Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kredit Perbankan Rp8.759 Triliun, Dipicu Kredit Investasi Korporasi
ilustrasi kredit kendaraan (freepik.com/xb100)
  • Penyaluran kredit perbankan mencapai Rp8.759 triliun pada Mei 2026, tumbuh 10,8 persen (YoY), terutama didorong oleh lonjakan Kredit Investasi korporasi yang naik 20,5 persen menjadi Rp2.673 triliun.

  • Kredit Modal Kerja meningkat 7,9 persen (YoY) berkat aktivitas di sektor pertambangan dan industri pengolahan, sementara Kredit Konsumsi tumbuh 5,8 persen dengan dorongan dari kredit rumah dan multiguna.

  • Sektor properti mencatat performa kuat dengan pertumbuhan kredit 17,2 persen (YoY) dipicu lonjakan kredit konstruksi hingga 44,6 persen, sementara suku bunga kredit rata-rata tetap stabil di level 8,70 persen.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Pertumbuhan kredit perbankan yang mencapai Rp8.759 triliun pada Mei 2026 mencerminkan dinamika ekonomi yang semakin bergairah, terutama melalui peningkatan investasi korporasi dan ekspansi sektor strategis seperti keuangan, real estat, serta industri pengolahan. Stabilnya suku bunga kredit di level 8,70 persen menunjukkan bahwa akselerasi pembiayaan ini berlangsung dalam kondisi pasar yang tetap terkendali dan sehat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNEBank Indonesia (BI) mencatat akselerasi signifikan pada penyaluran kredit perbankan yang menembus Rp8.759 triliun pada Mei 2026. Realisasi ini tumbuh 10,8 persen secara tahunan (year-on-year/YoY), memperlihatkan tren peningkatan dibandingkan dengan pertumbuhan pada April 2026 yang mencapai 9,4 persen (YoY).

Lonjakan ini terutama didorong oleh masifnya penyerapan pada segmen Kredit Investasi (KI) oleh debitur korporasi.

Akselerasi pembiayaan ini ditopang kuat oleh pertumbuhan KI yang melesat hingga 20,5 persen (YoY), dengan nilai total mencapai Rp2.673 triliun.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan tingginya permintaan kredit investasi ini dipicu oleh pergerakan positif pada sejumlah sektor strategis, seperti sektor keuangan, real estat, jasa perusahaan, serta pengangkutan dan komunikasi.

“Peningkatan penyaluran kredit terutama didorong oleh penyaluran kredit kepada debitur korporasi,” kata Ramdan melalui keterangan resmi yang dikutip di Jakarta, Selasa (23/6).

Sejalan dengan fungsi investasi, aspek operasional dunia usaha juga menunjukkan tren ekspansif. Segmen Kredit Modal Kerja (KMK) pada Mei 2026 membukukan pertumbuhan 7,9 persen (YoY). Geliat KMK ini didominasi oleh aktivitas pembiayaan pada sektor pertambangan dan penggalian, serta sektor industri pengolahan dan sejenisnya.

Di sisi lain, Kredit Konsumsi (KK) mencatatkan pertumbuhan 5,8 persen (YoY), melanjutkan tren pertumbuhan dari April 2026 yang sebesar 6,0 persen (YoY).

Perkembangan pada sektor konsumsi ini ditopang oleh kinerja kredit kepemilikan rumah yang tumbuh 4,6 persen (YoY) serta kredit multiguna yang ekspansif sebesar 8,2 persen (YoY). Namun, kredit kendaraan bermotor masih tertahan pada zona negatif dengan kontraksi -9,4 persen (YoY).

Secara lebih spesifik, penyaluran kredit ke sektor properti pada Mei 2026 mencatatkan performa impresif dengan pertumbuhan 17,2 persen (YoY). Kenaikan ini ditopang oleh pertumbuhan kredit KPR dan KPA sebesar 4,7 persen (YoY) serta kredit konstruksi yang melonjak tajam hingga 44,6 persen (YoY).

Selain itu, kredit real estat juga merangkak naik menjadi 14,5 persen (YoY), lebih tinggi dari capaian bulan sebelumnya sebesar 13,9 persen (YoY).

Di tengah ekspansi kredit yang agresif, bank sentral memastikan biaya pinjaman di pasar relatif terjaga. BI melaporkan rata-rata tertimbang suku bunga kredit pada Mei 2026 mencapai 8,70 persen. Angka tersebut mencerminkan kondisi yang relatif stabil jika dibandingkan dengan posisi suku bunga kredit pada bulan sebelumnya.

Editorial Team

Related Article