Indeks Bisnis UMKM Kuartal II-2026 Terjaga, Ditopang Optimisme Prospek Usaha

Indeks Bisnis UMKM kuartal II-2026 berada pada level ekspansif 102,1, didukung pertumbuhan ekonomi, panen raya, harga pertanian, proyek berjalan, cuaca, dan bantuan sosial.
Mayoritas sektor UMKM mencatat indeks di atas 100; pertanian, konstruksi, dan pertambangan menguat, sementara industri pengolahan serta jasa tetap ekspansif namun melambat.
Prospek kuartal III-2026 tetap ekspansif meski moderat, ditopang proyek pemerintah-swasta dan investasi UMKM; pelemahan daya beli serta El Nino menjadi risiko, terutama bagi pertanian.
Jakarta, FORTUNE – Indeks Bisnis UMKM periode kuartal II-2026 yang diluncurkan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) masih menunjukkan fase ekspansif, dengan Indeks Bisnis UMKM mencapai 102,1.
Di tengah dinamika daya beli, pelaku UMKM masih menunjukkan optimisme terhadap prospek usahanya ke depan.
Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, mengatakan terjaganya aktivitas bisnis UMKM pada triwulan kedua lalu ditopang oleh sejumlah faktor. Mulai dari perekonomian yang tetap tumbuh positif, panen raya tanaman pangan dan harga produk pertanian yang baik, mulai bergulirnya proyek pemerintah dan swasta, kondisi cuaca yang menjanjikan, hingga penyaluran bantuan sosial yang tetap agresif.
“Kondisi ini menunjukkan pentingnya terus menjaga daya beli masyarakat, sekaligus menciptakan ruang bagi UMKM untuk berkembang,” kata Hery melalui keterangan resmi di Jakarta, Kamis (17/9).
Dari sisi sektoral, pada kuartal II-2026 mayoritas sektor UMKM masih menyaksikan indeks di atas 100. Sektor pertanian, konstruksi, dan pertambangan mengalami penguatan, didorong oleh momentum panen raya dan harga jual produk pertanian yang baik, serta mulai bergulirnya proyek pemerintah dan swasta yang didukung kondisi cuaca mendukung.
Sementara itu, kata Hery, kinerja sektor lainnya juga menunjukkan perkembangan yang lebih moderat. Industri pengolahan dan jasa-jasa lainnya masih mengalami fase ekspansif, meskipun mengalami perlambatan. Kondisi tersebut terutama dipengaruhi oleh normalisasi permintaan pasca-HBKN, pelemahan daya beli masyarakat, kenaikan harga barang input dan biaya operasional, serta persaingan usaha yang semakin ketat.
Prospek bisnis UMKM pada kuartal III-2026 diperkirakan tetap berada pada fase ekspansif, meskipun lebih moderat. Hery menyebut prospek ke depan terutama ditopang oleh peningkatan proyek pemerintah dan swasta yang akan memberikan spillover effect terhadap sektor lainnya, serta perekonomian yang tetap tumbuh.
“Di sisi lain, pelemahan daya beli dan El Nino menjadi faktor risiko yang perlu dicermati, khususnya bagi sektor pertanian,” ujar Hery.
Optimisme terhadap prospek usaha tersebut juga tecermin pada aktivitas investasi UMKM yang tetap tumbuh dengan indeks di atas 100. Hal ini menunjukkan bahwa di tengah moderasi aktivitas bisnis, pelaku UMKM masih yakin dengan prospek ekonomi dan keberlanjutan usahanya.
Meski aktivitas pada kuartal II-2026 mengalami moderasi, prospek bisnis UMKM pada kuartal III-2026 masih menunjukkan arah yang positif. Aktivitas bisnis pada semua sektor diperkirakan tetap berada pada fase ekspansif, meskipun dengan laju lebih moderat. Sektor pertambangan dan konstruksi diperkirakan menjadi penopang seiring kian bertambahnya proyek pemerintah dan swasta yang bergulir.



















