Jakarta, FORTUNE – Konflik geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran tidak hanya mengganggu ekonomi global secara keseluruhan, melainkan dikhawatirkan akan mengganggu kinerja dari perbankan nasional.
Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede memandang, ketika risiko konflik naik, investor cenderung mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman. Sehingga, negara berkembang seperti Indonesia bisa menghadapi tekanan pada nilai tukar, arus modal, dan biaya pendanaan pemerintah maupun korporasi.
“Dampaknya biasanya berantai yakni rupiah melemah, imbal hasil SBN naik, biaya bunga dan biaya dana perbankan terdorong tinggi, lalu investasi dan konsumsi yang sensitif terhadap suku bunga ikut tertahan,” kata Josua saat dihubungi Fortune Indonesia di Jakarta, Senin (19/1).
Ia menilai, dengan naiknya bunga & biaya dana dikhawatirkan bakal memperlambat penyaluran kredit. Pada saat yang sama, Bank Indonesia (BI) diharapkan dapat mengantisipasi dampak negatif tersebut dengan memperkuat koordinasi dengan perbankan dan korporasi agar kebutuhan valuta asing untuk impor energi dan pembayaran utang tidak menumpuk.
“Pada waktu yang sama, BI juga perlu mendorong praktik pengelolaan risiko kurs, serta menjaga komunikasi kebijakan yang konsisten agar pelaku usaha tidak membentuk ekspektasi inflasi yang terlalu tinggi,” kata Josua.
