Kredit ‘Nganggur’ di Bank Rp2.576 Triliun, BI Dorong Penyaluran ke Sektor Prioritas

- Bank Indonesia mencatat dana kredit menganggur mencapai Rp2.576 triliun atau 22,41 persen dari total plafon nasional, menandakan likuiditas perbankan tinggi namun belum terserap optimal oleh dunia usaha.
- Untuk menggerakkan dana tersebut, BI menyalurkan stimulus Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial senilai Rp418,1 triliun melalui lending channel dan interest rate channel ke sektor-sektor prioritas seperti UMKM dan industri.
- Meski sebagian kredit belum ditarik, penyaluran kredit tumbuh 11,51 persen pada Mei 2026 dengan lonjakan terbesar di kredit investasi 21,95 persen; BI memproyeksikan pertumbuhan kredit tahun ini 8–12 persen.
Jakarta, FORTUNE – Bank Indonesia (BI) mengungkap adanya dana kredit yang masih 'menganggur' alias fasilitas pembiayaan yang belum digunakan (undisbursed loan) di perbankan sebesar Rp2.576 triliun. Angka jumbo tersebut melambangkan 22,41 persen dari total plafon kredit yang tersedia secara nasional.
Fenomena ini mencerminkan kapasitas likuiditas dan permodalan perbankan domestik yang sebenarnya melimpah, tapi penyerapannya oleh dunia usaha belum optimal.
Guna mengaktifkan dana mengendap tersebut, bank sentral kini gencar mendorong perbankan mengakselerasi penyaluran kredit ke sejumlah sektor prioritas. Target utamanya mencakup sektor pertanian, industri, hilirisasi, ekonomi kreatif, konstruksi, real estate, perumahan, serta kelompok UMKM, koperasi, dan pembiayaan berkelanjutan.
“Kebijakan makroprudensial longgar terus ditempuh melalui optimalisasi kebijakan insentif likuiditas makroprudensial untuk mendorong peningkatan kredit perbankan ke sektor prioritas,” tegas Gubernur BI, Perry Warjiyo, dalam keterangan resmi yang dikutip Jumat (19/6).
Sebagai langkah konkret memobilisasi dana menganggur tersebut, BI telah menggelontorkan stimulus Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) sebesar Rp418,1 triliun hingga pekan pertama Juni 2026. Distribusi stimulus ini dialokasikan melalui dua jalur utama: lending channel sebesar Rp355,6 triliun dan interest rate channel sebesar Rp62,5 triliun.
Berdasarkan klasifikasi kelembagaan, bank BUMN memimpin penyerapan insentif KLM dengan porsi Rp209,6 triliun. Disusul kemudian oleh Bank Umum Swasta Nasional (BUSN) senilai Rp169,9 triliun, Bank Pembangunan Daerah (BPD) sebesar Rp30,8 triliun, serta Kantor Cabang Bank Asing (KCBA) yang menyerap Rp7,8 triliun.
Meski tumpukan komitmen kredit belum ditarik sepenuhnya, aktivitas intermediasi perbankan tetap menunjukkan tren ekspansif. Pada Mei 2026, realisasi kredit secara keseluruhan tumbuh 11,51 persen (YoY), menguat signifikan dibandingkan dengan capaian April 2026 yang tumbuh 9,98 persen (YoY).
Pertumbuhan ini dipicu oleh lonjakan kredit investasi yang meroket hingga 21,95 persen (YoY). Sementara itu, kredit modal kerja tumbuh 8,09 persen (YoY) dan kredit konsumsi naik 5,89 persen (YoY).
Melalui berbagai intervensi kebijakan tersebut, bank sentral optimistis likuiditas yang mengendap akan berangsur terserap pasar hingga akhir tahun.
“Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan kredit 2026 tetap terjaga pada kisaran 8 hingga 12 persen,” kata Perry.

















