 triliun, sedangkan CAR meningkat menjadi 53,40% dan modal inti Rp4,35 triliun.
Jakarta, FORTUNE – PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB) membukukan laba bersih setelah pajak senilai Rp430,98 miliar per September 2026.
Capaian ini mengalami penurunan 7,3 persen secara tahunan (year-on-year/YoY). Pjs Direktur Utama Bank Neo Commerce, Adrian Soewardjo, di Jakarta, Selasa (3/11), menyatakan perseroan mengutamakan efisiensi operasional dan pengelolaan risiko perbankan.
Penurunan laba terjadi bersamaan dengan peningkatan pendapatan bunga bersih (Net Interest Income/NII) menjadi Rp1,69 triliun.
Pendapatan berbasis komisi (Fee Based Income/FBI) turut mengalami peningkatan 5,67 persen menjadi Rp90,55 miliar dari posisi tahun sebelumnya Rp85,69 miliar. Adrian menyebut raihan tersebut mencerminkan optimalisasi produk dan layanan perbankan perseroan.
Dari sisi intermediasi, BBYB menyalurkan kredit Rp6,73 triliun, atau mengalami penurunan 10,14 persen (YoY). Adrian menjelaskan perseroan mengedepankan seleksi debitur, profil risiko, serta potensi imbal hasil. Net Interest Margin (NIM) perseroan tercatat 14,30 persen.
Rasio Non Performing Loan (NPL) Gross berada pada posisi 2,78 persen, membaik dari posisi September 2025 pada level 2,92 persen. NPL Nett adalah 0,27 persen.
“Kami terus mempertahankan profitabilitas, meningkatkan efisiensi, menjaga kualitas aset, serta memastikan bahwa setiap langkah pengembangan bisnis dilakukan secara terukur dan dengan prinsip kehati-hatian. Kami percaya bahwa fondasi yang semakin kuat akan memberikan kemampuan bagi BNC untuk tumbuh secara lebih sehat dan berkelanjutan ke depannya," kata Adrian.
Penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp11,86 triliun. Porsi Current Account Saving Account (CASA) mengalami peningkatan 1,33 persen (YoY), mendorong rasio CASA dari 28,40 persen menjadi 33,05 persen. Dengan capaian tersebut, total aset perseroan mencapai Rp17,19 triliun.
Terkait permodalan, Capital Adequacy Ratio (CAR) perseroan mencapai 53,40 persen, dari 46,73 persen pada tahun sebelumnya. Modal inti perseroan bertambah 10,41 persen menjadi Rp4,35 triliun dari Rp3,94 triliun. Penambahan modal tersebut memberikan ruang bagi perseroan menjaga ketahanan usaha dan mengantisipasi risiko perbankan.
"Kami melihat bahwa disiplin dalam pengelolaan portofolio kredit, penguatan proses operasional, serta pengembangan sumber pendapatan yang semakin beragam merupakan elemen penting untuk membangun bisnis yang lebih tangguh,” ujar Adrian.





















