Jakarta, FORTUNE– PT Bank QNB Indonesia Tbk (QNB) mengantongi laba bersih Rp29,6 miliar atau melonjak 178 persen (YoY) hingga Juni 2026.
Direktur Utama QNB Indonesia, Nick Groene, menyatakan pihaknya menjalankan strategi pertumbuhan seimbang dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaan risiko.
“Di tengah ketidakpastian global dan domestik, kami tetap fokus untuk tumbuh lebih kuat, mendorong bisnis yang lebih sehat melalui penerapan manajemen risiko yang lebih hati-hati, penyaluran pembiayaan yang lebih berkelanjutan, serta membangun relasi jangka panjang dengan para Nasabah,” ujar Nick melalui keterangan resmi di Jakarta, Selasa (18/8).
Pada sisi penghimpunan dana, bank yang memiliki induk perusahaan di Qatar ini mencatatkan Dana Pihak Ketiga (DPK) senilai Rp8,5 triliun, tumbuh 4 persen dari posisi akhir 2025 senilai Rp8,1 triliun, yang mempertegas posisi likuiditas bank.
Sementara itu, pinjaman bruto tumbuh 2 persen (YtD) mencapai Rp10,0 triliun dari Rp9,8 triliun pada akhir 2025 yang mencerminkan strategi bank dalam mendukung sektor korporasi di Indonesia di tengah kondisi dunia usaha yang cenderung lebih berhati-hati.
Pertumbuhan ini juga diiringi oleh perbaikan kualitas portofolio. Rasio kredit bermasalah (nonperforming loan) bank membaik ke level 1,84 persen pada semester I-2026, membaik dari 3,31 persen pada semester I-2025 yang mencerminkan kehati-hatian.
Selama periode enam bulan pertama 2026, QNB Indonesia juga mempertahankan fondasi keuangan yang kuat dengan rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) tetap berada pada level 53,85 persen, memberikan ruang yang memadai untuk mendukung pertumbuhan bisnis ke depan.
Sementara itu, rasio-rasio likuiditas lainnya juga masih berada di atas ketentuan minimum regulator dengan Liquidity Coverage Ratio mencapai 144,33 persen dan Net Stable Funding Ratio mencapai 129,83 persen.
Dengan berbagai kondisi ini, total aset bank tumbuh 9 persen (YtD) mencapai Rp14,4 triliun pada 30 Juni 2026.
